Mataram (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memperluas operasi pasar murah untuk menjaga stabilitas harga pangan dan mempertahankan daya beli masyarakat menjelang perayaan Idul Adha 1447 Hijriah yang berlangsung pada 27 Mei 2026.

Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) NTB Abul Chair meminta seluruh kabupaten/kota untuk bergerak cepat merespons kenaikan harga sejumlah komoditas pangan strategis.

"Pengendalian inflasi tidak hanya berkaitan dengan angka statistik ekonomi, tetapi menyangkut langsung kondisi masyarakat," kata dia dalam pernyataan di Mataram, Rabu.

Abul mengatakan pemerintah daerah menyiapkan lima strategi utama untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.

Ia menuturkan pihaknya fokus memastikan ketersediaan dan kelancaran distribusi bahan pokok strategis, memperkuat kerja sama antar daerah, mempercepat pemantauan harga harian, serta membangun sistem pengendalian inflasi berbasis data dan teknologi.

"Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak akan memiliki makna apabila masyarakat masih kesulitan memenuhi kebutuhan pokok akibat harga yang tidak terkendali," ujar Abul yang menjabat sebagai Sekretaris Daerah Pemerintah Provinsi NTB tersebut.

Lebih lanjut ia menyampaikan tantangan pengendalian inflasi saat ini tidak hanya berasal dari sisi produksi, tetapi juga distribusi, tata niaga hingga kecepatan pengambilan keputusan di lapangan.

Pada April 2026, laju inflasi tahunan di NTB sebesar 3,27 persen. Angka inflasi tahunan tersebut lebih tinggi ketimbang nasional yang bertengger di level 2,42 persen.

Beberapa pemicu inflasi mulai dari barang tersedia, tapi terlambat sampai ke pasar. Kadang stok cukup, tetapi informasi tidak sampai ke masyarakat dan menimbulkan kepanikan berbelanja.

Baca juga: NTB siapkan operasi pasar redam kelangkaan elpiji bersubsidi

"Bahkan ada kenaikan harga yang bukan disebabkan kelangkaan, tetapi spekulasi dan distribusi yang tidak efisien," papar Abul.

Kepala BPS NTB Wahyudin mengungkapkan harga komoditas pangan saat ini relatif terkendali, meski beberapa barang mulai menunjukkan tren kenaikan harga di Kota Mataram, Kabupaten Sumbawa, dan Kota Bima.

BPS NTB mengamati beberapa komoditas yang merangkak naik dibanding bulan sebelumnya adalah minyak goreng, daging ayam ras, gas elpiji tiga kilogram, dan bawang merah.

Baca juga: Pemkot Bima gelar operasi pasar murah dua kali sehari tekan inflasi pangan

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) NTB, Hario Kartiko Pamungkas menekankan agar operasi pasar murah dilakukan secara tepat sasaran dan tepat waktu untuk mengendalikan harga komoditas pangan yang naik tersebut.

Ia mendorong optimalisasi kerja sama antar daerah agar distribusi komoditas pangan dapat berjalan lebih efektif antara daerah surplus dan daerah yang mengalami kekurangan pasokan.

Pemerintah NTB menyiapkan Gerakan Pangan Murah di 37 titik untuk meredam gejolak harga komoditas pangan jelang Idul Adha, sidak distributor, penyaluran sarana prasarana pertanian, hingga edukasi belanja bijak untuk mencegah berita bohong yang menyebar di media sosial.