Kerja sama Rusia-Korut berdampak stabilisasi di benua Eurasia
Sabtu, 2 November 2024 5:47 WIB
Arsip - Bendera nasional Rusia di Kremlin, Moskow, Rusia (6/1/2023). (ANTARA/Xinhua/Alexander Zemlianichenko Jr/aa)
Moskow (ANTARA) - Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, Jumat, mengatakan bahwa kerja sama Rusia-Korea Utara secara umum dan Perjanjian Kemitraan Strategis secara khusus memiliki "dampak stabilisasi" di benua Eurasia.
Berbicara dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Korea Utara Choe Son-hui di Moskow, Lavrov mengatakan perjanjian antara kedua negara menjadi dasar untuk memperdalam kerja sama di semua bidang.
"Ketentuan perjanjian tersebut telah dilaksanakan untuk kepentingan rakyat di negara kita, stabilitas di semenanjung Korea, di Asia Timur Laut, dan di benua Eurasia secara keseluruhan," katanya.
Baca juga: Jika menyerang Korsel, rezim Korut akan berakhir
Perjanjian Kemitraan Strategis Komprehensif ditandatangani selama kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Korea Utara pada 18-19 Juni. Dokumen tersebut mengatur pengembangan hubungan ekonomi, kerja sama militer-teknis, dan bantuan militer bersama jika terjadi serangan terhadap salah satu pihak.
Sementara itu, Choe yang tiba di Rusia, Rabu (30/10), untuk mengadakan "konsultasi strategis" dengan Lavrov, mengatakan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un menyuarakan dukungan dan bantuan yang kuat kepada Rusia dan rakyatnya, "tanpa menoleh ke belakang kepada siapa pun" sejak awal "operasi militer khusus" di Ukraina.
Baca juga: Korsel perluas dukungan proyek penyiaran radio
"Kim Jong-un menginstruksikan kami, tanpa menoleh ke belakang kepada siapa pun, untuk secara konsisten dan kuat mendukung dan membantu tentara Rusia dan rakyat Rusia dalam 'perang suci' mereka," katanya.
Choe Son-hui sependapat dengan Lavrov, mengatakan perjanjian antara kedua negara telah dipraktikkan, menekankan perlunya mengoordinasikan posisi di masa mendatang juga.
Menanggapi laporan baru-baru ini tentang peluncuran rudal uji Korea Utara, Choe mengatakan negaranya akan terus mengembangkan kemampuan pertahanannya.
Sumber: Anadolu
Berbicara dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Korea Utara Choe Son-hui di Moskow, Lavrov mengatakan perjanjian antara kedua negara menjadi dasar untuk memperdalam kerja sama di semua bidang.
"Ketentuan perjanjian tersebut telah dilaksanakan untuk kepentingan rakyat di negara kita, stabilitas di semenanjung Korea, di Asia Timur Laut, dan di benua Eurasia secara keseluruhan," katanya.
Baca juga: Jika menyerang Korsel, rezim Korut akan berakhir
Perjanjian Kemitraan Strategis Komprehensif ditandatangani selama kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Korea Utara pada 18-19 Juni. Dokumen tersebut mengatur pengembangan hubungan ekonomi, kerja sama militer-teknis, dan bantuan militer bersama jika terjadi serangan terhadap salah satu pihak.
Sementara itu, Choe yang tiba di Rusia, Rabu (30/10), untuk mengadakan "konsultasi strategis" dengan Lavrov, mengatakan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un menyuarakan dukungan dan bantuan yang kuat kepada Rusia dan rakyatnya, "tanpa menoleh ke belakang kepada siapa pun" sejak awal "operasi militer khusus" di Ukraina.
Baca juga: Korsel perluas dukungan proyek penyiaran radio
"Kim Jong-un menginstruksikan kami, tanpa menoleh ke belakang kepada siapa pun, untuk secara konsisten dan kuat mendukung dan membantu tentara Rusia dan rakyat Rusia dalam 'perang suci' mereka," katanya.
Choe Son-hui sependapat dengan Lavrov, mengatakan perjanjian antara kedua negara telah dipraktikkan, menekankan perlunya mengoordinasikan posisi di masa mendatang juga.
Menanggapi laporan baru-baru ini tentang peluncuran rudal uji Korea Utara, Choe mengatakan negaranya akan terus mengembangkan kemampuan pertahanannya.
Sumber: Anadolu
Pewarta : Cindy Frishanti Octavia
Editor : I Komang Suparta
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Internasional
Lihat Juga
Pemerintah China menerapkan kebijakan bebas visa untuk warga Inggris dan Kanada
16 February 2026 6:58 WIB
Wang Yi: Dialog lebih baik daripada konfrontasi, jelang pertemuan Xi-Trump
15 February 2026 12:01 WIB
Pemimpin Lai Ching-te: Jika Pemerintah China kuasai Taiwan, negara lain bisa jadi target
13 February 2026 3:42 WIB