Mataram, 5/8 (ANTARA) - Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat H Badrul Munir meminta para penyuluh untuk lebih memahami tujuan program peningkatan produksi sapi, jagung dan rumput laut di daerah ini sehingga bisa menyampaikan informasi akurat kepada para petani.
"Sapi, jagung dan rumput laut (pijar) menjadi komoditas unggulan karena ketiga produk itu mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB)," kata Badrul Munir sebelum menutup kegiatan apresiasi manajemen agribisnis bagi para penyuluh pertanian angkatan II, di Mataram, Kamis.
ia pada kesempatan itu juga memberikan buku pedoman tentang program peningkatan kuantitas dan kualitas produksi pijar kepada sekitar 200 penyuluh pertanian dari sepuluh kabupaten/kota yang menjadi peserta.
Menurut dia Pemerintah Provinsi NTB memfokuskan program pada tiga komoditas unggulan, namun bukan berarti tidak memperhatikan komoditas lain yang memang memiliki nilai ekonomi.
"Kopi, mete dan komoditas lainnya silakan dikembangkan. Tetapi di antara sekian komoditas itu, harus ada yang unggul. Kalau dirangkul semua, sama dengan menggarami air laut. Tidak akan jadi," katanya.
Ketiga komoditas unggulan itu, kata Badrul, semuanya saling terkait satu sama lain. Misalnya, program bumi sejuta sapi (BSS) yang diharapkan terwujud pada 2014, selaras dengan program nasional dalam hal peningkatan produksi sapi.
Peningkatan produksi sapi tentunya harus disertai dengan pengadaan pakan yang tersedia sepanjang waktu. Hal itu bisa dilakukan dengan cara meningkatkan produksi jagung, yang bisa diarahkan bukan hanya untuk konsumsi pangan nonberas, tetapi juga ketersediaan pakan.
Menurut dia dengan produksi jagung yang terus meningkat akan mendorong tersedianya pakan yang mencukupi, sehingga NTB tidak perlu mendatangkan pakan dari luar daerah.
"Seluruh komponen jagung, mulai dari daun, batang hingga bijinya dapat dijadikan pakan," katanya.
Untuk komoditi rumput laut, kata dia, juga ada kaitannya dengan program BSS karena rumput laut bagus untuk pakan ternak. Hal itu sudah diuji secara ilmiah oleh para pakar peternakan.
Badrul menyebutkan potensi rumput laut di NTB berada di urutan kedua di Indonesia, setelah Maluku Utara, sedangkan Nusa Tenggara Timur berada di urutan ketiga.
Meski demikian, produksi yang mampu dihasilkan belum sepadan dengan potensi yang dimiliki, hanya berada pada urutan keempat di Indonesia.
"Dari potensi rumput laut yang dimiliki, baru 25 persen yang sudah tergarap, namun sudah mampu menjadi pemasok terkemuka," katanya.
Badrul berharap para penyuluh pertanian lapangan mampu memberikan informasi yang efektif kepada para petani tentang pijar. Hal itu tentunya harus dilakukan dengan bekal dan kemampuan yang memadai.
Selain itu, para penyuluh pertanian juga harus memiliki kemampuan dari sisi teknologi informasi untuk menunjang terwujudnya revitalisasi pertanian melalui agribisnis pijar.
"Kita harus buktikan, dengan potensi besar yang dimiliki, penyuluh pertanian mampu membantu menigkatkan kesejahteraan petani," katanya. (*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026