"Seharusnya program perjalanan dinas diinformasikan secara terbuka ke Asosiasi Biro Perjalanan Wisata (ASITA) sebagai wadah resmi dari 120 lebih "Travel Agent" atau agen perjalanan di Nusa Tenggara Barat (NTB). Dengan demikian akan tercipta keadilan dan tidak ada unsur monopoli," kata Sekretaris Dewan Pengurus Daerah (DPD) ASITA NTB, Agus Mulyadi, di Mataram (3/3).
Permintaan agar satuan kerja perangkat Daerah (SKPD) di lingkup Pemerintah Provinsi NTB berlaku adil kepada seluruh agen perjalanan, kata dia, karena adanya protes dari sejumlah anggota ASITA NTB tentang adanya agen perjalanan yang diduga selalu mendapatkan prioritas dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Provinsi NTB.
Adanya unsur monopoli dalam hal pengadaan tiket perjalanan dinas keluar daerah tidak sejalan dengan program pemerataan perekonomian di NTB. Selain itu, tindakan monopoli itu dinilai sebagai upaya memperkaya salah satu agen perjalanan.
Ia menegaskan, adanya monopoli yang dilakukan oleh salah satu agen perjalanan yang pengelolanya masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan kepala SKPD, telah melanggar etika bisnis.
"Praktek semacam itu dinilai akan sangat merugikan agen perjalanan lain dan memunculkan kecemburuan sosial antara anggota ASITA NTB. Terlebih, praktek itu diduga dilakukan oleh salah seorang pejabat di salah satu SKPD di lingkup Pemerintah Provinsi NTB," ujarnya.
Data yang diterima dari salah seorang staf Dinas Dikpora NTB, menyebutkan, program perjalanan dinas ke luar daerah yang melibatkan puluhan orang menggunakan jasa agen perjalanan yang dikelola oleh keluarga kepala dinas.
Setiap pemberian surat tugas kepada seluruh peserta perjalanan dinas keluar daerah, telah disatukan dengan tiket yang dikeluarkan agen perjalanan milik pejabat bersangktuan.
Beberapa kegiatan perjalanan ke luar daerah itu, seperti Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN), sosialisasi block grant peningkatan mutu pembelajaran Bahasa Inggris dan Olimpiade Sains Nasional (OSN).
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Dikpora NTB, H. Lalu Syafi'i mengakui dalam penyelenggaraan O2SN beberapa waktu lalu, semua tiket pemberangkatan peserta dibeli dari agen perjalanan yang dikelola anaknya.
Ia juga menanggapi kritikan yang disampaikan oleh ASITA NTB tersebut sah-sah saja, namun apa yang dilakukannya merupakan sebuah konsekuensi dari persaingan usaha.
"Itukan persaingan, jadi mari bersaing dengan baik. Lagi pula tidak semua kegiatan nasional yang diikuti pejabat Dinas Dikpota NTB, tekitnya dibeli dari agen perjalanan yang dikelola anak saya. Paling hanya satu dari lima kegiatan yang dilayani," ujarnya.(*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026