Mataram, 8/5 (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat meminta dukungan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, untuk memperlancar peringatan dua abad meletusnya Gunung Berapi Tambora, di Pulau Sumbawa, yang diagendakan April 2015.

  "Dalam pertemuan koordinasi itu kami minta dukungan Badan Geologi dan pihak terkait lainnya agar mendukung kelancaran peringatan dua abad meletusnya Gunung Tambora," kata Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Nusa Tenggara Barat (NTB) Eko Bambang Sutedjo, usai pertemuan koordinasi di ruang kerja Wakil Gubernur NTB, di Mataram, Selasa.

  Pertemuan koordinasi itu digelar bersama Sekretaris Badan Geologi Dr Ir Yun Yunus Kusumahbrata, yang juga dihadiri sejumlah peneliti Georisk Project-BGR Jerman. 

  Georisk Project-BGR Jerman merupakan lembaga peneliti bentukan Lembaga Pengetahuan Kebumian dan Sumber Daya Alam Republik Federal Jerman (BGR), yang sudah terlibat dalam berbagai penelitian tentang gerakan tanah dan bencana beraspek geologi di sejumlah daerah di Indonesia.  

  Dalam pertemuan itu, Yunus mengungkapkan program rencana studi "georisk" di Pulau Lombok, dan mengharapkan kerja sama dengan Pemerintah Provinsi NTB.

  Selain itu, Badan Geologi juga menawarkan dukungan penanganan daerah-daerah yang kekurangan air bersih, melalui pengembangan sumur bor.

  Badan Geologi juga menawarkan dukungan percepatan pengembangan geopark (taman bumi) Pulau Lombok. Selain Rinjani, Lombok memiliki karakter geologi yang khas yakni di Pantai Selatan Pulau Lombok, tepatnya di Tanjung An, berupa hamparan pasir putih yang dihiasi goa karang.

  Eko mengatakan, Badan Geologi dan mitra kerjanya Georisk Project-BGR Jerman, cukup antusias menyambut permintaan Pemprov NTB itu.

  "Mereka berjanji akan mengupayakan dukungan untuk kelancaran peringatan dua abad meletusnya Gunung Tambora, yang akan digelar dua tahun lagi," ujarnya.

  Menurut Eko, Pemprov NTB mulai mempersiapkan "roadmap" atau pedoman teknis untuk menggelar peringatan dua abad meletusnya Gunung Berapi Tambora itu.

  "Roadmap" itu merupakan acuan utama bagi instansi terkait untuk terlibat aktif dalam kegiatan memperingati dua abad meletusnya Gunung Tambora.

  Pemprov NTB berharap "roadmap" itu didukung Keputusan Presiden (Keppres) sehingga selain unsur pemerintah daerah, juga adanya keterlibatan instansi terkait di tingkat pusat.

  "Kalau ada Keppres tentang peringatan dua abad meletusnya Gunung Tambora, maka akan ada dukungan dana pusat, selain anggaran daerah. Selain itu, sejumlah kementerian akan berpartisipasi aktif," ujarnya.

  Diharapkan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Kementerian Kehutanan dan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kembudpar), terlibat aktif dalam kepanitiaan peringatan dua abad meletusnya Gunung Tambora.

  Eko mengatakan, terdapat tiga agenda besar dalam peringatan dua abad meletusnya Gunung Tambora, yakni kegiatan sosialisasi sekaligus promosi keunggulan Gunung Tambora, pengembangan situs dan daya tarik wisata, dan pengembangan infrastruktur pendukung seperti jalan dan pelabuhan laut.

  Gunung Tambora atau Tomboro adalah sebuah stratovolcano aktif yang terletak di dua kabupaten di Pulau Sumbawa, yaitu Kabupaten Dompu (sebagian kaki sisi selatan sampai barat laut, dan Kabupaten Bima (bagian lereng sisi selatan hingga barat laut, dan kaki hingga puncak sisi timur hingga utara), Provinsi NTB.

  Gunung Tambora terletak di sisi utara maupun selatan kerak oseanik, yang terbentuk oleh zona subduksi di bawahnya dan berada pada ketinggian sampai 4.300 meter persegi sehingga pernah menjadi salah satu puncak tertinggi di Nusantara dan mengeringkan dapur magma besar di dalam gunung itu, padahal diperlukan waktu seabad untuk mengisi kembali dapur magma tersebut.

  Aktivitas vulkanik gunung berapi ini mencapai puncaknya pada bulan April tahun 1815 ketika meletus dalam skala tujuh pada Volcanic Explosivity Index.

  Letusan tersebut menjadi letusan tebesar sejak letusan danau Taupo pada tahun 181, karena letusan Gunung Tambora terdengar hingga pulau Sumatera (lebih dari 2.000 km).

  Abu vulkanik jatuh di Kalimantan, Sulawesi, Jawa dan Maluku. Letusan gunung ini menyebabkan kematian hingga tidak kurang dari 71.000 orang dengan 11.000—12.000 di antaranya terbunuh secara langsung akibat dari letusan tersebut.

  Bahkan beberapa peneliti memperkirakan sampai 92.000 orang terbunuh, meski angka tersebut diragukan karena berdasarkan atas perkiraan yang terlalu tinggi lantaran tiga kerajaan yakni Kerajaan Pekat, Tambora dan Sanggar, dilaporkan ikut terkubur.

  Saat itulah diperkirakan kapal kuno terkubur bersama awaknya dalam letusan Gunung Tambora.

  Selain itu, letusan Gunung Tambora juga menyebabkan perubahan iklim dunia, yang mencuat satu tahun berikutnya (1816) yang sering disebut sebagai tahun tanpa musim panas karena perubahan drastis dari cuaca Amerika Utara dan Eropa karena debu yang dihasilkan dari letusan Tambora itu.

  Akibat perubahan iklim yang drastis ini banyak panen yang gagal dan kematian ternak di Belahan Utara yang menyebabkan terjadinya kelaparan terburuk pada abad ke-19. (*)

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026