GMF AeroAsia targetkan ekuitas berbalik positif
Jumat, 28 Juni 2024 20:07 WIB
Tangkapan layar jajaran direksi PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) atau GMF AeroAsia dalam Konferensi Pers setelah Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dan Luar Biasa di Jakarta, Jumat (28/6/2024). ANTARA/ Muhammad Heriyanto
Jakarta (ANTARA) - PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) atau GMF AeroAsia menargetkan ekuitas dari yang saat ini negatif dapat berbalik menjadi positif pada 2025.
President & CEO GMF AeroAsia Andi Fahrurrozi mengatakan, strategi perseroan untuk memperbaiki ekuitas telah dilakukan mulai pertengahan tahun ini melalui adanya beberapa program.
“Sebelum RUPST tahun depan target ekuitas kita sudah berbalik. Jadi, sudah ada beberapa inisiatif dari kita yang sudah mendapat dukungan dari pemegang saham dan sudah mulai berjalan. Dan hasilnya mungkin dalam waktu dekat akan mulai terlihat progresnya untuk perbaikan ekuitas,” ujar Andi dalam Konferensi Pers setelah Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dan Luar Biasa di Jakarta, Jumat.
Dengan posisi ekuitas negatif tersebut, Andi menjelaskan saat ini perseroan masih akan mengalokasikan laba bersih tahun buku 2023 sebagai saldo ditahan.
“Laba masih kita tahan, karena masih ada akumulasi kerugian saldo laba yang negatif dan juga ekuitas masih negatif, sesuai Undang Undang (UU) perusahaan, kita tahan untuk perbaikan mengurangi saldo negatif,” ujar Andi.
Dengan demikian, sesuai dengan peraturan perusahaan, dalam agenda RUPST kali ini perseroan belum dapat membagikan dividen kepada pemegang saham. Pada 2023, perseroan membukukan laba bersih yang tumbuh 461,1 persen year on year (yoy) menjadi senilai 20,2 juta dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan sebelumnya senilai 3,6 juta dolar AS pada 2022.
Laba bersih perseroan ditopang oleh pendapatan yang tumbuh 56,9 persen (yoy) dibandingkan tahun sebelumnya menjadi senilai 373,2 juta dolar AS pada 2023. Dalam kesempatan itu, Andi menjelaskan bahwa biaya bahan bakar yang tinggi, biaya infrastruktur yang mahal, serta menguatnya kurs dolar AS terhadap rupiah tetap menjadi tantangan utama industri aviasi di Indonesia.
Baca juga: Antisipasi penyebaran COVID-19, GMF disinfeksi puluhan pesawat
Baca juga: GMF mulai menggarap perawatan pesawat militer
Ia menjelaskan, saat ini dunia menghadapi situasi di mana perjalanan udara mengalami peningkatan yang signifikan, dan turut beriringan dengan meningkatnya jumlah masyarakat yang memiliki kebutuhan untuk melakukan perjalanan.
“Tingginya kebutuhan ini harus berhadapan dengan situasi jumlah pesawat yang beroperasi belum memadai dalam mengakomodasi seluruh kebutuhan tersebut. Kondisi ini menghadirkan urgensi bagi airlines untuk terus melakukan reaktivasi pesawat guna menjawab kebutuhan industri dan pesawat,” ujar Andi.
President & CEO GMF AeroAsia Andi Fahrurrozi mengatakan, strategi perseroan untuk memperbaiki ekuitas telah dilakukan mulai pertengahan tahun ini melalui adanya beberapa program.
“Sebelum RUPST tahun depan target ekuitas kita sudah berbalik. Jadi, sudah ada beberapa inisiatif dari kita yang sudah mendapat dukungan dari pemegang saham dan sudah mulai berjalan. Dan hasilnya mungkin dalam waktu dekat akan mulai terlihat progresnya untuk perbaikan ekuitas,” ujar Andi dalam Konferensi Pers setelah Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dan Luar Biasa di Jakarta, Jumat.
Dengan posisi ekuitas negatif tersebut, Andi menjelaskan saat ini perseroan masih akan mengalokasikan laba bersih tahun buku 2023 sebagai saldo ditahan.
“Laba masih kita tahan, karena masih ada akumulasi kerugian saldo laba yang negatif dan juga ekuitas masih negatif, sesuai Undang Undang (UU) perusahaan, kita tahan untuk perbaikan mengurangi saldo negatif,” ujar Andi.
Dengan demikian, sesuai dengan peraturan perusahaan, dalam agenda RUPST kali ini perseroan belum dapat membagikan dividen kepada pemegang saham. Pada 2023, perseroan membukukan laba bersih yang tumbuh 461,1 persen year on year (yoy) menjadi senilai 20,2 juta dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan sebelumnya senilai 3,6 juta dolar AS pada 2022.
Laba bersih perseroan ditopang oleh pendapatan yang tumbuh 56,9 persen (yoy) dibandingkan tahun sebelumnya menjadi senilai 373,2 juta dolar AS pada 2023. Dalam kesempatan itu, Andi menjelaskan bahwa biaya bahan bakar yang tinggi, biaya infrastruktur yang mahal, serta menguatnya kurs dolar AS terhadap rupiah tetap menjadi tantangan utama industri aviasi di Indonesia.
Baca juga: Antisipasi penyebaran COVID-19, GMF disinfeksi puluhan pesawat
Baca juga: GMF mulai menggarap perawatan pesawat militer
Ia menjelaskan, saat ini dunia menghadapi situasi di mana perjalanan udara mengalami peningkatan yang signifikan, dan turut beriringan dengan meningkatnya jumlah masyarakat yang memiliki kebutuhan untuk melakukan perjalanan.
“Tingginya kebutuhan ini harus berhadapan dengan situasi jumlah pesawat yang beroperasi belum memadai dalam mengakomodasi seluruh kebutuhan tersebut. Kondisi ini menghadirkan urgensi bagi airlines untuk terus melakukan reaktivasi pesawat guna menjawab kebutuhan industri dan pesawat,” ujar Andi.
Pewarta : Muhammad Heriyanto
Editor : I Komang Suparta
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Garuda futsal tantang Vietnam malam ini, Berikut jadwal perempat final Piala Asia Futsal 2026
03 February 2026 17:51 WIB
Presiden Prabowo, petinggi Embraer diskusi bahas teknologi industri penerbangan
03 February 2026 5:40 WIB
Terpopuler - Ekonomi Bisnis
Lihat Juga
Perumda Surya Sembada Surabaya pastikan layanan air optimal saat cuaca ekstrem dan Lebaran
17 March 2026 16:19 WIB
Harga emas Antam Selasa hari ini turun jadi Rp2,988 juta/gr, Selasa 17 Maret 2026
17 March 2026 10:25 WIB
Bank NTB Syariah meluncurkan RIMO, aplikasi mobile banking berbasis identitas lokal
17 March 2026 6:16 WIB