Mataram, 29/8 (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) sedang membenahi puluhan kilometer ruas jalan lintasan arus mudik lebaran di Pulau Sumbawa dan belasan kilometer di Pulau Lombok yang rusak.

   "Jalan lintasan arus mudik di Pulau Sumbawa yang rusak mencapai 70 kilometer dan di Pulau Lombok bisa belasan kilometer, namun menyebar di banyak tempat," kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU), H. Jalal, di Mataram, Sabtu.

   Ia mengatakan, jalan lintasan arus mudik itu pada umumnya masuk kategori jalan nasional, hanya sebagian kecil yang tergolong jalan provinsi atau kabupaten.

   Namun, pemerintah daerah tidak bisa hanya menunggu perbaikan jalan nasional itu, karena akan digunakan pemudik lebaran yang diperkirakan mulai ramai pada pekan kedua September mendatang.

   "Kami coba perbaiki dengan dana APBD yang ada. Pola perbaikan jalan arus mudik itu pun tidak rumit seperti tambal jalan yang berlubang agar tidak tergenang air saat hujan, karena anggaran perbaikan jalan secara permanen dialokasikan pada tahun 2010," ujarnya.

   Jalal mengakui, kerusakan jalan yang selama ini terjadi tidak terlepas dari sikap kurang tegas para petugas pengawas standar jalan terhadap pengguna truk angkutan barang melebihi tonase standar.

   Jalan nasional yang ada di wilayah NTB hanya mampu menahan beban angkutan maksimal delapan ton, jalan provinsi hanya enam ton dan jalan kabupaten hanya lima ton, sementara truk angkutan barang yang melintasi jalan tersebut mengangkut belasan hingga 20-an ton barang.

   Panjang jalan nasional di wilayah NTB mencapai 601 kilometer dan jalan provinsi sepanjang 1.800 kilometer. Jalan kabupaten panjangnya bervariasi sesuai kondisi daerah setempat.  

Jalan nasional di wilayah NTB antara lain ruas jalan dari Pelabuhan Lembar di Kabupaten Lombok Barat menuju Labuhan Lombok, Kabupaten Lombok Timur hingga Pelabuhan Poto Tano di Pulau Sumbawa dan jalan jurusan Sumbawa-Bima sampai di Pelabuhan Sape.

   Jalan nasional tersebut merupakan jalur jalan truk angkutan barang jenis tronton (daya angkut melebihi 20 ton) dari Pelabuhan Lembar di Pulau Lombok ke Pulau Sumba, melewati pelabuhan penyeberangan Poto Tano.

   Bahkan, truk tronton yang mengangkut barang dari Surabaya milik pengusaha di provinsi tetangga, Nusa Tenggara Timur (NTT) juga melintasi ruas jalan nasional di wilayah NTB itu.

   "Masalah itu sudah seringkali dikoordinasikan dengan instansi terkait seperti pengelola jembatan timbang, tetapi entah mengapa truk tronton masih saja lelulasa melintasi ruas jalan yang hanya mampu menahan tekanan maksimal delapan ton itu," ujarnya.

   Menurut Jalal, kemampuan menahan tekanan dan beban angkutan itu tidak sebanding sehingga konstruksi jalan terganggu dan akan mudah rusak sehingga harus terus ditingkatkan kualitasnya.

   "Kalau saja instansi teknis yang berwewenang mengawasi pengguna jalan nasional, provinsi dan kabupaten, bersikap tegas maka jalan yang ada aman dari ancaman kerusakan," ujarnya.(*)





Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026