Mataram, (ANTARA) - Nilai Tukar Petani pada Januari 2010 mencapai 95,09 persen atau menurun 0,32 persen dibandingkan  Desember 2010 sebesar 95,40 persen karena kenaikan indeks yang diterima petani lebih rendah dibandingkan yang dibayarkan.

   "Kenaikan indeks harga yang diterima petani sebesar 0,53 persen, lebih kecil dibandingkan kenaikan indeks yang dibayar petani sebesar 0,85 persen," kata Kepala Badan Pusat Statistik Nusa Tenggara Barat (NTB) H. Soegarenda, di Mataram (1/2).

   Nilai Tukar Petani (NTP) yang diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di pedesaan.

   NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi.

   Ia menyebutkan, subsektor pertanian yang mengalami penurunan nilai tukar pada Januari 2011, adalah subsektor tanaman pangan (padi dan palawija) sebesar 0,52 persen yang disebabkan penerimaan petani tidak sebanding dengan kenaikan harga bibit padi, pupuk urea dan kenaikan subkelompok konsumsi rumah tangga.

   Untuk subsektor perkebunan terjadi penurunan sebesar 0,24 persen yang disebabkan kenaikan harga kelapa kupas tidak sebanding dengan pengeluaran konsumsi rumah tangga petani.

   Selanjutnya, kata Soegarenda, subsektor peternakan mengalami penurunan sebesar 0,90 persen karena turunnya harga sapi potong, kerbau dan kambing. Kemudian subsektor perikanan mengalami penurunan sebesar 0,87 persen karena turunnya harga ikan ekor kuning, layang, layur, kepiting laut, teri dan ikan sotong.

   "Satu-satunya subsektor yang mengalami peningkatan yakni subsektor hortikultura. Peningkatannya sebesar 1,67 persen karena naiknya harga cabai dan bawang merah serta buah-buahan," ujarnya.    
Soegarenda menyebutkan dari 32 provinsi yang dilaporkan, perubahan NTP Januari 2011 terhadap NTP Desember 2010 ternyata sangat beragam, yaitu terjadi kenaikan NTP di 19 provinsi, penurunan di 12 provinsi dan satu provinsi stabil.

   Kenaikan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Sulawesi Utara, sebesar 1,05 persen, sedangkan penurunan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Papua, sebesar 0,93 persen.

   "Nilai tukar petani di NTB pada Januari 2011 masih berada di posisi paling rendah dari 32 provinsi yang dilaporkan, kecuali Jakarta," ujarnya.(*)

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026