Mataram,  (ANTARA) - Kasus HIV/AIDS di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) terus meningkat dan dalam tiga tahun terakhir ini sudah 68 orang warga yang meninggal dunia.

   "Kasus HIV/AIDS di NTB ini sudah sangat mencemaskan karena 68 orang diantaranya telah meninggal dunia, sehingga perlu disikapi semua pihak," kata Kepala Sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi NTB, Drs H. Muchtar, SE, di Mataram (27/11).

   Ia mengatakan, kasus HIV/AIDS di wilayah NTB dalam tiga tahun terakhir ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan hingga mencapai 278 kasus sampai 11 November 2009.

   Pengidap HIV di tahun 2006 sebanyak 15 orang dan AIDS sebanyak 36 orang, meningkat menjadi 21 orang pengidap HIV dan 57 orang AIDS di tahun 2007.

   Di tahun 2008, pengidap HIV terdata sebanyak 137 orang dan pengidap AIDS bertambah menjadi 83 orang, termasuk enam orang yang semula hanya terindikasi mengidap HIV.  
Kini, pengidap HIV telah mencapai 163 orang dan AIDS 115 orang sehingga total pengidap HIV/AIDS sebanyak 278 orang.

   Dari 115 orang pengidap AIDS itu, sebanyak 68 orang diantaranya sudah meninggal dunia, sisanya 47 orang masih hidup namun kondisi tubuhnya terus melemah.

   Pengidap HIV/AIDS di wilayah NTB terbanyak berusia 25-29 tahun kemudian usia 30-34 tahun dan usia 20-24 tahun.

   Para pengidap HIV/AIDS itu terbanyak berdomisili di Kota Mataram, ibu kota Provinsi NTB yakni sebanyak 127 orang, kemudian Kabupaten Lombok Timur 48 orang, Lombok Barat 40 orang.

   Sumbawa Barat 24 orang, Lombok Tengah 27 orang, Sumbawa empat orang, Dompu tiga orang, Kabupaten Bima dan Kota Bima masing-masing dua orang.

   "Itu berarti jumlah warga NTB yang meninggal karena AIDS terus bertambah setiap tahun, seiring dengan semakin meningkatnya jumlah pengidap virus HIV/Aids itu," ujarnya.

   Menurut Muchtar, penyalahgunaan narkotika, obat-obatan terlarang dan zat adiktif melalui jarum suntik ikut menentukan peningkatan pengidap HIV/AIDS di wilayah NTB, meskipun bukan faktor yang mendominasi.

   Sejauh ini, virus HIV/AIDS yang beredar di kalangan warga NTB lebih banyak disebabkan oleh sikap heteroseksual.

   Data versi Dinas Kesehatan NTB, pengguna jarum suntik dalam penyalagunaan narkoba sampai Juni 2006 mencapai 23 orang dan meningkat menjadi 100 orang lebih sampai 11 Nopember 2009.

   "Penularan virus HIV/AIDS melalui jarum suntik itu terbanyak pada usia produktif yakni 20-39 tahun. Sebagian berstatus pelajar dan mahasiswa. Ada juga bayi yang mengidap HIV/AIDS," ujarnya.

   Sementara data versi Direktorat Narkoba Polda NTB, dari 164 tersangka kasus narkoba, sebanyak 22 orang diantaranya merupakan pelajar dan mahasiswa.(*)

Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026