Dompu, NTB (ANTARA) - Petani jambu mete di Desa Calabai, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu Nusa Tenggara Barat, meminta perhatian pemerintah karena akhir-akhir ini mengalami kesulitan mendapat pinjaman modal dari perbankan untuk mengembangkan usahanya.
Petanijambu meteasal desa Calabai Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu Amirudin di Dompu (21/8)mengaku kesulitan mengakses pinjaman modal dari perbankan.
"Pinjaman dari BRI berupa kredit usaha rakyat (KUR), hanya dikhususkan untuk program sapi, jagung dan rumput laut (pijar).Bagaimana nasib para petani jambu mete," katanya.
Ia mengatakan, sejak program pijar digulirkan pemerintah Kabupaten Dompudan Pemerintah provinsi NTB tiga tahun silam, tidak satupun menyentuh program peningkatan ekonomi kerakyatan melalui pengembangan jambu mete.
Menurut dia, Kecamatan Pekat, termasuk desa Calabai merupakan wilayah pengembangan komoditi mete sejak puluhan tahun. Hasil mete dikatagorikan paling baik di NTBbahkan di Indonesia karena berada di lereng gunung berapi yang masih aktif.
"Kesulitan mengakses pinjaman dari bank tersebut, memaksa kami banyak menggunakan jasa rentenir untuk memenuhi kebutuhan permodalan.
Tanaman mente yang ditanam petani sudah banyak yang tidak produktif karena faktor usia. Petani berencana melakukan peremajaan tanaman mete," ujarnya.
Banyak juga yang menjual hasil panenmete kepada tengkulak sebelum buahnyatua, karena sudah ada perjanjian dengan tengkulak tersebut," katanya.
Kondisi ini, menurut Amirudin mengakibatkan saat harga mete melambung hingga Rp14.000 per kilogram tidak bisa dinikmati langsung oleh petani. Harga mete di tingkat petanihanya Rp8.000 per kilogram.
Karena itu petani metedi Kecamatan Pekat meminta perhatian pemerintah, selain membantupengembangan tiga komoditi unggulan tersebut juga kembali mengembangkan komoditi perkebunan seperti khususnya mete.(*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026