Bima, NTB, 16/12 (ANTARA) - Kelompok mahasiswa Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STIK) Bima bentrok dengan pemuda yang diduga preman saat menggelar unjuk rasa di gedung DPRD Kabupaten Bima, Rabu siang.
Dari Bima ANTARA melaporkan, kelompok mahasiswa yang beberapa diantaranya menggunakan jaket almamater berwarna kuning sempat melempari gedung DPRD Kabupaten Bima hingga kaca pecah dan jatuh berantakan.
Mahasiswa juga merobohkan pagar pembatas kompleks DPRD Kabupaten Bima itu karena kesal ketika lama menunggu namun tidak seorang pun pejabat DPRD Kabupaten Bima yang menemui mereka.
Sementara kelompok pemuda yang diduga preman melakukan perlawanan terhadap aksi anarkis mahasiswa itu hingga sejumlah mahasiswa luka-luka dianiaya.
Kelompok preman yang diperkirakan berjumlah 25 orang itu ditengarai merupakan pihak pendukung pejabat yang tengah berkuasa di Kabupaten Bima, yang marah ketika ratusan mahasiswa menggelar aksi protes terhadap pembangunan gedung STAIS Bima yang diduga menyimpangkan anggaran sebesar Rp2,5 miliar itu.
Aparat kepolisian Polresta Bima berupaya melerai agar tidak terjadi korban tewas, karena beberapa mahasiswa telah mengucurkan darah segar dan situasi menjadi tidak terkendali.
Selain perlawanan terhadap kelompok preman yang menyerang mereka, lebih dari 100 orang mahasiswa itu juga berhadapan dengan pasukan anti huru hara (PHH) Polresta Bima.
Kantor DPRD Kabupaten Bima itu masih berada di wilayah Kota Bima sehingga aparat Polresta Bima terlibat aktif dalam pengamanan aksi massa itu.
Kapolresta Bima, AKBP Tjatur Abrianto, yang terjun langsung ke lapangan mengatakan, pihaknya sempat mengamankan 10 orang mahasiswa dan pemuda yang diduga preman itu untuk dimintai keterangan.
"Kami amankan 10 orang dan mintai keterangannya, sekalkigus menasehatinya agar tidak terprovokasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab," ujarnya.
Menurut Abrianto, tindakan anarkis mahasiswa itu terjadi ketika mahasiswa kesal setelah lama menunggu namun tidak seorang pun anggota DPRD setempat yang menemui mereka.
Namun, ia sangat menyayangkan tindakan anarkis itu, apalagi ada keterlibatan kelompok pemuda yang yang diduga preman itu.
"Demo boleh-boleh saja, tetapi mengapa mesti lempar batu dan merusakan barang-barang," ujarnya. (*)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026