Mataram,  (ANTARA) - Sejumlah nelayan di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengaku terpaksa "menguras" isi tabungannya karena tidak bisa mencari ikan saat kondisi cuaca buruk.

   "Kondisi laut tidak memungkinkan untuk nelayan bisa mencari ikan," kata  Jumrah, seorang nelayan di kampung Pondok Prasi, Kelurahan Bintaro Jaya, Kecamatan Ampenan Utara, Kota Mataram (12/1).

   Ia mengaku menabung dari sisa hasil penjualan ikan. Sebelum cuaca buruk, penghasilan yang diperoleh bisa mencapai Rp100 ribu per hari. Hasil melaut itu ditabung pada Bank Perkreditan Rakyat.

   "Ada petugas bank yang datang ke rumah setiap hari. Kalau ada uang lebih saya tabung. Inginnya saya punya tabungan untuk ongkos naik haji. Tapi kalau kondisi seperti ini, sulit rasanya, apalagi perahu saya kecil dengan alat tangkap cuma pancing biasa. Yang bisa naik haji mungkin nelayan dengan perahu besar dan alat tangkap memadai," ujarnya.

   Kepasrahan juga disampaikan Zaenuddin. Ketika ditemui sedang memperbaiki jaringnya, dia mengaku pasrah dengan kondisi alam yang menyebabkan dirinya tidak bisa mencari ikan yang bisa dijual untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.

   "Pekerjaan yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu hanyalah memperbaiki perahu atau alat tangkap ikan seperti pancing dan jaring. Nelayan banyak tidak melaut sejak awal Desember 2010. Saya tidak tahu kapan gelombang tinggi berakhit," ujarnya.

   Menurut dia, sebagian rekan-rekannya ada yang berani melaut, namun harus bersandar di wilayah Senggigi Lombok Barat, yang gelombangnya tidak seperti di pantai Ampenan.

   "Terkadang rekan-rekan yang berani melaut itu harus menginap di Senggigi, karena tidak ada ikan yang bisa dijual untuk ongkos pulang. Jaraknya dari Ampenan cukup jauh. Harus pakai angkutan umum," ujarnya.

   Nelayan lainnya Zainuddin, meminta kepada pemerintah memperhatikan nasib nelayan dengan memberikan sedikit bantuan bahan makanan selama tidak melaut mencari ikan.

   "Kami tidak pernah mendengar yang namanya bantuan. Mungkin kalau ada bantuan hanya dibagi kepada kalangan tertentu saja. Tidak semua nelayan kebagian," ujarnya.

   Ia juga menegaskan para nelayan enggan untuk membentuk sebuah koperasi atau kelompok nelayan kalau hanya dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang ingin meraup keuntungan dengan mengatasnamakan nelayan.

   "Sejak dulu tidak ada namanya koperasi atau kelompok nelayan di sini. Begini kondisi kami. Kalaupun ada namanya koperasi atau kelompok, paling yang untung cuma yang punya jabatan saja. Makanya kami enggan," ujarnya.

   Prakirawan Stasiun Meteorologi Selaparang Mataram, Oktaviana Indriani, menyebutkan kecepatan angin di wilayah NTB, khususnya di Pulau Lombok mencapai 50-60 kilometer per jam dan kenaikan tinggi gelombang di perairan NTB antara 4-5 meter. Kondisi tersebut harus diwaspadai oleh pelayaran terutama perahu kecil. (*)

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026