Mataram, 6/12 (ANTARA) - Dekan Fakultas Peternakan Universitas Mataram Prof Yusuf Ahyar Sutaryono menilai Program Nusa Tenggara Barat Bumi Sejuta Sapi belum diimbangi ketersediaan pakan yang memadai dan berkualitas untuk mendukung produktivitas ternak ruminansia tersebut.
  "Selama ini pemerintah belum terlalu memikirkan masalah pakan. Memang ada bantuan sosial yang diberikan untuk pengadaan sapi sekaligus pakan, tetapi nilai bantuan untuk membeli pakan tidak seberapa. Sekali pakai langsung habis," katanya di Mataram, Kamis.
  Menurut dia, masalah pakan merupakan salah satu kendala yang paling utama dalam mewujudkan program Nusa Tenggara Barat (NTB) Bumi Sejuta Sapi (BSS).
  Sebagian besar peternak sapi di Pulau Sumbawa dan Pulau Lombok hanya memanfaatkan rumput-rumputan sebagai pakan ternak. Padahal, pakan tersebut sewaktu-waktu sulit diperoleh terutama pada musim kemarau.
  Pada saat musim kemarau, tidak jarang peternak hanya memberikan pakan secara asal-asalan dan tidak berkualitas, sehingga kondisi berat badan sapi menurun atau kurus.
  Sementara sumber pakan lainnya seperti jerami belum terlalu dimanfaatkan sebagai sumber pakan alternatif. Padahal pakan itu memiliki protein yang cukup untuk meningkatkan berat badan sapi.
  Di sisi lain, kata Yusuf, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB juga belum memotivasi para peternak, terutama penerima bantuan sosial pengadaan sapi untuk menanam tanaman sebagai sumber pakan seperti lamtoro dan gamal.
  "Populasi sapi akan terus meningkat karena pemerintah terus menggenjot jumlah populasinya. Tetapi di sisi lain, lahan pakan semakin berkurang. Ini akan menjadi masalah bagi para peternak," ujarnya.
  Oleh sebab itu, ia menyarankan Pemerintah Provinsi NTB membuat pabrik pakan ternak yang memanfaatkan limbah pertanian, salah satunya jerami.
  Jerami yang sudah disimpan selama beberapa hari memiliki protein sekitar 3-5 persen. Namun jika ditambah dengan konsentrat maka kadar proteinnya akan semakin tinggi.
  "Jerami yang sudah diberikan konsentrat dengan perbandingan 80 persen berbanding 20 persen, terlebih dahulu digiling kemudian dibuat dalam bentuk pelet," katanya
  Formulasi itu sudah diteliti oleh Fakultas Peternakan Unram, namun belum diimplementasikan secara luas kepada para peternak.
  "Kami sudah sampaikan ke Pemerintah Provinsi NTB mengenai hal itu. Bahkan, saya sudah berkomunikasi dengan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), cuma belum ada respons," ujarnya.    
  Ia juga menyarankan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB  memberikan pendampingan kepada para peternak yang memperoleh bantuan untuk membuat pakan sendiri dengan memanfaatkan jerami yang bisa diperoleh di sekitar lingkungannya.
  "Kalau memang tidak bisa membuat industri pakan skala besar, kelompok peternak bisa diarahkan membuat pelet sendiri dari bahan jerami, sehingga mereka tidak lagi harus bersusah payah memikirkan pakan di saat musim kemarau. Apalagi sampai harus membeli pakan," ujarnya.

(ANT)

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026