Mataram, (ANTARA)- Sekitar 30 wisatawan mancanegara (Wisman) dari berbagai negara di Benua Eropa mendaki Gunung Rinjani, Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) sejak jalur pendakian dibuka secara resmi Kamis (26/3)lalu.

  Pihak Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) sebelumnya menutup jalur pendakian di gunung tersebut sejak 2 Januari 2009, terkait kondisi cuaca buruk yang dapat membahayakan keselamatan pengunjung yang melakukan pendakian.

  Petugas Lapangan BTNGR, M Faisyal, di Sembalun, Lombok Timur, ketika dihubungi lewat telepon seluler, Minggu, mengatakan, puluhan Wisman yang datang dari negara di Benua Eropa melakukan pendakian melalui jalur Sembalun, Lombok Timur dan Senaru, Lombok Barat.

  "Puluhan Wisman itu ada yang berasal Jerman, Prancis dan yang paling banyak dari Kanada," katanya.

  Para Wisman tersebut umumnya diajak oleh pengusaha yang bergerak di bidang jasa pendakian atau "traccking organizer (TO)" yang ada di wilayah Sembalun dan Senggigi, Lombok Barat, NTB.

  Dia mengatakan, untuk mendaki hingga ke puncak Gunung Rinjani yang memiliki ketinggian sekitar 3.726 meter di atas permukaan laut, dapat dilakukan melalui tiga jalur resmi yaitu lewat Sembalun, Lotim, jalur Timbanuh, Pringgasela, Lotim dan Senaru, Lombok Barat.

  "Kami sudah menetapkan ketiga jalur itu sebagai lintasan resmi untuk melakukan pendakian ke Gunung Rinjani," ujarnya.

  Para pengunjung bisa menikmati keindahan fanorama alam Danau Segara Anak yang berada pada ketinggian 2.010 meter dari permukaan laut sebelum mencapai puncak Gunung Rinjani, yang bisa ditempuh dengan waktu perjalanan sekitar 8-10 jam melalui jalur Sembalun, sedangkan dari jalur Senaru membutuhkan waktu sekitar 7-10 jam.

  Pendaki yang sudah berada di Danau Segara Anak masih membutuhkan waktu 4-5 jam untuk menggapai puncak Gunung Rinjani melalui jalur pendakian yang ditetapkan, setelah melewati kawasan hutan.

  Menurut Faisyal, jumlah pengunjung yang melakukan pendakian bisa mencapai 600 lebih per bulan atau rata-rata 20 orang per hari pada bulan Juni hingga Agustus.

  "Seperti tahun sebelumnya, angka kunjungan wisatawan mancanegara dan lokal terutama dari kalangan mahasiswa pada saat musim liburan antara Juni hingga Agustus, tercatat cukup tinggi," katanya. 

  TNGR merupakan kawasan wisata andalan NTB yang telah dikenal dunia internasional karena pada tahun 2004 menerima penghargaan dunia yakni "World Legacy Award" dari National Geographic sebagai daerah wisata yang berhasil mengembangkan pariwisata berbasis ekowisata.

  Tahun 2008 pun TNGR termasuk tiga finalis "Tourist for Tourism Award" untuk kategori "Destination Award" yang diselenggarakan oleh World Tourist and Tourism Council (WTC) yang bermarkas di London, Inggris.

  Dua finalis lainnya merupakan obyek wisata di Amerika Serikat dan Kanada yang mampu menyaingi 147 obyek wisata lainnya dari 40 negara di bidang pengelolaan kepariwisataan yang tetap memperhatikan aspek pemberdayaan masyarakat setempat.

  Selain itu, TNGR pun telah diusulkan untuk ditetapkan sebagai geopark (taman bumi) yang akan menambah jumlah geopark dunia yang saat ini terhitung 53 buah tersebar di 17 negara di bawah jaringan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).

  Kawasan TNGR di Kabupaten Lombok Barat seluas 12.360 hektare meliputi dua kecamatan dengan 15 desa, Lombok Tengah seluas 6.824 hektare yang mencakup dua kecamatan tersebar pada lima desa dan Kabupaten Lombok Timur pada tujuh kecamatan yang tersebar pada 17 desa dengan luas kawasan 22.146 hektare. (*)

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026