Mataram, 10/5 (ANTARA) - Pemerintah mengandalkan Provinsi Nusa Tenggara Barat sebagai daerah penghasil sapi bibit untuk dikembangkan di sejumlah daerah di Indonesia, kata Dirjen Peternakan Dr Ir Tjeppy D. Soedjana, MSc.
"NTB diandalkan untuk menghasilkan sapi bibit sehingga tidak boleh menutup pintu pengeluaran ternak bibit ke daerah lain, kecuali menguranginya," kata Tjeppy D. Soedjana, MSc, di Mataram, Senin.
Soedjana berada di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), sebagai salah satu pembicara kunci pada "workshop" rencana aksi untuk mengidentifikasi dukungan pengembangan sapi potong.
Ia menyambut baik sikap Pemerintah Provinsi NTB yang hanya mengurangi jumlah sapi bibit yang diantarpulaukan ke berbagai daerah, bukan menghentikan sama sekali meskipun tengah menerapkan program Bumi Sejuta Sapi (BSS).
Pemprov NTB menempuh kebijakan pengurangan pengeluaran sapi bibit setiap tahun sampai beberapa tahun mendatang yang diawali dengan pembatasan hanya 8.500 ekor selama 2009, kemudian 6.000 ekor pada 2010, lalu 3.000 ekor pada 2011 dan berakhir pada 2012.
Sejak 2004 hingga 2009, NTB sudah mengeluarkan 50 ribu sapi bibit untuk kepentingan pengembangbiakan di sejumlah daerah di Indonesia.
"Saya dengar tahun ini NTB hanya mengeluarkan sapi bibit untuk daerah lain sebanyak 6.000 ekor, itu juga sudah relatif baik," ujar Soedjana.
Menurut dia, belum saatnya NTB menghentikan pengeluaran sapi bibit karena daerah lain membutuhkannya.
Bahkan, lima provinsi di Pulau Sumatera tengah menerapkan program pengembangan sapi potong yang diintegrasikan dengan perkebunan kelapa sawit.
"Mereka hendak mengembangbiakkan sapi potong di setiap hektare ladang kelapa sawit sebanyak 2-3 ekor sehingga kalau ada 1.000 hektare maka akan ada 2-3 ribu sapi," ujarnya.(*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026