Mataram (ANTARA) - Pemerintah Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, mengimbau warga untuk tetap tenang dan tidak melakukan aksi borong (panic buying) menghadapi potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) akibat kondisi krisis yang tengah memanas di Timur Tengah.

"Kita harus tetap tenang. Pengaruh global tentu tidak hanya dirasakan di Mataram, tapi seluruh dunia," kata Asisten II Setda Kota Mataram H Miftahurrahman di Mataram, Rabu.

Ia mengatakan, selama stok BBM dan kebutuhan lainnya masih terkendali, diharapkan masyarakat bisa menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada.

Hingga saat ini, pemerintah kota terus memantau ketersediaan stok kebutuhan pokok yang diperkirakan masih mencukupi untuk kebutuhan masyarakat dalam beberapa pekan ke depan.

Pernyataan itu disampaikan menyoroti potensi kenaikan harga BBM akibat situasi geopolitik global, salah satunya terkait penutupan Selat Hormuz yang berdampak pada pasokan gas dan minyak dunia.

Baca juga: Minyak dunia meroket, Bahlil pastikan harga pertalite aman

Miftah mengatakan, kondisi tersebut merupakan dampak global yang dirasakan oleh seluruh dunia, bukan hanya di Kota Mataram atau Indonesia saja. 

"Karena itu, masyarakat harus tetap tenang dan berbelanja sesuai kebutuhan. Tidak panik," katanya.

Sementara terkait dengan kebutuhan pokok, katanya, Pemerintah Kota Mataram terus melakukan pemantauan dan upaya pengendalian harga selama bulan Ramadhan agar stok tetap tersedia hingga Idul Fitri 1447 Hijriah. 

Baca juga: Pertamina pastikan pasokan BBM-LPG di NTB aman jelang Imlek dan Ramadan

Menghadapi potensi kenaikan harga di bulan selama Ramadhan, pemerintah kota telah mengambil langkah preventif dengan menggencarkan kegiatan pasar rakyat atau di kenal dengan operasi pasar murah yang menjual kebutuhan pokok seperti beras, gula, minyak, tepung, cabai, tomat, bawang, telur, dan lainnya dengan harga di bawah pasar.

"Kita sekarang masif melaksanakan operasi pasar murah dan sedang berjalan  dirangkai dengan kegiatan safari Ramadhan. Alhamdulillah, sejauh ini tidak ada gejolak yang signifikan di masyarakat," katanya.

Meskipun beberapa komoditas mengalami kenaikan, salah satunya cabai rawit  mengalami kenaikan signifikan hingga mencapai Rp115 ribu per kilogram. 

Kenaikan harga cabai rawit pada akhir Februari 2026, bahkan sempat tembus Rp180 ribu per kilogram. Akibatnya, kenaikan cabai menjadi salah satu penyumbang inflasi di bulan Februari 2026.

"Meskipun naik, tapi stok di pasar tetap tersedia. Karena itu, masyarakat jangan panik, belanja sesuai kebutuhan bukan keinginan," katanya lagi.