Jakarta (ANTARA) - Indonesia dinilai masih memiliki potensi yang besar untuk menjadi pemasok pangan di tingkat dunia karena produksi tanaman pangan terutama sembilan komoditas utama masih dapat ditingkatkan lebih tinggi.

Sekretaris Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Departemen Pertanian, Anggoro di Bogor, Minggu, mengatakan, pasokan pangan dalam negeri sudah mampu dipenuhi dalam beberapa tahun terakhir, sehingga ketersediaan yang berlebih bisa diekspor ke luar negeri.

Dalam kegiatan Apresiasi Forum Wartawan Pertanian (Forwatan) 2009, dia mengatakan, saat ini, komoditas jagung sudah diekspor ke sejumlah negara tetangga seperti Filipina, Malaysia dan Korea Selatan (Korsel).

Sementara produksi padi sudah mencapai target produksi dengan pertumbuhan hingga 5 persen. Rencananya pemerintah akan mengekspor sekitar 100 ribu ton.

"Sedangkan itu lima komoditas lain saat ini ditargetkan sudah bisa mencapai swasembada pada tahun 2010 hingga 2011," katanya.

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 511/2006, disebutkan tujuh komoditas tanaman pangan utama yakni padi, jagung, kedelai, kacang hijau, kacang tanah, ubi kayu dan ubi jalar.

Menurut dia, saat ini, produk pertanian Indonesia sudah banyak diminati negara lain, termasuk negara maju untuk diminta mengekspor ke negara mereka.

Sejumlah produk pertanian yang yang sudah diekspor yakni CPO (kelapa sawit), kakao, kopi, maupun teh dan karet serta komoditas pangan lainnya.

"Ini peluang bagi kita, dan sebenarnya meski terjadi penurunan harga, namun dari segi volume, permintaan masih stabil," lanjut Anggoro.

Sebelumnya, Sekjen Deptan, Hasanuddin Ibrahim, menyatakan pemerintah Indonesia sedang mengkaji pengiriman ekspor beras ke Timor Leste yang merupakan tindak lanjut kesepahaman pemerintah kedua negara.

Negara baru yang merupakan bekas wilayah Indonesia itu menyadari potensi lahan pertanian mereka tidak sebagus di areal persawahan di tanah air sehingga RI akan membantu pengiriman tenaga ahli pola tanam pertanian.

"Karena lahan sawahnya tidak beda jauh, maka Deptan memberikan bantuan pengirima tenaga ahli, dan kalau ekspor beras, masih dikaji," kata Hasanuddin.(*)

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026