Mataram (ANTARA) - Badan Pusat Statistik Nusa Tenggara Barat mencatat laju pertumbuhan ekonomi daerah ini pada triwulan IV 2011 minus 4,91 persen.

  Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Nusa Tenggara Barat (NTB) H Soegarenda, di Mataram, Senin, mengatakan, perekonomian NTB pada triwulan IV mengalami kontraksi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya karena menurunnya produksi sektor unggulan.

  "Aktivitas sektor-sektor unggulan seperti sektor pertanian,  pertambangan dan penggalian mengalami penurunan, sehingga nilai tambah yang diciptakannya menurun," katanya.

  Menurut dia, penurunan produksi sektor pertanian disebabkan adanya penurunan produksi pada sub sektor tanaman bahan makanan, perkebunan dan perikanan.

  Faktor musiman cukup berpengaruh pada produksi pertanian tanaman bahan makanan dan perkebunan.

  Beberapa komoditi pertanian tanaman bahan makanan berada pada siklus musim tanam, sehingga produksinya menurun dibanding triwulan III.

  Soegarenda menambahkan, komoditi tembakau merupakan komoditi unggulan sub sektor perkebunan telah melewati puncak produksinya.

  "Cuaca tidak ramah di akhir tahun 2011, seperti angin kencang/badai menghambat aktivitas para nelayan untuk menangkap ikan di laut, sehingga produksi ikan merosot. Hal itu juga mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi di triwulan IV," katanya.

  Sementara menurunnya produksi di sektor pertambangan dan penggalian, kata dia, disebabkan menurunnya produksi konsentrat tembaga PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) yang beroperasi di Batu Hijau, Kabupaten Sumbawa Barat.

  Hal itu berdampak pada penciptaan nilai tambah sub sektor pertambangan non migas yang cenderung jauh lebih rendah dibandingkan triwulan III 2011.

  Oleh karena peranan sub sektor pertambangan non migas dalam pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi NTB terbesar di antara  sub sektor yang lain, maka penurunan nilai tambah tersebut menarik pertumbuhan ekonomi Provinsi NTB ke arah negatif.

  "Jika tanpa sub sektor pertambangan dan penggalian, maka laju pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan IV 2011 tumbuh minus 1.52 persen. Jadi memang peran sektor pertambangan cukup besar," katanya.

  Menurut dia, dampak dari menurunnya produksi bahan makanan dapat mengganggu stabilitas perekonomian NTB. Persediaan yang terbatas dari produksi harus diimbangi dengan persediaan impor, jika tidak sebanding akan dapat memacu inflasi.

  "Inflasi Provinsi NTB yang terjadi pada triwulan IV 2011 diperkirakan mencapai 2,24 persen. Inflasi yang terjadi lebih disebabkan karena adanya kenaikan harga pada kelompok bahan makanan," katanya. (*)

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026