Mataram (ANTARA) - DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengusulkan pembangunan kastorit atau gudang penyimpanan berstandar agar harga komoditas bawang merah bisa selalu stabil dan tidak merugikan petani.
"Nusa Tenggara Barat butuh kastorit. Kalau hanya disimpan di ruang terbuka, maka kualitas bawang merah menurun," ujar Anggota Komisi II DPRD NTB Hulaemi saat ditemui di Mataram, Rabu.
Hulaemi mengatakan gudang kastorit dapat membuat mutu, berat, dan kualitas bawang merah utuh meski disimpan dalam waktu yang cukup lama.
Menurutnya, Nusa Tenggara Barat sebagai produsen bawang merah terbesar ketiga secara nasional setelah Jawa Tengah dan Jawa Timur saat ini belum memiliki gudang kastorit.
DPRD NTB mendorong pemerintah daerah agar mengalokasikan anggaran untuk pembangunan gudang kastorit agar memperkuat ketahanan pangan daerah serta menjaga stabilitas harga di tingkat petani terkhusus saat memasuki masa panen raya.
"Kalau harga bawang di bawah Rp15 ribu per kilogram petani pasti rugi dan sekarang Rp25 ribu masih bagus. Kita harus siapkan skema untuk mengantisipasi gejolak harga ke depan," ucap Hulaemi.
Pada 3 September 2025, harga bawang merah rata-rata di Nusa Tenggara Barat menurut laporan Dinas Perdagangan NTB senilai Rp34.400 per kilogram. Padahal dua pekan lalu pada 15 Agustus 2025 harga rata-rata bawang merah masih bertengger di angka Rp43.267 per kilogram.
Setiap hari harga bawang merah terus mengalami penurunan lantaran saat musim kemarau jumlah produksi bawang cenderung melimpah.
Baca juga: Kementan kucurkan dana Rp7 Miliar, Produksi padi di Lombok Tengah digenjot
Hulaemi memperingatkan masyarakat bahwa awal tahun 2026 ada potensi kelangkaan dan lonjakan harga jika tidak ada pengendalian sejak dini. Saat musim hujan produksi bawang merah seringkali menurun akibat terdampak hama dan penyakit.
"Saat surplus seperti sekarang harus ada yang disisihkan untuk Desember dan Januari agar harga tetap stabil," ujarnya.
Bawang merah Nusa Tenggara Barat termasuk komoditas yang diminati konsumen luar wilayah. Ketika bawang tidak diserap di pasar lokal, maka pengusaha menjual bawang merah itu ke daerah lain maupun nagara lain.
Baca juga: Pemprov NTB mewanti-wanti petani tanam komoditi pertanian tahan cuaca
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2024, angka produksi bawang merah di Nusa Tenggara Barat sebanyak 1,59 juta kuintal. Jumlah itu mengalami penurunan bila dibandingkan tahun 2023 yang mencapai 2,12 juta kuintal.
Fenomena El Nino dan La Nina turut mempengaruhi produksi bawang merah karena kondisi iklim tersebut mempengaruhi curah hujan.