Jakarta (ANTARA) - Ketua Indonesia Sport Nutritionist Association (ISNA), Dr. Rita Ramayulis, DCN, M. Kes, membagikan sejumlah tip bagi orang tua yang ingin mengenalkan pola makan atau diet vegan pada anak dengan mengatur menu harian yang cukup.

“Cara pengaturan menu harian sebetulnya simpel. Pertama, orang tua harus tahu terlebih dahulu berapa kebutuhan anaknya terhadap kelompok makanan pokok, protein, sayur, dan buah. Orang tua harus mengerti bahwa setiap kelompok usia itu membutuhkan berapa protein,” kata Rita kepada ANTARA, Senin.

Sebagai contoh, pada bayi yang memasuki usia 6 bulan memerlukan konsumsi MPASI 4 bintang atau unsur gizi, yakni karbohidrat, protein hewani, protein nabati, dan sayuran. Namun pada kasus vegan, mereka tak bisa mengonsumsi protein hewani sehingga protein nabati bisa ditingkatkan menjadi dua kali lipat.

Kedua, ketika kebutuhan protein nabati anak telah terpenuhi, orang tua perlu mengetahui jenis nabati yang lebih unggul, baik dari segi zat gizi maupun segi proses penyerapannya. Salah satu pangan yang unggul tersebut adalah tempe, sehingga, kata Rita, orang tua wajib menjadikannya sebagai pangan harian dalam pemenuhan protein.

Ketiga, mereka juga harus memodifikasi dengan makanan-makanan dengan fortifikasi atau menambahkan mikronutrien, terutama fortifikasi vitamin B12 dan zat besi.

Memang, vitamin B12 dan zat besi heme hanya bisa didapatkan dari pangan hewani, seperti daging sapi. Namun, kata Rita, hal tersebut dapat disiasati dengan makanan hasil fortifikasi sehingga orang tua tidak perlu khawatir jika gizi anak tidak terpenuhi.

“Keempat, buah-buahan itu jumlahnya harus lebih ditingkatkan dibandingkan dengan anak yang non-vegan,” tuturnya.

Rita mengatakan vitamin C yang ada pada buah-buahan sangat diperlukan untuk meningkatkan penyerapan kalsium yang didapat dari susu nabati serta membantu penyerapan zat besi yang didapat dalam bentuk non-heme.

Menurut Rita, mengenalkan pola makan vegan pada anak pada prinsipnya sama seperti mengenalkan makanan baru, dimulai dengan tahap pemahaman dan pengetahuan tentang diet tersebut.

“Ketika mereka mendapatkan pemahaman itu, ketersediaan atau akses untuk makanan nabati juga harus lebih mudah untuk didapatkan anak, terutama ketika dia di luar rumah,”

Mengondisikan anak untuk mengonsumsi pangan berbasis nabati di dalam rumah mungkin relatif mudah, namun mereka akan kesulitan menemukan pangan yang benar-benar berbasis nabati saat berada di luar rumah. Oleh sebab itu, kata Rita, anak mula-mula harus diberikan bekal nabati yang telah disiapkan orang tua.

Selain itu, anak-anak juga masih menginginkan cita rasa, tekstur, dan bentuk makanan yang sama seperti teman-temannya yang non-vegan. Hal ini dapat disiasati dengan makanan-makanan kesukaan anak sebelumnya yang diolah menjadi berbasis nabati.

Sebagai contoh, saat ini di pasaran sudah tersedia pilihan menu nugget nabati yang berbasis tempe atau olahan jamur yang difortifikasi dan dibentuk menyerupai ikan.

“Anak perlu dikondisikan tidak terlalu berbeda dengan teman-temannya sampai kemudian mereka memiliki pemahaman yang kuat bahwa dirinya adalah vegan. Kalau itu sudah terbentuk, maka anak akan mencoba mencari sendiri pangan-pangan yang cocok untuknya,” ujar Rita.
 

Pewarta : Rizka Khaerunnisa
Editor : Riza Fahriza
Copyright © ANTARA 2024