Lombok Utara (ANTARA) - Kemajuan ilmu kedokteran seharusnya membuat penyakit infeksi yang dapat dicegah dengan imunisasi semakin jarang ditemukan. Namun kenyataannya, campak masih menjadi ancaman nyata bagi anak-anak di Indonesia. Dalam beberapa waktu terakhir, Indonesia kembali menghadapi Kejadian Luar Biasa (KLB) campak, sebuah kondisi yang menunjukkan bahwa penularan penyakit ini masih terjadi secara luas di masyarakat.

Salah satu faktor yang paling berperan adalah menurunnya cakupan imunisasi dalam beberapa tahun terakhir. Ketika jumlah anak yang tidak mendapat imunisasi lengkap meningkat, maka perlindungan komunitas ikut menurun, dan virus lebih mudah menyebar.

Campak bukan sekadar penyakit ruam biasa. Penyakit yang dalam istilah medis dikenal sebagai measles, rubeola, atau morbili ini merupakan infeksi virus yang sangat menular. Penularannya terjadi melalui droplet, yaitu percikan ludah saat penderita batuk atau bersin. Virus campak bahkan dapat bertahan hidup hingga dua jam di udara bebas, sehingga seseorang dapat tertular meskipun tidak kontak langsung dengan penderita.

Secara klinis, campak memiliki perjalanan penyakit yang khas dan terbagi dalam tiga fase.

Fase pertama adalah fase prodromal, berlangsung selama 2–4 hari. Pada fase ini anak biasanya mengalami demam tinggi disertai batuk (cough), pilek (coryza), dan mata merah (conjunctivitis) yang dikenal sebagai gejala 3C. Pada sebagian kasus dapat ditemukan bercak putih kecil di rongga mulut atau Koplik spot, yang merupakan tanda khas campak.

Fase berikutnya adalah fase eksantem, ketika ruam merah mulai muncul dari belakang telinga, kemudian menyebar ke wajah, leher, dada, lengan, badan, hingga tungkai. Penyebaran ruam yang bertahap ini menjadi ciri penting yang sering dikenali oleh orang tua.

Setelah itu masuk ke fase konvalesens, yaitu fase penyembuhan. Ruam secara perlahan berubah menjadi kecokelatan dalam 3–4 hari, kemudian menghilang dalam waktu 7–10 hari.

Walaupun sering dianggap akan sembuh sendiri, campak dapat menimbulkan komplikasi serius. Komplikasi yang dapat terjadi meliputi pneumonia, otitis media (infeksi telinga), meningitis atau radang otak, diare berat, hingga kematian, terutama pada anak dengan daya tahan tubuh rendah atau status gizi kurang.

Penanganan campak bersifat simtomatik, artinya disesuaikan dengan gejala yang dialami anak. Istirahat cukup, pemberian cairan yang adekuat, obat penurun panas, serta suplementasi vitamin A merupakan bagian penting dari terapi. Vitamin A terbukti membantu memperkuat respons imun dan menurunkan risiko komplikasi.

Namun yang paling penting adalah pencegahan. Imunisasi MR/MMR tetap menjadi langkah perlindungan utama terhadap campak. Imunisasi diberikan mulai usia 9 bulan, dilanjutkan dosis kedua pada usia 15–18 bulan, dan dosis ketiga pada usia 5–7 tahun.

Selain imunisasi, orang tua juga perlu membiasakan anak menjaga kebersihan tangan, menerapkan etika batuk, serta menghindari kontak dengan penderita campak.

Campak adalah penyakit yang bisa dicegah, tetapi hanya jika perlindungan diberikan sebelum infeksi terjadi. Menunda imunisasi berarti membuka peluang virus untuk menyerang anak-anak yang seharusnya dapat terlindungi.

Di tengah meningkatnya kembali kasus campak, kesadaran orang tua untuk melengkapi imunisasi menjadi sangat penting. Karena pada akhirnya, langkah sederhana hari ini dapat mencegah risiko besar di masa depan.

Salam sehat,

*) Penulis adalah DokterSpesialis Anak di RSUD Kota Mataram dan RSIA Permata Hati dan RSUD Lombok Utara





COPYRIGHT © ANTARA 2026