Sekjen PBNU: Jokowi unggul atas Prabowo
Minggu, 20 Januari 2019 11:31 WIB
Arsip. Pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo (ketiga kiri) dan Ma'ruf Amin (kiri) bersalaman dengan pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto (kedua kanan) dan Sandiaga Uno (kanan) usai debat capres 2019, di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (17/1/2019). Debat tersebut mengangkat tema Hukum, HAM, Korupsi, dan Terorisme. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/pras)
Lombok Tengah, 19/1 (ANTARA News) - Sekretaris Jenderal PBNU Helmy Faishal Zaini menilai Jokowi-Ma`ruf Amin unggul dari Prabowo-Subianto-Sandiaga Uno pada debat pertama calon presiden dan wakil presiden yang diselenggarakan KPU.
"Kalau saya lihat pak Jokowi lebih unggul karena lebih berpengalaman di pemerintahan. Pernah jadi wali kota, jadi gubernur, dan Presiden. Penguasaan lapangan jauh lebih matang,"? ujarnya usai membuka Konferensi Wilayah (Konferwil) NU NTB di Pondok Pesantren Qomarul Huda, Bagu, Kabupaten Lombok Tengah, Sabtu.
Ia mengatakan, kalau ada sindiran Jokowi kebanyakan "nyontek" tulisan saat debat, menurut Helmi, itu adalah hal yang biasa, agar dalam menyampaikan data tidak salah.
"Kalau capres `nyontek` itu sah-sah saja, boleh. `Nyontek` itu hanya menyampaikan data supaya tidak salah. Manusia ada keterbatasan, misalnya terkait angka kemiskinan, ya syukur-syukur kalau hafal," ucapnya.
"Begitu juga dengan capres Prabowo jika ingin melihat data dari tulisan, silakan saja," kata Helmy.
Selain itu, dalam penguasaan materi Jokowi lagi-lagi lebih unggul dari Prabowo. Hal ini bisa dilihat dari materi yang disampaikan oleh Jokowi.
"Orang bisa lihat siapa yang unggul. Cukup dengan bahasa isyarat saja orang sudah paham," katanya.
"Kalau saya lihat pak Jokowi lebih unggul karena lebih berpengalaman di pemerintahan. Pernah jadi wali kota, jadi gubernur, dan Presiden. Penguasaan lapangan jauh lebih matang,"? ujarnya usai membuka Konferensi Wilayah (Konferwil) NU NTB di Pondok Pesantren Qomarul Huda, Bagu, Kabupaten Lombok Tengah, Sabtu.
Ia mengatakan, kalau ada sindiran Jokowi kebanyakan "nyontek" tulisan saat debat, menurut Helmi, itu adalah hal yang biasa, agar dalam menyampaikan data tidak salah.
"Kalau capres `nyontek` itu sah-sah saja, boleh. `Nyontek` itu hanya menyampaikan data supaya tidak salah. Manusia ada keterbatasan, misalnya terkait angka kemiskinan, ya syukur-syukur kalau hafal," ucapnya.
"Begitu juga dengan capres Prabowo jika ingin melihat data dari tulisan, silakan saja," kata Helmy.
Selain itu, dalam penguasaan materi Jokowi lagi-lagi lebih unggul dari Prabowo. Hal ini bisa dilihat dari materi yang disampaikan oleh Jokowi.
"Orang bisa lihat siapa yang unggul. Cukup dengan bahasa isyarat saja orang sudah paham," katanya.
Pewarta : Nur Imansyah
Editor : Riza Fahriza
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Aturan baru KPU tentang syarat capres-cawapres, 16 dokumen tidak boleh dibuka ke publik
15 September 2025 16:46 WIB
Capres AS Harris dan Trump bersaing ketat selisih suara 1 hingga 3 persen
05 November 2024 17:59 WIB, 2024