Jakarta (ANTARA) - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengatakan AMR Warrior Campaign merupakan upaya memperkuat pemahaman dan komitmen pemangku kepentingan terhadap pendekatan One Health, yaitu integrasi kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan, dalam pengendalian resistensi antimikroba (AMR).
Kepala BPOM Taruna Ikrar ketika dikonfirmasi di Jakarta, Rabu, mengatakan AMR bukan isu masa depan, melainkan krisis yang sedang berlangsung saat ini.
Jika tidak dikendalikan bersama, katanya, dunia dapat memasuki era post-antibiotik, ketika infeksi yang sebelumnya mudah diobati menjadi mematikan. Karena itu, pengendalian AMR harus menjadi gerakan bersama lintas sektor.
Dia menjelaskan kasus resistansi terhadap antibiotik turunan penisilin telah mencapai angka 43 persen atau setara dengan hampir 300 ribu orang di Indonesia. Dampak resistensi menyebabkan penyakit ringan tidak lagi dapat disembuhkan dengan antibiotik, sehingga mengancam nyawa pasien.
Dampak tersebut menjadikan AMR disebut sebagai silent pandemic yang diprediksi akan menyebabkan 10 juta kematian global pada tahun 2050.
“Data nasional menunjukkan bahwa 80 persen rakyat Indonesia menggunakan antibiotik tanpa resep dokter selama periode 2021 hingga 2024. Masyarakat menggunakan antibiotik secara tidak rasional dan menyimpang dari prinsip ilmu kefarmasian akibat penggunaan tanpa pengawasan medis,” katanya.
Menurutnya, isu AMR yang menjadi isu krusial dan harus segera dituntaskan. Oleh karena itu, katanya, forum tersebut menjadi ruang pertukaran praktik baik, penguatan sinergi kebijakan pusat dan daerah, serta mendorong lahirnya agen perubahan (AMR Champions) di berbagai lini.
Baca juga: Menkes mengimbau masyarakat tak membeli antibiotik tanpa resep dokter
Menurutnya, AMR bukan hanya tanggung jawab BPOM, Kementerian Kesehatan, maupun Dinas Kesehatan. ,elainkan juga lintas sektor lainnya, meliputi Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), hingga Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).
"Contohnya, sektor perikanan sering menggunakan antibiotik sebagai pakan udang yang berisiko membahayakan kesehatan manusia saat dikonsumsi. Sementara sektor pertanian sering menggunakan antibiotik sebagai pestisida untuk mengusir hama pada tanaman," ucapnya.
Taruna mengajak masyarakat menjadi bagian dari solusi. Melalui kombinasi pendekatan ilmiah dalam lokakarya dan gerakan publik melalui fun walk, BPOM berharap kesadaran kolektif terhadap bahaya resistansi antimikroba semakin meningkat.
Baca juga: Kemenko PMK tekankan konsep "One Health"
Manfaat dari kedua kegiatan itu tidak hanya memperkuat koordinasi lintas sektor, tetapi juga membangun literasi masyarakat agar lebih bijak dalam menggunakan antibiotik.
"Jadilah AMR Warrior, gunakan antibiotik sesuai resep dokter, habiskan sesuai aturan, dan jangan membeli tanpa resep. Dari Padang, kita kirim pesan kuat bahwa Indonesia bergerak melawan AMR," ucapnya.
BPOM menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat pengawasan obat, mendorong penggunaan antibiotik secara rasional, serta memperluas kampanye edukasi sebagai bagian dari strategi nasional pengendalian AMR.
Dengan kolaborasi yang solid antara pemerintah, tenaga kesehatan, pelaku usaha, dan masyarakat, lanjutnya, efektivitas antimikroba diharapkan tetap terjaga demi melindungi kesehatan generasi kini dan mendatang.
Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumatera Barat mengapresiasi inisiatif BPOM dalam mendorong penguatan pengendalian AMR di daerah.
"Kami menyambut baik pelaksanaan AMR Warrior Campaign di Sumatra Barat. Ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, akademisi, dan masyarakat. Pengendalian AMR tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri, diperlukan komitmen bersama agar penggunaan antibiotik semakin rasional dan bertanggung jawab," ujarnya.
Sebagai bentuk perluasan edukasi kepada masyarakat, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Fun Walk AMR Warrior Campaign di Pantai Purus Padang, Sumatera Barat, yang diikuti ratusan peserta dari berbagai kalangan. Kegiatan ini menjadi simbol bahwa perang melawan AMR tidak hanya dilakukan di ruang-ruang seminar, tetapi juga melalui gerakan publik yang masif dan partisipatif.
Pewarta : Mecca Yumna Ning Prisie
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026