Jakarta (ANTARA)- Selama lebih dari satu abad, sebuah titik di bukti sebelah tenggara London telah diakui sebagai titik pusat waktu dunia dan titik resmi awal setiap hari baru.
    Namun, masa kejayaan 'Greenwich Mean Time' (GMT) akan segera pudar dengan dibangunnya menara jam raksasa di Kota Mekah, yang akan menjadi acuan waktu bagi 1,5 miliar umat muslim di dunia.
    Jam raksasa itu mulai berdetak Kamis waktu setempat yang juga menjadi hari pertama ibadah puasa menyambut Bulan Ramadhan.
    Jam raksasa itu juga terletak di pusat mega kompleks yang dibangun oleh pemerintah Arab Saudi dan di sana juga akan didirikan hotel-hotel, pusat perbelanjaan, dan gedung pertemuan.
    Dibangun mirip dengan Menara St Stephen, tempat ikon kota London, Jam Big Ben, dan Empire State Building di Amerika Serikat, menara baru di Arab Saudi itu berusaha mengalahkan rival Inggrisnya dari segala sisi.
    Keempat wajah dari jam itu berdiameter 151 kaki dan akan disorot oleh dua juta lampu LED yang berdampingan dengan huruf Bismillah.
    Jam itu akan memberlakukan 'Arabia Standard Time' yang lebih cepat tiga jam dari GMT.
    Di puncaknya yang berkilauan terpasang simbol bulan sabit untuk melambangkan Islam dan bangunan itu akan berdiri setinggi hampir 2000 kaki, menjadikannya gedung tertinggi kedua di muka bumi.
    Big Ben, sebagai perbandingan, hanya setinggi 316 kaki dan diameternya 23 kaki.
    Jam raksasa di kota tersuci bagi umat Islam itu juga berfungsi sebagai penanda saat Sholat lima waktu bagi warga Kota Mekah.
    Sejumlah 21.000 lampu berwarna hijau dan putih akan bernyala ketika saat Salat tiba dan cahayanya akan terlihat sampai jarak 18 mil.
    Para ilmuwan Islam berharap pengaruh dari jam itu tak hanya sekedar Arab Saudi karena jam itu hanya sebagian dari rencana untuk menjadikan Mekah pengganti Observatorium Greenwich sebagai 'pusat dunia'.
    Selama 125 tahun komunitas Internasional telah menerima bahwa untuk mengukur permulaan dari setiap hari harus dimulai dari garis meridian utama, pada bujur nol derajat, yang memang melintasi Observatorium Greenwich.
    Standar waktu kemudian ditetapkan ditetapkan untuk mengatur lalu lintas transportasi dan komunikasi dunia, tetapi bagi dunia Islam gagasan itu dianggap sebagai bagian dari penjajahan.
    "Menempatkan Waktu Mekkah di wajah Greenwich Mean Time adalah tujuannya," kata Mohammed al-Arkubi, pengelola dari sebuah hotel di kompleks jam raksasa Mekah itu.
    Menurut Yusuf al-Qaradawi, seorang ulama asal Mesir yang terkenal dengan acara televisinya yang populer 'Syariah dan Kehidupan', Mekah memiliki klaim yang lebih kuat untuk menjadi meridian utama karena 'secara sempurna selaras dengan kutub utara'.
    Pendapat yang mengklaim bahwa Kota Suci Mekah adalah 'zona dengan daya magnetis nol' didukung oleh beberapa ilmuwan Arab seperti Abdel-Baset al-Sayyed dari pusat riset nasional Mesir (Egyptian National Research Centre).
    "Itulah alasannya mengapa jika seseorang ke Mekah atau menetap di sana, ia berumur lebih panjang, lebih sehat, dan kurang terpengaruh oleh grafitasi bumi," kata al-Sayyed. "Anda terus dipenuhi oleh energi," ia menambahkan.
    Ilmuwan Barat menyangkal pandangan-pandangan itu dan mengatakan bahwa Magnet Kutub Utara sebenarnya garis bujur yang hanya melewati Kanada, Amerika Serikat, Meksiko, dan Antartika.(*)

Pewarta :
Editor :
Copyright © ANTARA 2024