Washington (ANTARA) - Suar (debu) surya yang tidak lazim yang telah diamati observatorium ruang angkasa NASA, Rabu WIB, bisa menyebabkan gangguan pada satelit komunikasi dan energi di Bumi selama beberapa hari ke depan atau lebih.

Ledakan keras dari Matahari telah melepaskan badai radiasi pada tingkat yang tidak pernah disaksikan sejak 2006, dan kemungkinan akan mengantar pada aktivitas badai geomagnetik, Rabu waktu AS atau Kamis WIB esok, demikian National Weather Service seperti dikutip AFP.

"Yang satu ini sedikit dramatis," kata Bill Murtagh, koordinator program di Pusat Peramalan Cuaca Ruang Angkasa NWS seraya menggambarkan surya suar M-2 (berukuran medium) yang memuncak pada pukul 1.41 pagi waktu Amerika Serikat bagian timur atau 05.41 GMT.

"Kami melihat suar awal muncul dan itu tidak sebesar itu tetapi kemudian muncul erupsi yang berkaitan  dengan itu -- kami mendapat radiasi partikel energi  yang mengalir masuk dan kami mendapati injeksi massa korona yang besar," kata dia.

"Anda bisa melihat semua material meledak dari Matahari sehingga cukup luar biasa untuk dilihat."

Observatorium dinamika Matahari milik NASA yang diluncurkan tahun lalu dan menghasilkan gambar-gambar dan video berdefinisi tinggi mengenai peristiwa itu, digambarkan sebagai "mengagumkan secara visual," tetapi ditegaskan bahwa karena erupsi tidak secara langsung mengarah ke Bumi, maka pengaruhnya diharapkan tetap "agak kecil."

"Partikel-partikel awan besar membesar dan jatuh kembali seolah menutupi satu area hampir separuh dari permukaan Matahari," kata NASA dalam satu pernyataan.

Murtagh mengatakan para analis cuaca ruang angkasa melihat dengan teliti untuk melihat apakah peristiwa itu akan menyebabkan benturan medan magnet Matahari dan Bumi yang jauhnya kira-kira 93 juta mil (150 juta kilometer).

"Sebagian dari tugas kami di sini adalah memantau dan menentukan apakah peristiwa itu diarahkan Bumi karena pada dasarnya material yang meledak keluar adalah gas berisi gabungan medan magnet," kata dia kepada AFP.

"Dalam satu hari atau lebih dari sekarang. kami memperkirakan beberapa dari material itu menabrak kita  dan menciptakan satu gelombang geomagnetik," katanya.

"Kami tidak mengharapkannya menjadi benar-benar dahsyat tetapi itu bisa menjadi semacam badai bertingkat moderat."

Pusat Peramalan Cuaca Ruang Angkasa mengatakan peristiwa itu "ditaksir menyebabkan tingkat aktivitas badai geomagnetik G1 (kecil) hingga G2 (sedang) besok, 8 Juni, mulai jam 18.00 GMT (Jumat WIB pukul 1 dini hari)."

Setiap aktivitas badai geomagnetik kemungkinan akan tuntas dalam 12-24 jam.

"Badai radiasi Matahari mencakup kontribusi yang signifikan dari proton energi tinggi, yang pertama muncul sejak Desember 2006," kata NWS.

Sebanyak 12 satelit dan pesawat ruang angkasa memantau heliosfer dan satu instrumen khususnya dalam orbiter peninjau bulan milik NASA yang mengukur radiasi dan dampaknya.

"Tentu saja selama (dua tahun)  hidup misi ini, peristiwa itu adalah yang terpenting," kata Harlan Spence, peneliti utama pada teleskop sinar kosmik untuk pengaruh radiasi atau CRaTER.

"Ini sungguh menarik karena ironisnya saat kami mengembangkan misi pada awalnya kami pikir kami akan meluncurkan lebih dekat ke Matahari paling banter saat partikel Matahari besar ini muncul," kata Spence kepada AFP.

"Sebagai gantinya kami meluncur ke dalam orbit Matahari bersejarah, minimal membutuhkan waktu sangat lama untuk bangun," kata dia.

"Ini menarik dan penting karena menunjukkan Matahari kembali kepada keadaan yang lebih aktif."

Badai geomagnetik yang dihasilkan bisa menyebabkan beberapa gangguan dalam kisi-kisi tenaga satelit-satelit yang mengoperasikan "global posotioning system" dan perangkat lain, dan bisa mencipta beberapa perubahan rute penerbangan di seluruh kutub, kata Murtagh.

"Biasanya itu tidak akan menyebabkan masalah besar, itu hanya membutuhkan pengelolaan," kata dia.

"Bila anda terbang dari Amerika Serikat ke Asia, terbang di atas Kutub Utara, ada lebih dari selusin penerbangan setiap hari," kata dia.

"Selama badai radiasi besar ini beberapa maskapai penerbangan akan mengubah rute penerbangan menjauhi wilayah kutub demi alasan keamanan demi memastikan mereka bisa terus berkomunikasi.

"Orang-orang yang mengoperasikan satelit juga akan mengawasi hal ini karena badai geomagnetik bisa bertentangan dengan satelit-satelit dalam berbagai cara, baik satelit itu sendiri maupun sinyal yang datang dari panel penerima (receiver)."

Aurora borealis (cahaya utara) dan aurora australis (cahaya selatan) jkemungkinan akan juga bisa dilihat dalam beberapa jam terakhir pada tanggal 8 atau 9 Juni, demikian NASA.(*)

Pewarta :
Editor :
Copyright © ANTARA 2024