Mataram, 11/4 (ANTARA) - Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, Nusa Tenggara Barat, menurunkan tim untuk memeriksa serangan ulat bulu yang terjadi di Desa Apit Aik, Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur, sehingga bisa diambil tindakan cepat dan tepat.
{jpg*2}
"Informasi yang saya terima memang ada serangan ulat bulu di Desa Apit Aik. Tapi itu baru di satu pohon kedondong. Tim brigade pengendalian hama sudah meluncur ke lokasi untuk memeriksa intensitas serangan hama tersebut," kata Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, Nusa Tenggara Barat (NTB) H. Abdul Ma'ad, di Mataram, Senin.

   Usai memberikan materi pada acara pelatihan bagi penyuluh pertanian dukung program ungulan Pijar, ia mengatakan, informasi serangan hama ulat bulu tersebut diperoleh dari masyarakat yang melaporkan ke penyuluh pertanian yang bertugas di wilayah setempat.

   Menurut dia, serangan hama ulat bulu di pohon kedondong biasa terjadi, mengingat hama tersebut memakan daun muda. Namun, laporan dari masyarakat harus tetap ditindaklanjuti, apalagi fenomena serangan hama yang bisa mengakibatkan gatal badan manusia yang terkena ulat tersebut saat ini sudah merebak di Pulau Jawa.

   Antisipasi mewabahnya hewan yang termasuk organisme penggangu tanaman tersebut sudah dilakukan jauh hari sebelumnya dengan menyediakan zat pembasmi hama yang dinilai efektif untuk mengendalikan hama dan peyakit tanaman pertanian.

   Penyemprotan zat pembasmi hama terhadap ulat bulu yang menyerang tanaman kedondong tersebut akan dilakukan dengan menggunakan "power sprayer" atau alat semprot berkekuatan tinggi.

   "Kemungkinan pohon kedondongnya cukup tinggi jadi pengendalian ulat bulu itu memakai "power sprayer". Upaya pengendalian secara manual dengan mengumpulkan ulat bulu juga menjadi pertimbangan kalau pohon yang diserang ulat bulu tidak terlalu tinggi," ujarnya.    
Menurut Ma'ad, merebaknya serangan ulat bulu di beberapa daerah sebagai dampak dari kondisi iklim yang tidak menentu dan ditandai dengan turunnya hujan secara terus menerus. Kondisi tersebut membuat ulat bulu tidak bisa berubah bentuk menjadi kupu-kupu.

   Oleh sebab itu, kata dia, pihaknya terus mengoptimalkan sekolah lapang pengelolaan tanaman terpadu (SL PTT) sebagai salah satu upaya mengantisipasi kemungkinan meningkatnya serangan organisme pengganggu tanaman pada kondisi iklim yang tidak menentu.

   "Ulat bulu boleh saja ada, selama tidak mengganggu produksi tanaman pertanian. Tetapi kalau intensitas serangannya sudah tinggi, perlu ada upaya pengendalian, sehingga tidak merugikan petani," ujarnya. (*)

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026