Ratusan gajah di Botswana mati terserang wabah Antraks
Rabu, 23 Oktober 2019 15:56 WIB
Dua ekor gajah Afrika (Loxodonta africana) terlihat di Taman Nasional Kruger di Provinsi Mpumalanga, Afrika Selatan, Jumat (12/4/2019). ANTARA FOTO/REUTERS/Siphiwe Sibeko/wsj.
Gaborone (ANTARA) - Lebih dari 100 ekor gajah di Botswana mati dalam dua bulan terakhir, yang sebagian besar karena dugaan wabah penyakit antraks, kata pemerintah, Selasa.
"Penyelidikan awal menunjukkan gajah mati akibat penyakit antraks, sementara beberapa lainnya mati karena faktor kekeringan," kata Departemen Satwa dan Taman Nasional melalui pernyataan.
"Akibat kekeringan ekstrem, gajah-gajah itu akhirnya menelan tanah sambil makan rumput sehingga terkena spora bakteri antraks," katanya.
Elephants Without Borders melaporkan survei melalui udara menunjukkan bangkai gajah segar meningkat hingga 593 persen antara 2014 hingga 2018, kebanyakan akibat perburuan liar dan ilegal, serta faktor kekeringan.
Otoritas margasatwa menyebutkan kematian gajah terbaru terjadi di daerah Sungai Chobe dan daerah Nantanga di Botswana utara, lokasi 14 gajah mati ditemukan pekan ini. Pihaknya juga akan membakar bangkai-bangkai itu guna mencegah infeksi penyakit antraks menyebar ke satwa lain.
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Amerika Serikat, antraks disebabkan oleh bakteri yang dijumpai secara alami di tanah. Biasanya, hewan peliharaan dan satwa liar tertular penyakit tersebut, saat mereka menghirup atau menelan spora di tanah, tanaman atau air yang sudah terkontaminasi.
Antraks tidak menular dan manusia hanya dapat terinfeksi antraks jika tertelan bakteri tersebut. Penyakit itu dapat dicegah pada hewan melalui vaksinasi yang rutin.
Botswana menjadi rumah untuk hampir sepertiga gajah Afrika, dengan sekitar 130.000. Negara itu mencabut larangan berburu untuk memerangi konflik yang berkembang antara manusia dan satwa liar.
Botswana dan negara tetangganya di Afrika selatan mengalami kekeringan parah lantaran curah hujan di bawah rata-rata sejak sistem udara El Nino melanda pada 2015.
Sumber: Reuters
"Penyelidikan awal menunjukkan gajah mati akibat penyakit antraks, sementara beberapa lainnya mati karena faktor kekeringan," kata Departemen Satwa dan Taman Nasional melalui pernyataan.
"Akibat kekeringan ekstrem, gajah-gajah itu akhirnya menelan tanah sambil makan rumput sehingga terkena spora bakteri antraks," katanya.
Elephants Without Borders melaporkan survei melalui udara menunjukkan bangkai gajah segar meningkat hingga 593 persen antara 2014 hingga 2018, kebanyakan akibat perburuan liar dan ilegal, serta faktor kekeringan.
Otoritas margasatwa menyebutkan kematian gajah terbaru terjadi di daerah Sungai Chobe dan daerah Nantanga di Botswana utara, lokasi 14 gajah mati ditemukan pekan ini. Pihaknya juga akan membakar bangkai-bangkai itu guna mencegah infeksi penyakit antraks menyebar ke satwa lain.
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Amerika Serikat, antraks disebabkan oleh bakteri yang dijumpai secara alami di tanah. Biasanya, hewan peliharaan dan satwa liar tertular penyakit tersebut, saat mereka menghirup atau menelan spora di tanah, tanaman atau air yang sudah terkontaminasi.
Antraks tidak menular dan manusia hanya dapat terinfeksi antraks jika tertelan bakteri tersebut. Penyakit itu dapat dicegah pada hewan melalui vaksinasi yang rutin.
Botswana menjadi rumah untuk hampir sepertiga gajah Afrika, dengan sekitar 130.000. Negara itu mencabut larangan berburu untuk memerangi konflik yang berkembang antara manusia dan satwa liar.
Botswana dan negara tetangganya di Afrika selatan mengalami kekeringan parah lantaran curah hujan di bawah rata-rata sejak sistem udara El Nino melanda pada 2015.
Sumber: Reuters
Pewarta : Asri Mayang Sari
Editor : Riza Fahriza
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Otoritas Pelabuhan klarifikasi insiden kapal di Poto Tano: gangguan kemudi, bukan mati mesin
14 December 2025 20:33 WIB
Evakuasi santri Al Khoziny, Senator Lia ungkap kisah haru Haikal hingga korban meninggal mati syahid
04 October 2025 13:27 WIB
Terpopuler - Internasional
Lihat Juga
Pertemuan hangat Megawati-Putra Mahkota Abu Dhabi, Bung Karno jadi topik utama
05 February 2026 18:56 WIB