Mataram, 30/6 (ANTARA) - Transaksi pasar lelang komoditi agro yang digelar Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Nusa Tenggara Barat (NTB), di Mataram, Selasa, mencapai Rp706,2 juta.

  Kepala  Bidang Perdagangan Dalam Negeri, Disperindag NTB,

  Rusniyati mengatakan, hasil lelang tersebut diperoleh dari enam komoditas yang berhasil dilelang, dan yang paling besar nilainya adalah beras jenis C4.

  "Beras yang berhasil dilelang mencapai 60 ton dengan harga Rp5.050/kg, dibeli oleh pengusaha dari Provinsi Bali," katanya.

  Komoditas lain yang  dilelang adalah jagung sebanyak 11 ton dengan harga jual Rp2.300/kg, rumput laut 10 ton dengan harga jual Rp8.500/kg, lengkuas 20 ton dengan harga jual Rp2.450/kg.

  "Dedak sebanyak 20 ton dengan harga 925/kg dan biji kopi gelondongan sebanyak enam ton dengan harga Rp2.800/kg serta biji kopi kupas 16 ton dengan harga Rp13.000/kg," katanya.

  Ia mengatakan, sebagian besar komoditas yang berhasil dilelang dalam pasar lelang komoditi agro ke-19 itu dibeli oleh pengusaha asal Bali yang diundang untuk hadir pada acara tersebut selain pengusaha dari Pulau Jawa dan Pulau Sumbawa, NTB.

  "Sebagian besar komoditas itu dibeli oleh pengusaha asal Bali yang memang rajin mengikuti kegiatan pasar lelang komoditi agro di NTB," katanya.

  Ia mengatakan, kegiatan pasar lelang komoditi agro tersebut semula akan dihadiri perwakilan dari salah satu PT Perkebunan Nusantara untuk melelang gula pasir dalam negeri kepada pedagang gula pasir antarpulau tedaftar (PGAPT) di daerah ini.

  "Mereka diundang untuk melelang gula secara langsung kepada PGAPT tanpa melalui pedagang perantara sehingga harga gula bisa lebih murah, namun karena sesuatu hal  mereka tidak hadir," katanya.

  Menurut dia, kegiatan pasar lelang komoditi agro bermanfaat sebagai media pemasaran untuk komoditas agro dengan mengedepankan transparansi harga.

  "Selain itu juga untuk memperpendek rantai pemasaran sehingga harga yang disepakati menguntungkan pembeli dan penjual,  dan yang paling penting adalah petani sebagai produsen bisa mengatur pola tanam dari komoditas yang berhasil dilelang," katanya. (*)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026