Warga Bima mandi pakai tisu basah karena listrik padam
Selasa, 22 Januari 2019 17:28 WIB
Dokumen - Warga menyalakan lilin akibat listrik mati saat sedang mempersiapkan upacara adat reba di Kampung Wogo, Kabupaten Ngadha, Nusa Tenggara Timur.(ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)
Mataram (Antaranews NTB) - Warga Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, mengalami krisis air bersih untuk keperluan sehari-hari karena Perusahaan Listrik Negara (PLN) melakukan pemadaman listrik sepanjang hari.
"Anak-anak terpaksa mandi pakai tisu basah agar bisa sekolah. Mau ambil air sumur pakai mesin pompa tidak bisa karena listrik padam sejak pukul 03.00 Wita hingga siang hari," kata Ahmad Gafar, salah seorang warga Kelurahan Rite, Kota Bima, ketika dihubungi dari Mataram, Selasa.
Ia mengatakan pemadaman listrik di Kelurahan Rite, sudah terjadi selama tiga hari berturut-turut. Kondisi tersebut sangat dikeluhkan oleh warga karena terjadi pada saat jam beribadah dan melakukan aktivitas kerja.
"Waktu pemadaman tidak menentu dan sering terjadi pada saat orang mau shalat dan jam sibuk bekerja. Hari ini, saya masuk kantor pukul 09.00 Wita karena harus menunggu listrik menyala baru bisa mandi," kata Gafar yang juga menjabat Kepala Sub Bagian Umum dan Kepegawaian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bima.
Menurut dia, PLN memang sudah memberikan jadwal pemadaman bergilir. Namun pada kenyataannya daerah yang tidak masuk dalam jadwal juga terkena pemadaman. Hal itu membuat bingung warga.
Gafar merasa khawatir dengan kondisi kelistrikan di daerahnya yang sudah berlangsung cukup lama tersebut akan membuat warga emosi dan habis kesabaran.
"Beberapa waktu lalu ada petugas PLN yang ditebas oleh warga karena kesal dengan seringnya pemadaman listrik dalam jangka waktu yang relatif lama," katanya.
Keluhan juga disampaikan Bambang melalui pesan singkat telepon seluler. Warga Kota Bima tersebut merasa kesal dengan cara-cara PLN melakukan pemadaman listrik dalam jangka waktu lama dan tanpa alasan yang jelas.
"Hari ini tiga kali pemadaman. Sangat mengganggu aktivitas religius masyarakat. Pas subuh terjadi pemadaman, kondisi gelap, pompa air mati. Malam juga padam, anak-anak terganggu belajarnya," ucap Bambang.
Ia juga mengaku rugi akibat pemadaman listrik dengan waktu yang relatif lama. Pasalnya, usaha kecil-kecilan yang dilakoni menjadi terhenti ketika listrik padam. Peralatan elektronik juga bisa rusak karena pemadaman secara tiba-tiba dan berkali-kali dalam sehari.
"Saya sebagai warga tidak tahu apa masalah PLN. Tapi kalau dilihat pemasangan listrik untuk pelanggan baru terus jalan meskipun kondisinya seperti sekarang," ujarnya.
Iman juga mengeluhkan kondisi pemadaman listrik yang tidak jelas kapan berakhir. Warga Rabangodu tersebut menyebarluaskan pemadaman listrik oleh PLN selama tiga hari berturut-turut melalui group WhatsApp Bima Siaga Bencana.
Menanggapi hal itu, Humas PLN Unit Induk Wilayah NTB, Rofia Fitri, menyampaikan permohonan maaf atas pemadaman yang harus dialami, khususnya untuk daerah Bima dan sekitarnya.
Pemadaman terjadi disebabkan beberapa mesin mengalami gangguan sehingga harus keluar dari sistem.
Untuk mengatasi hal tersebut, pihaknya telah selesai membangun PLTMG berkapasitas 3x17 megawatt di Bonto, Bima. Proses pembangunan infrastruktur, baik di sisi jaringan maupun pembangkit telah selesai dikerjakan.
"Saat ini, kami sedang melakukan proses `commissioning` PLTMG tersebut. Rencana awal pembangkit beroperasi pada Desember 2018. Namun karena adanya beberapa sebab teknis pada saat proses uji coba, proses menjadi mundur dari jadwal," katanya.
Ia juga memastikan bahwa tim sudah berada di Bonto, untuk melakukan evaluasi dan analisa terhadap kendala tersebut.? ?
PLN, kata Rofia, mengharapkan dukungan agar semuanya berjalan sesuai dengan rencana dan sistem kelistrikan Bima bisa kembali normal.
"Kami selalu berkomitmen dan berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik bagi pelanggan kami," ujarnya.
"Anak-anak terpaksa mandi pakai tisu basah agar bisa sekolah. Mau ambil air sumur pakai mesin pompa tidak bisa karena listrik padam sejak pukul 03.00 Wita hingga siang hari," kata Ahmad Gafar, salah seorang warga Kelurahan Rite, Kota Bima, ketika dihubungi dari Mataram, Selasa.
Ia mengatakan pemadaman listrik di Kelurahan Rite, sudah terjadi selama tiga hari berturut-turut. Kondisi tersebut sangat dikeluhkan oleh warga karena terjadi pada saat jam beribadah dan melakukan aktivitas kerja.
"Waktu pemadaman tidak menentu dan sering terjadi pada saat orang mau shalat dan jam sibuk bekerja. Hari ini, saya masuk kantor pukul 09.00 Wita karena harus menunggu listrik menyala baru bisa mandi," kata Gafar yang juga menjabat Kepala Sub Bagian Umum dan Kepegawaian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bima.
Menurut dia, PLN memang sudah memberikan jadwal pemadaman bergilir. Namun pada kenyataannya daerah yang tidak masuk dalam jadwal juga terkena pemadaman. Hal itu membuat bingung warga.
Gafar merasa khawatir dengan kondisi kelistrikan di daerahnya yang sudah berlangsung cukup lama tersebut akan membuat warga emosi dan habis kesabaran.
"Beberapa waktu lalu ada petugas PLN yang ditebas oleh warga karena kesal dengan seringnya pemadaman listrik dalam jangka waktu yang relatif lama," katanya.
Keluhan juga disampaikan Bambang melalui pesan singkat telepon seluler. Warga Kota Bima tersebut merasa kesal dengan cara-cara PLN melakukan pemadaman listrik dalam jangka waktu lama dan tanpa alasan yang jelas.
"Hari ini tiga kali pemadaman. Sangat mengganggu aktivitas religius masyarakat. Pas subuh terjadi pemadaman, kondisi gelap, pompa air mati. Malam juga padam, anak-anak terganggu belajarnya," ucap Bambang.
Ia juga mengaku rugi akibat pemadaman listrik dengan waktu yang relatif lama. Pasalnya, usaha kecil-kecilan yang dilakoni menjadi terhenti ketika listrik padam. Peralatan elektronik juga bisa rusak karena pemadaman secara tiba-tiba dan berkali-kali dalam sehari.
"Saya sebagai warga tidak tahu apa masalah PLN. Tapi kalau dilihat pemasangan listrik untuk pelanggan baru terus jalan meskipun kondisinya seperti sekarang," ujarnya.
Iman juga mengeluhkan kondisi pemadaman listrik yang tidak jelas kapan berakhir. Warga Rabangodu tersebut menyebarluaskan pemadaman listrik oleh PLN selama tiga hari berturut-turut melalui group WhatsApp Bima Siaga Bencana.
Menanggapi hal itu, Humas PLN Unit Induk Wilayah NTB, Rofia Fitri, menyampaikan permohonan maaf atas pemadaman yang harus dialami, khususnya untuk daerah Bima dan sekitarnya.
Pemadaman terjadi disebabkan beberapa mesin mengalami gangguan sehingga harus keluar dari sistem.
Untuk mengatasi hal tersebut, pihaknya telah selesai membangun PLTMG berkapasitas 3x17 megawatt di Bonto, Bima. Proses pembangunan infrastruktur, baik di sisi jaringan maupun pembangkit telah selesai dikerjakan.
"Saat ini, kami sedang melakukan proses `commissioning` PLTMG tersebut. Rencana awal pembangkit beroperasi pada Desember 2018. Namun karena adanya beberapa sebab teknis pada saat proses uji coba, proses menjadi mundur dari jadwal," katanya.
Ia juga memastikan bahwa tim sudah berada di Bonto, untuk melakukan evaluasi dan analisa terhadap kendala tersebut.? ?
PLN, kata Rofia, mengharapkan dukungan agar semuanya berjalan sesuai dengan rencana dan sistem kelistrikan Bima bisa kembali normal.
"Kami selalu berkomitmen dan berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik bagi pelanggan kami," ujarnya.
Pewarta : -
Editor : Awaludin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Umum
Lihat Juga
Yayasan Puri Kauhan Ubud umumkan ide karya terbaik kompetisi seni pertunjukan dengan inovasi teknologi
05 September 2025 5:34 WIB
Konferprov PWI Bali 2025 secara aklamasi memilih Dira Arsana sebagai Ketua PWI periode 2025-2029
31 May 2025 7:19 WIB
Sinergi PKT BISA dongkrak produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani Magetan
20 May 2025 18:55 WIB
Pemilik tanah Gnyadnya minta keadilan peralihan tanahnya dipecah jadi 26 sertifikat
03 February 2025 20:22 WIB
Demplot Pupuk Kaltim di Jombang, hasil padi petani capai 9,2 ton per hektare
04 September 2024 15:31 WIB, 2024
Suara legislator, Reni Astuti sarankan ada peta banjir digital di Surabaya
27 February 2024 8:04 WIB, 2024