Mataram (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mewanti-wanti para petani agar menanam komoditi pertanian yang tahan terhadap perubahan cuaca supaya tidak menimbulkan kerugian besar akibat gagal panen.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB Taufieq Hidayat mengatakan, saat musim kemarau basah seperti yang terjadi tahun ini petani sebaiknya menanam padi, bukan tembakau.
"Kami selalu mewanti-wanti kepada petani untuk memilih komoditi pertanian yang tahan cuaca," ujarnya di Mataram, Jumat.
Dia menuturkan, fenomena La Nina yang membuat musik kemarau sering terjadi hujan hanya cocok untuk tanaman yang membutuhkan banyak air, seperti padi.
Bila petani menanam komoditi tembakau, maka tanaman bisa rusak akibat kelebihan air. Sistem pengairan tembakau harus terukur dan teratur, sehingga kurang cocok ditanam dalam kondisi anomali iklim.
"Tembakau boleh ditanam di area yang memiliki air tidak teratur," kata Taufieq.
Baca juga: Kementan kucurkan dana Rp7 Miliar, Produksi padi di Lombok Tengah digenjot
Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB mencatat sebanyak 90 persen lahan baku sawah di Nusa Tenggara Barat dipakai untuk menanam tembakau. Luas lahan tembakau mencapai 39 ribu hektare.
Setiap musim kemarau, petani di Nusa Tenggara Barat selalu mengalih-fungsikan lahan baku sawah untuk ditanami tembakau karena tanaman genus Nicotiana itu dapat tumbuh baik dalam kondisi kering dan sedikit hujan.
Kini banyak lahan tembakau yang sudah ditanami mengalami kerusakan akibat curah hujan tinggi dan tergenang air.
Beberapa penyakit tembakau yang sering muncul akibat hujan adalah busuk batang, jamur, dan keriting daun.
Baca juga: Biaya pembuatan barcode BBM untuk alat pertanian di Lombok Tengah gratis
Umur tembakau tergolong panjang butuh waktu enam bulan hingga panen, sedangkan padi hanya perlu waktu tiga bulan.
Oleh karena itu, petani harus sering membaca informasi dari BMKG tentang prakiraan cuaca dan iklim sepanjang tahun untuk menyesuaikan komoditi budidaya.
"Sekarang karena hujan cocok padi karena padi suka air. Kami mengarahkan petani untuk fokus menanam komoditi pangan," pungkas Taufieq.
Baca juga: BRIDA NTB siapkan inovasi peningkatan produksi komoditas unggulan
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kemarau basah dipicu oleh dinamika atmosfer regional dan global berupa suhu muka laut yang hangat, angin monsun aktif, serta La Nina dan Indian Ocean Dipole (IOD) negatif.
Kemarau basah membuat hujan tetap turun meski musim kemarau. La Nina saat ini dalam kondisi lemah dan sedang menuju fase netral.
Fenomena itu diperkirakan berlangsung hingga Agustus 2025, kemudian diikuti masa transisi (pancaroba) pada September sampai November, dan musim hujan mulai Desember 2025 hingga Februari 2026.
Baca juga: Anggota DPR RI dorong pemanfaatan energi listrik untuk pertanian
Baca juga: Kementerian Pertanian tingkatkan produksi bawang putih di Lombok Timur
Baca juga: Penurunan nilai tukar petani NTB akibat fluktuasi harga komoditas pertanian
Baca juga: Kementerian Pertanian serahkan 15 unit mesin pemanen padi ke NTB
Pewarta : Sugiharto Purnama
Editor:
Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026