Orang Indonesia favoritkan aplikasi perpesanan
Jumat, 23 Agustus 2024 5:58 WIB
Country Director Meta Indonesia Pieter Lydian menyampaikan tren perpesanan bisnis dalam acara WhatsApp Business Summit 2024 di Jakarta, Kamis (22/8/2024). (ANTARA/Livia Kristianti)
Jakarta (ANTARA) - Country Director Meta Indonesia Pieter Lydian menyampaikan aplikasi perpesanan instan menjadi platform favorit yang digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk berkomunikasi dengan bisnis berkaca dari studi terbaru yang dilakukan oleh pihaknya.
Temuan Meta tersebut menurut Peter menguatkan studi lainnya dari perusahaan analisis pemasaran, Kantar, yang pada Maret 2024 merilis "Riset Penggunaan Perpesanan Bisnis" dan mengungkap bahwa 90 persen orang dewasa di Indonesia yang menggunakan internet setidaknya mengirimkan pesan kepada sebuah bisnis sekali dalam seminggu.
"Sebanyak 87 persen konsumen di Indonesia ternyata lebih memilih perpesanan sebagai cara utama untuk berkomunikasi dengan bisnis,maka penting bagi para pelaku bisnis untuk memanfaatkan platform perpesanan dalam berinteraksi dengan konsumen modern," kata Pieter dalam acara WhatsApp Business Summit 2024 di Jakarta, Kamis.
Hal tersebut menjadi menarik karena temuan Kantar itu mengungkap bahwa kebiasaan orang Indonesia itu melampaui rata-rata global yang mencapai 79,4 persen dalam hal mengirim pesan ke bisnis.
Studi itu dilakukan Meta bersama dengan Boston Consulting Group (BCG) dengan judul "Survei BCG & Meta tentang Perpesanan Bisnis (Mei 2024)" melibatkan 400 bisnis baik dari skala kecil hingga besar di dalam studi ini.
Berkaca dari hal itu maka Pieter merekomendasikan agar para pelaku usaha di Indonesia bisa menangkap tren ini dan menjadikan aplikasi perpesanan sebagai bagian dari solusi komunikasi bisnis mengoptimalkan usahanya.
"Bisnis kalau ingin memenangkan konsumen ya harus diembrace ini, harus dirangkul (metode komunikasi dengan perpesanan)," kata Pieter.
Angka tersebut menguatkan temuan Kantar pada Maret 2024 dalam "Riset Penggunaan Perpesanan Bisnis" yang mengungkap bahwa 90 persen orang dewasa di Indonesia yang menggunakan internet setidaknya mengirimkan pesan kepada sebuah bisnis sekali dalam seminggu.
Fakta tersebut menarik karena ternyata temuan Kantar itu mengungkap bahwa kebiasaan orang Indonesia itu melampaui rata-rata global yang mencapai 79,4 persen dalam hal mengirim pesan ke bisnis.
Maka dari itu, Pieter merekomendasikan agar para pelaku usaha di Indonesia bisa menangkap tren ini dan menjadikan aplikasi perpesanan sebagai bagian dari solusi komunikasi bisnis mengoptimalkan usahanya.
"Bisnis kalau ingin memenangkan konsumen ya harus diembrace ini, harus dirangkul (metode komunikasi dengan perpesanan)," kata Pieter.
Lebih lanjut agar bisa optimal dalam memanfaatkan aplikasi perpesanan untuk meningkatkan bisnis, Pieter menyebutkan agar para pelaku usaha bisa memaksimalkannya dengan memanfaatkan teknologi yang ada.
Salah satu teknologi yang bisa dimanfaatkan untuk mengoptimalkan perpesanan mendukung komunikasi pada bisnis ialah kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI).
Ia pun menyebutkan dalam studi Meta bersama BCG ditemukan sebanyak 82 persen pelaku usaha sudah memanfaatkan AI sebagai chatbot untuk mengoptimalkan perpesanan bisnisnya dengan membuat mulus proses komunikasi kepada konsumen sehingga berdampak meningkatkan skala usaha.
Baca juga: Tiga fitur baru WhatsApp disiapkan buat pemasaran bisnis
Baca juga: Kemenkominfo menggunakan AI untuk bantu berantas judi online
Pieter mencontohkan salah satu contoh pemanfaatan AI dalam perpesanan bisnis itu ialah membantu komunikasi dengan bahasa yang berbeda antara pelanggan dan pemilik bisnis.
"Saya ambil contoh, ada konsumen misalnya dia bertanya pakai Bahasa Jawa dengan memanfaatkan AI maka pelaku bisnis bisa lebih mudah berkomunikasi dengan bantuan alih bahasa, ini membantu pelaku bisnis untuk melakukan ekspansi dengan strategi hyperlocal. Ini baru tip of iceberg. Perjalanan AI baru dimulai dan ke depannya akan mengubah konstruksi kita berinteraksi antara penjual dan konsumen," kata Pieter.
Temuan Meta tersebut menurut Peter menguatkan studi lainnya dari perusahaan analisis pemasaran, Kantar, yang pada Maret 2024 merilis "Riset Penggunaan Perpesanan Bisnis" dan mengungkap bahwa 90 persen orang dewasa di Indonesia yang menggunakan internet setidaknya mengirimkan pesan kepada sebuah bisnis sekali dalam seminggu.
"Sebanyak 87 persen konsumen di Indonesia ternyata lebih memilih perpesanan sebagai cara utama untuk berkomunikasi dengan bisnis,maka penting bagi para pelaku bisnis untuk memanfaatkan platform perpesanan dalam berinteraksi dengan konsumen modern," kata Pieter dalam acara WhatsApp Business Summit 2024 di Jakarta, Kamis.
Hal tersebut menjadi menarik karena temuan Kantar itu mengungkap bahwa kebiasaan orang Indonesia itu melampaui rata-rata global yang mencapai 79,4 persen dalam hal mengirim pesan ke bisnis.
Studi itu dilakukan Meta bersama dengan Boston Consulting Group (BCG) dengan judul "Survei BCG & Meta tentang Perpesanan Bisnis (Mei 2024)" melibatkan 400 bisnis baik dari skala kecil hingga besar di dalam studi ini.
Berkaca dari hal itu maka Pieter merekomendasikan agar para pelaku usaha di Indonesia bisa menangkap tren ini dan menjadikan aplikasi perpesanan sebagai bagian dari solusi komunikasi bisnis mengoptimalkan usahanya.
"Bisnis kalau ingin memenangkan konsumen ya harus diembrace ini, harus dirangkul (metode komunikasi dengan perpesanan)," kata Pieter.
Angka tersebut menguatkan temuan Kantar pada Maret 2024 dalam "Riset Penggunaan Perpesanan Bisnis" yang mengungkap bahwa 90 persen orang dewasa di Indonesia yang menggunakan internet setidaknya mengirimkan pesan kepada sebuah bisnis sekali dalam seminggu.
Fakta tersebut menarik karena ternyata temuan Kantar itu mengungkap bahwa kebiasaan orang Indonesia itu melampaui rata-rata global yang mencapai 79,4 persen dalam hal mengirim pesan ke bisnis.
Maka dari itu, Pieter merekomendasikan agar para pelaku usaha di Indonesia bisa menangkap tren ini dan menjadikan aplikasi perpesanan sebagai bagian dari solusi komunikasi bisnis mengoptimalkan usahanya.
"Bisnis kalau ingin memenangkan konsumen ya harus diembrace ini, harus dirangkul (metode komunikasi dengan perpesanan)," kata Pieter.
Lebih lanjut agar bisa optimal dalam memanfaatkan aplikasi perpesanan untuk meningkatkan bisnis, Pieter menyebutkan agar para pelaku usaha bisa memaksimalkannya dengan memanfaatkan teknologi yang ada.
Salah satu teknologi yang bisa dimanfaatkan untuk mengoptimalkan perpesanan mendukung komunikasi pada bisnis ialah kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI).
Ia pun menyebutkan dalam studi Meta bersama BCG ditemukan sebanyak 82 persen pelaku usaha sudah memanfaatkan AI sebagai chatbot untuk mengoptimalkan perpesanan bisnisnya dengan membuat mulus proses komunikasi kepada konsumen sehingga berdampak meningkatkan skala usaha.
Baca juga: Tiga fitur baru WhatsApp disiapkan buat pemasaran bisnis
Baca juga: Kemenkominfo menggunakan AI untuk bantu berantas judi online
Pieter mencontohkan salah satu contoh pemanfaatan AI dalam perpesanan bisnis itu ialah membantu komunikasi dengan bahasa yang berbeda antara pelanggan dan pemilik bisnis.
"Saya ambil contoh, ada konsumen misalnya dia bertanya pakai Bahasa Jawa dengan memanfaatkan AI maka pelaku bisnis bisa lebih mudah berkomunikasi dengan bantuan alih bahasa, ini membantu pelaku bisnis untuk melakukan ekspansi dengan strategi hyperlocal. Ini baru tip of iceberg. Perjalanan AI baru dimulai dan ke depannya akan mengubah konstruksi kita berinteraksi antara penjual dan konsumen," kata Pieter.
Pewarta : Livia Kristianti
Editor : I Komang Suparta
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Bank Jago mencatat adopsi fitur kantong di aplikasi banking mencapai 40 juta
30 January 2026 5:31 WIB
KPU Dompu luncurkan Aplikasi SIAGUS dukung tata kelola administrasi digital
31 October 2025 21:45 WIB
Gemini AI aplikasi terpopuler berkat fitur pengeditan gambar AI Google DeepMind
17 September 2025 12:35 WIB
UMMAT luncurkan dua aplikasi strategis transformasi digital akademik dan riset
17 September 2025 8:16 WIB
PT Garda Wira Karya luncurkan aplikasi JAGRA, Dorong tata kelola bisnis keamanan digital
02 September 2025 12:40 WIB