Mataram (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) akan mengusung upacara adat "Hanta Ua Pua" di perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW tingkat nasional tahun 2010 yang akan diselenggarakan di Palu, Sulawesi Tengah.
     Juru bicara Pemerintah Provinsi NTB Lalu Muhammad Faozal, di Mataram, Senin, mengatakan sebelum "Hanta Ua Pua" diusung di tingkat nasional, tentu harus dimantapkan di daerah.
     "Upacara adat 'Hanta Ua Pua' itu akan ditayangkan dalam perayaan Maulid Nabi tingkat Provinsi NTB yang akan dipusatkan di Kota Bima, 26 Februari mendatang," ujarnya.
     Ia mengatakan upacara adat "Hanta Ua Pua" dipilih sebagai ikon NTB dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad tingkat nasional berdasarkan kesepakatan berbagai pihak.
     "Selain itu juga dimaksudkan untuk memperkenalkan jenis upacara adat asal Bima (suku Mbojo) NTB itu di daerah lain sehingga  budaya NTB juga dikenal di luar daerah," ujar Faozal.
     Ia mengakui dalam prosesi "Hanta Ua Pua" tersirat janji Sultan Bima dan masyarakatnya untuk tetap berpegang teguh pada ajaran Islam sampai akhir zaman, sekaligus mengandung makna strategis di tengah ikhtiar membangun jati diri sebagai orang Bima. 
     "Antara kegiatan 'Hanta Ua Pua' dan masuknya ajaran Islam di Bima ibarat dua sisi mata uang," katanya.
     Hanta Ua Pua" merupakan rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad yang salah satu tujuannya memuliakan hari lahir nabi dan mengenang jasa penghulu Melayu yang telah menyebarkan agama Islam di "Dana Mbojo" sekitar abad 16 hingga 17 Masehi.
     Saat itu terjadi penyerahan Al Quran kepada Sultan Bima. Peristiwa ini  menjadi acara inti rangkaian upacara adat "Hanta Ua Pua" yang mengandung makna sebagai penyelenggara pemerintah dan pelindung (hawo), sehingga Sultan harus mampu mengayomi rakyatnya.
     Penyerahan Al Quran dari penghulu Melayu kepada "Jena Teke" itu juga  mengingatkan pemerintah dan masyarakat agar terus membaca dan menjalankan kandungan Al Quran dalam kehidupan sehari-hari.(*)