Basra, Irak, (ANTARA/AFP) - Pasukan Inggris Selasa mulai melakukan penarikan resminya dari Irak, yang makan waktu sebulan untuk mengakhiri peranan mereka dimulai dengan invasi yang dipimpin Amerika Serikat untuk menumbangkan Saddam Hussein.

  Para perwira senior Amerika, Inggris dan Irak diperkirakan akan menandai hal itu dengan mengakui sebanyak 179 tentara Inggris dari angkatan udara dan laut tewas di Irak, selama enam tahun terakhir.

  "Ini adalah awal dari penarikan pasukan koalisi, dan Inggris menjadi bagian integral darinya," kata seorang perwira Inggris kepada AFP.

  "Meskipun ini adalah awal dari penarikan, masih ada tugas yang akan dilakukan, dan tugas tersebut akan dilanjutkan sampai tentara Inggris terakhir meninggalkan negara ini," katanya.

  Mayjen Andy Salmon, perwira senior Inggris di Basra, akan menyerahkan pangkalan selatan kepada seorang komandan Amerika. Tindakan ini merupakan langkah penting ke arah penarikan semua pasukan asing dari negara tersebut, dan dikembalikan sepenuhnya kepada kedaulatan Irak.

  Bendera-bendera divisi pasukan koalisi multinasional Selatan-Timur, terutama bendera Angkatan Laut Kerajaan Inggris, juga akan diturunkan dan diganti dengan bendera Divisi Mountain ke-10 militer AS.

  Inggris, di bawah Perdana Menteri Tony Blair, yang merupakan sekutu penting Amerika semasa Presiden George W. Bush, memerintahkan pasukannya menyerang Irak pada Maret 2003, untuk menggulingkan Presiden Saddam Hussein.

  Jumlah tentara Inggris dalam operasi itu terbesar kedua, dan mencapai jumlah tertinggi 46.000 pada Maret dan April 2003, pada saat operasi-operasi yang berakibat tumbangnya Saddam.

  Suatu kesepakatan ditandatangani oleh Baghdad dan London tahun lalu, untuk menyepakati ditinggalkannya 4.100 tentara Inggris guna menyelesaikan misinya, terutama melatih militer Irak. Ini dilakukan Juni lalu, sebelum penarikan secara menyeluruh dilakukan dari negara itu pada akhir Juli.

  Keberangkatan Selasa dimulai sekitar 50 tahun setelah Inggris keluar dari Irak, pada Mei 1959. Ketika itu, tentara terakhir meninggalkan pangkalan Habbaniyah di dekat kota barat Fallujah, untuk mengakhiri kehadiran mereka sejak 1918.

  Dukungan Inggris terhadap serangan dan kemudian upaya pembangunan kembali Irak, telah dipuji oleh para pejabat Amerika dan Irak.

  Basra adalah kota besar ketiga Irak dan merupakan pusat minyak yang strategis. Kota ini berada di bawah komando Inggris sejak serangan itu. Namun, provinsi dan bandaranya diserahkan pengendaliannya kepada Irak tiga bulan lalu.

  Di samping melatih militer Irak, Inggris dianggap kunci dalam lahirnya kembali angkatan laut negara yang rusak akibat perang.

  Angkatan Laut Inggris melatih tim Irak di pangkalan pelabuhan selatan Umm Qast, dan perannya diharapkan akan dilanjutkan meskipun suatu perjanian baru belum dicapai oleh kedua negara.

  Hubungan antara London dan Baghdad secara teori kembali pada jejak semula sebagai negara berdaulat, ketika pasukan Inggris telah ditarik seluruhnya.

  Pada saat pasukan Inggris ditarik, militer AS juga melakukan persiapan-persiapan untuk meninggalkan Irak.

  Berdasarkan perjanjian keamanan AS-Irak yang ditandatangani November lalu, pasukan Amerika harus sudah mulai ditarik dari kota-kota besar dan kota-kota lainnya pada 30 Juni. Secara keseluruhan, tentara AS ditarik dari negara itu pada akhir tahun 2011. (*)

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026