Pertemuan G20 AMR sorot pengaruh antimikroba
Kamis, 30 Juni 2022 17:53 WIB
Direktur Pasca-Sarjana Universitas YARSI Prof Tjandra Yoga Aditama saat menjadi pembicara dalam G20 AMR Side Event Meeting Rabu (29/6/2022). ANTARA/HO-YARSI
Jakarta (ANTARA) - Direktur Pasca-Sarjana Universitas YARSI Prof Tjandra Yoga Aditama mengemukakan Forum G20 AMR Side Event Meeting menyoriti tentang potensi penyakit infeksi yang tidak bisa disembuhkan karena pengaruh antimikroba.
"Antimikroba merupakan masalah besar dunia saat ini, bahkan disebut sebagai silent epidemic. Kalau tidak ada upaya memadai, maka dunia dapat masuk ke era di mana antimikroba, termasuk antibiotika, antijamur, antivirus, antiparasit dan lainnya, menjadi tidak mempan lagi untuk mengobati infeksi di dunia, di negara G20, dan di Indonesia tentunya," kata Tanda Yoga Aditama melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis.
Tjandra mengatakan antimikroba berisiko memicu masalah besar bagi kesehatan manusia, karena penyakit menular akan makin merajalela tanpa terkendali karena tidak bisa disembuhkan.
Baca juga: Kemenkumham serahkan sertifikat paten empat akademisi Undana
Pada agenda G20 AMR Pre-event Meeting yang diselenggarakan Rabu (29/6) malam, mengusung topik tentang peran surveilans sebagai tulang punggung pencegahan dan pengendalian antimicrobial resistance.
Di akhir sesi juga dibahas tentang kemungkinan target apa yang dapat dijadikan surveilans bersama antarnegara, baik dalam bentuk patogen yang spesifik, fenotipe resisten, penanda molekuler dan atau grup antimikrobial tertentu.
Pada sesi ke dua, dibahas tentang upaya mengintegrasikan surveilans dalam cakupan One Health atau metode harmonisasi manusia, hewan, dan lingkungan.
Pada sesi itu disampaikan pengalaman yang sudah dilakukan selama ini dalam bentuk tricycle project, regional networks ReLAVRA di Amerika Serikat dan inisiatif baru di Asia dalam bentuk ASIARSNET.
"Antimikroba merupakan masalah besar dunia saat ini, bahkan disebut sebagai silent epidemic. Kalau tidak ada upaya memadai, maka dunia dapat masuk ke era di mana antimikroba, termasuk antibiotika, antijamur, antivirus, antiparasit dan lainnya, menjadi tidak mempan lagi untuk mengobati infeksi di dunia, di negara G20, dan di Indonesia tentunya," kata Tanda Yoga Aditama melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis.
Tjandra mengatakan antimikroba berisiko memicu masalah besar bagi kesehatan manusia, karena penyakit menular akan makin merajalela tanpa terkendali karena tidak bisa disembuhkan.
Baca juga: Kemenkumham serahkan sertifikat paten empat akademisi Undana
Pada agenda G20 AMR Pre-event Meeting yang diselenggarakan Rabu (29/6) malam, mengusung topik tentang peran surveilans sebagai tulang punggung pencegahan dan pengendalian antimicrobial resistance.
Di akhir sesi juga dibahas tentang kemungkinan target apa yang dapat dijadikan surveilans bersama antarnegara, baik dalam bentuk patogen yang spesifik, fenotipe resisten, penanda molekuler dan atau grup antimikrobial tertentu.
Pada sesi ke dua, dibahas tentang upaya mengintegrasikan surveilans dalam cakupan One Health atau metode harmonisasi manusia, hewan, dan lingkungan.
Pada sesi itu disampaikan pengalaman yang sudah dilakukan selama ini dalam bentuk tricycle project, regional networks ReLAVRA di Amerika Serikat dan inisiatif baru di Asia dalam bentuk ASIARSNET.
Pewarta : Andi Firdaus
Editor : I Komang Suparta
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Menkes mengimbau masyarakat tak membeli antibiotik tanpa resep dokter
08 December 2024 10:44 WIB, 2024
Gelandang Amr Warda dicoret dari skuat Mesir gara-gara kirim pesan cabul
27 June 2019 6:30 WIB, 2019
PEMIMPIN LIGA ARAB AMR MUSSA AKAN CALONKAN DIRI SEBAGAI PRESIDEN MESIR
28 February 2011 16:31 WIB, 2011
Terpopuler - Lingkungan
Lihat Juga
FKIJK NTB dan MIM Foundation salurkan genset bagi penyintas banjir di Aceh
02 January 2026 15:01 WIB
Gunung Semeru hari ini alami 16 kali erupsi, tinggi letusan capai 1.100 meter
03 December 2025 10:28 WIB
Sembilan orang terseret banjir bandang di Agam, Sumatera Barat masih dalam pencarian
28 November 2025 13:35 WIB
BMKG prediksikan puncak musim hujan di Sulteng September hingga April 2026
16 September 2025 15:52 WIB