Mataram (ANTARA) - Pascagempa yang mengguncang Lombok satu tahun lalu, berdampak sampai sekarang dengan banyaknya perajin gerabah di Desa Wisata Kediri Nusa Tenggara Barat gulung tikar.

Suhaibah, salah satu perajin gerabah Banyumulek, kepada Antara, Kamis, mengatakan, dahulu sebelum gempa terjadi hampir semua rumah-rumah penduduk di sini menjual gerabah, akan tetapi setelah gempa terjadi, pembeli yang datang menurun drastis sehingga membuat para perajin banyak gulung tikar.

“Dahulu, omzet kita bisa mencapai Rp1 juta per hari, saat ini sangat jauh menurun yang berkisar di antara Rp25 ribu hingga Rp50 ribu per hari, bahkan terkadang sehari itu tidak ada pemasukkan,” katanya. Gerabah produksi warga Desa Wisata Banyumulek, Kediri, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. (Nazri dan Usman)

Lebih lanjut dia mengatakan, saya mampu bertahan sampai saat ini pun hanya bisa berjalan tertatih-tatih, penghasilan tidak mampu menutupi modal yang sudah di keluarkan.

“Harapan saya kepada pemerintah terkait, semoga bisa untuk membantu penambahan modal agar bisa menutupi kekurangan, setidaknya bisa memperpanjang umur dari usaha ini, serta berharap pemerintah bisa memberikan solusi kepada para penjual yang lain, semisal pengiklanan atau penataan tempat berjualan,“ katanya.

Hal senada disampaikan Haji Anwar, penjual lainnya, sebelum gempa terjadi, saya bahkan bisa mengirim gerabah hingga ke luar daerah seperti Bali, Jakarta, dan kota-kota besar lainnya, bahkan bisa sampai ke luar negeri hingga sampai ke Australia.

Saat ini, berbanding terbalik sepi dari para pembeli, dan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, kita harus kembali lagi menjadi petani, tidak bisa untuk terus mengandalkan dari usaha ini,” katanya.
 

Pewarta : Nazri dan Usman
Editor : Riza Fahriza
Copyright © ANTARA 2024