Mataram, 26/9 (ANTARA) - Masyarakat Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu, "menyerbu" pedagang busung atau janur kuning untuk dijadikan bahan ketupat dan jajan bantal, yakni kue yang terbuat dari ketan, guna menghadapi Lebaran Ketupat atau Lebaran Topat.
Lebaran Topat dirayakan masyarakat Lombok seminggu setelah hari Raya Idul Fitri, atau tepatnya pada Minggu (27/9) dengan memakan ketupat sehari suntuk sebagai pengganti nasi.
Dari hasil pantauan di Mataram, ibu-ibu membeli janur kuning yang jumlahnya antara 50 lembar hingga 100 lembar dengan harga Rp4.000 per 20 lembar.
Sementara bahan ketupat yang sudah jadi atau sudah dianyam harganya Rp7.500 per 20 biji, sementara pedagang janur kuning membanjiri pasar-pasar tradisional seperti pasar Dasan Agung, Kebun Roek, Ampenan dan Pasar Cakranegara.
Pedagang janur kuning datang dari Gunungsari, Kekait, Medas dan Duman, Kabupaten Lombok Barat, dan mereka hanya berjualan hari ini sementara besoknya sudah tidak ada.
Salah serang pedagang janur kuning Inaq Saodah (50) asal Medas, mengatakan, harga janur kuning sekarang ini naik dari Rp2.000 per 20 lembar menjadi Rp4.000 per 10 lembar.
Naiknya harga janur kuning, karena ongkos orang yang memanjat pohon kelapa cukup mahal, yakni Rp5.000 per pohon sebelumnya hanya Rp2.500 per pohon.
"Di samping itu, janur kuning sudah semakin langka, karena pohon kelapa banyak yang ditebang untuk kebutuhan bahan bangunan," katanya.
Kegiatan merayakan Lebaran Topat akan dipusatkan di Desa Batulayar kawasan obyekwisata Senggigi, Lombok Barat dan akan dihadiri Gubernur NTB, KH M Zainul Madji dan Wakil Bupat Lombok Barat, H. Izzul Islam.
Kabag Humas Pemprop NTB, Andi Hadiyanto mengatakan, Lebaran Topat kini menjadi tradisi masyarakat Lombok sehingga oleh Dinas Pariwisata NTB Lebaran topat dijadikan salah satu kalender pariwisata.
Masyarakat ramai ke obyek wisata Batu Layar, karena sebuah perbukitan di Batu Layar terdapat makam yang konon disebut makam seorang wali dari Bagdad, Iraq yang meninggal setelah menyebarkan agama Islam di Lombok.
Di makam Batu Layar masyarakat berziarah sekaligus melakukan kegiatan Selakaran atau pembacaan Barzanji, zikir dan berdoa untuk keselamatan dunia dan akhirat.
Di samping itu, ada pula masyarakat yang "ngurisan" atau cukuran bayi dan tidak luput para pemuda dengan membawa bunga rampai datang ke makam Batu Layar agar diberikan jodoh sesuai pasangan yang diinginkan.(*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026