Lombok Timur (ANTARA) - Ramadhan merupakan bulan istimewa bagi umat Islam yang setiap tahunnya menghadirkan suasana spiritual yang berbeda dari bulan-bulan lainnya. Di seluruh penjuru negeri, masjid-masjid kembali hidup dengan qiyamulail, tadarus Al-Qur’an, serta berbagai aktivitas keagamaan yang memperkuat dimensi habluminallah relasi vertikal antara manusia dan Tuhan.
Puasa yang dijalankan pada siang hari bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan juga pengendalian diri dari hawa nafsu, ucapan yang buruk, dan perilaku yang merugikan orang lain. Sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, tujuan utama puasa adalah membentuk insan yang bertakwa. Ketakwaan tersebut tidak berhenti pada ritual personal, tetapi harus terwujud dalam kesalehan sosial.
Dalam perspektif Islam, dimensi habluminannas—hubungan antarsesama manusia merupakan bagian integral dari ketakwaan. Ramadhan menjadi momentum penguatan solidaritas sosial melalui zakat, infak, dan sedekah. Al-Qur’an dalam Surah Al-Hadid ayat 18 dan Al-Baqarah ayat 261 menegaskan janji Allah SWT untuk melipatgandakan pahala bagi mereka yang gemar bersedekah. Bahkan, Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Tirmidzi menyebutkan bahwa sedekah yang paling utama adalah sedekah di bulan Ramadhan.
Tradisi memberi makan orang yang berpuasa juga menjadi bagian dari penguatan empati sosial. Rasulullah SAW bersabda, “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807 dan Ibnu Majah no. 1746). Pesan moral hadis ini menegaskan bahwa Ramadhan adalah bulan berbagi, bukan hanya bulan beribadah secara individual.
Dalam konteks kebangsaan, pesan kepedulian sosial Ramadhan menjadi semakin relevan. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa kemiskinan ekstrem masih menjadi tantangan serius di berbagai daerah di Indonesia. Di sejumlah provinsi, termasuk Nusa Tenggara Barat, angka kemiskinan ekstrem masih menyentuh lebih dari dua persen penduduk atau setara ratusan ribu jiwa yang hidup dalam keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar.
Kondisi tersebut menuntut kehadiran negara dan partisipasi aktif masyarakat. Program zakat fitrah, infak, sedekah, serta pembagian takjil dan bantuan sembako yang dilakukan pemerintah, lembaga zakat, organisasi kemasyarakatan, hingga komunitas warga menjadi bentuk konkret implementasi nilai-nilai Ramadhan. Momentum ini tidak hanya meringankan beban ekonomi masyarakat miskin, tetapi juga memperkuat kohesi sosial di tengah tantangan ketimpangan.
Ramadhan pada akhirnya bukan sekadar perayaan spiritual tahunan, melainkan ruang refleksi kolektif bangsa. Ketakwaan yang lahir dari ibadah puasa semestinya bertransformasi menjadi kepedulian nyata terhadap kelompok rentan. Kesalehan individual harus berbanding lurus dengan keberpihakan sosial.
Dengan demikian, Ramadhan menjadi pengingat bahwa pembangunan bangsa tidak cukup ditopang oleh pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga oleh solidaritas dan empati. Ketika nilai-nilai ketakwaan bertemu dengan kepedulian sosial, di situlah Ramadhan menemukan makna terdalamnya—sebagai energi moral untuk membangun Indonesia yang lebih adil dan berkeadaban.
*) Penulis adalah mahasiswa IAIH Pancor Lombok Timur
COPYRIGHT © ANTARA 2026