Mataram (ANTARA) - Fana dunia, 
jika dihadapi hanya dengan cara dunia, 
tak ada selesainya. 

Fatamorgana dunia, 
bisa dijalani, 
dengan cara-cara ukhrawi di bumi. 

Bumi, 
tak pengap lindap, 
tak berakhir sia-sia,
manusia menuju nirwana.

-----
Larik torehan perasaan pada penggalan di atas, penulis kirim kepada beberapa kawan, melarung perasaan yang dihinggap haru bertubi-tubi. Betapa tidak, berkisar dua pekan kemarin, kita mendengar banyak kabar kedukaan yang melanda warga Jakarta. Betapa tingkat kematian dan keterdampakan paparan Corona Virus Disease 2019 mengalami lonjakan dahsyat, dengan varian baru yang begitu cepat laju keterjangkitannya. Kini telah mengalami pelandaian di sana.

Pekan-pekan ini, kabar itu kian dekat, sayup-sayup nyata ada di sekitar kita. Kendaraan ambulans berseliweran, meraung bersahutan, tak biasa sepadat hari biasanya. Deretan beberapa tokoh di Nusa Tenggara Barat telah mendahului. Meninggal begitu cepat dan bertubi-tubi dalam waktu yang nyaris bersamaan. Sungguh suatu nestapa, sungguh keadaan yang memilukan diantara ikhtiar para pasien, keluarga dan para medis yang berjibaku dengan langkah akhir untuk menyelamatkan nyawa. Ada yang masih bertahan, ada yang sembuh, ada pula yang tak bisa tertolong lagi. 

Bagi yang masih bertahan melalui isolasi mandiri di rumah atau tempat tertentu maupun perawatan medis melalui fasilitas kesehatan seperti rumah sakit atau tempat rujukan. Tampak dari media, pasien yang belum terkendali penuh atas keterpaparan. Sementara itu, tempat-tempat vaksinasi banyak dijubeli warga yang datang, lantaran ingin divaksin. Dilema terhadap keadaan ini menimbulkan spekulasi dan ketegangan. Kendati, kita mesti sadari bahwa situasi panik tak akan bisa menyelesaikan masalah dengan holistik. Sedangkan aparat TNI, Polri, serta aparatur pemerintahan telah mengelola keadaan dengan kesigapan yang terukur.

Bahwa sarana penunjang medis dari sisi kelangkaan oksigen telah dipastikan pemerintah provinsi terjamin pasokannya. Baru-baru ini, Gubernur NTB Dr Zulkieflimansyah MSc berkunjung ke salah satu pabrik produk oksigen. Memastikan oksigen di NTB memadai. Adapun vaksinasi, kini sedang diintensifkan kepada seluruh segmentasi masyarakat untuk divaksin. Pada akhirnya diharapkan dapat memunculkan kekebalan komunal yang memperkecil potensi keterpaparan dari Covid-19. 

Bagi yang telah mengalami kesembuhan, ini merupakan anugerah dari Tuhan, ikhtiar dan litani do'a orang-orang baik. Kesembuhan, rasanya disyukuri dengan mendonorkan diri (plasma konvalesen). Sebab, pastinya banyak di antara pasien berharap bahwa charity kemanusiaan ini dapat membangun spirit persaudaraan antarmanusia, apapun latarnya. Menolong sesama penyintas dan yang terdampak Covid-19. Masa krisis medis seperti ini pulalah, mustajabnya amalan kemanusiaan. 

Pemerintah pusat dan pemerintah daerah hingga ke kabupaten/kota, desa/kelurahan sedang bergiat program vaksinasi massal yang diperuntukkan bagi warga, disesuaikan dengan ketersediaan pasokan vaksin yang ada dan terus dicukupkan jumlahnya. Selain itu pula, ada pengobatan gratis terkait isolasi mandiri, serta bantuan sosial untuk masyarakat. Kesemuanya ditujukan untuk menghentikan laju keterjangkitan Covid-19. Pengejawantahan konstitusional: "Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia...".

Sedangkan bagi yang tak bisa tertolong, sebagaimana takdir yang dikehendaki Tuhan. Musibah kematian, bila telah datang saatnya, tak bisa dimajukan maupun dimundurkan waktunya. Izinkan penulis sedikit bercerita. Hari itu (24/7/2021), awal pagi subuh mendapatkan kabar bahwa Mantan Kepala Desa H Lalu Hamdan di desa tempat penulis artikel, dikabarkan meninggal dunia. Sempat turut ke pemakaman, sedang di pemakaman, menerima kabar bahwa pensiunan birokrat Kabupaten Lombok Utara yang juga tokoh budaya Datu Jatadi Putra SH meninggal dunia. Berduka lara.

Pada sekuel lain, masih hari yang sama, mendengar kabar bahwa politisi santun, senior penulis artikel ini saat di HMI/KAHMI, mantan Komisioner KPU NTB periode 2003-2008 H Zainul Aidi SP meninggal dunia di Yogyakarta. Sontak tak percaya, karena tak ada informasi bahwa beliau sakit sebelumnya. Sakit yang singkat, sesaat setelah mengantar anak beliau melanjutkan studi. Beberapa pekan sebelumnya sempat saling kontak untuk memantapkan sayap organisasi kemasyarakatan yang dipimpinnya. Belum kering derai kesedihan, malamnya seliweran informasi dari kanal whatsapp, bahwa Akademisi Universitas Mataram sekaligus tokoh intelektual agung bersahaja HMI/KAHMI HM Husni Muadz PhD juga telah berpulang ke rahmatullah. Sungguh pilu. Beliau konsisten memadukan das sein-das sollen, hampir 27 tahun pengkajian berkala pada ranah pemikiran luhur intelektualnya.

Tak berselang kemudian, masih pada hari yang sama, ada kabar lagi dari media sosial: Mantan Wakil Walikota Bima H Umar H Abubakar, Staf Khusus Gubernur NTB yang juga Mantan Petinggi PT Newmont Nusa Tenggara Malik Salim, Pensiunan Birokrat Dikpora NTB Drs HL Wiramaya meninggal dunia. Sehari sebelumnya (23/7/2021), kita berduka pula, Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Mataram saat awal reformasi Ir Suharto Tjitrohardjono mendahului ke alam barzah. Dua hari setelahnya (25/7/2021), Birokrat Muda Camat Mataram Edwin Zamroni SSTP kembali ke haribaan. Setidaknya itulah yang tersampaikan hari-hari itu, di antara (mungkin) ada yang tak sempat tersiar. Tokoh-tokoh itu telah berpulang ke haribaan Tuhan yang merahmatinya. 

Keadaan sebagai takdir, menempa ketabahan dan kesabaran hingga pada puncak ketulusikhlasan. Sebagaimana Imam Ghazali, terkait sikap sufistik iman terhadap kematian mengatakan: "Ikhlaslah, ikhlaslah, ikhlaslah". Kendati memang berat, ada netizen yang baru beberapa pekan, kemarin, atau ada yang kemarin lusa chatingan, video call, dan teleponan. Seketika mendapat kabar, sang tokoh telah meninggal dunia. Getir lunglai seolah tak percaya, tetapi nyata. Kita sedih berduka. Litani zikir dan munajat do'a untuk almarhum, para tokoh dengan segenap pengabdian dan darma baktinya. Semoga tenang lapang dan husnulkhatimah. Keluarga yang ditinggalkan pun diberkati kesabaran dan ketabahan, serta para almarhum mangkat menuju nirwana, aamiin.

Dengan sebab Corona ataupun lainnya, kematian tak bisa dihindari. Lantunan kidung anyar bertajuk "Corona" ciptaan grup musik religi Bimbo, lirik pada bait akhir setidaknya merepresentasi asa litani ke haribaan: "... Ya Tuhan, selamatkan kami…" semua. Bagi kita yang masih diberikan nafas kehidupan, dari ulasan takziah ada pesan terbetik, masa pandemi dianjurkan memperbanyak zikir. Litani yang terpanjatkan akan kebesaran serta keagungan Tuhan. Tentu saja, tetap menerapkan Protokol Kesehatan Covid-19. Do'a, ikhtiar, tawakal berpasrah pada Tuhan. Kita laik berduka.

----------------
Penulis adalah Kepala Bagian Humas dan Protokol Pemkab Lombok Utara, NTB 

Pewarta : Mujaddid Muhas, M.A.
Editor : Riza Fahriza
Copyright © ANTARA 2024