Mataram (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengimbau masyarakat untuk berbelanja secara bijak dan tidak berlebihan agar tidak terjadi lonjakan harga bahan pangan yang seringkali terjadi menjelang bulan Ramadan.
Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah NTB Lalu Muhamad Faozal mengatakan pemintaan pasar yang tinggi saat awal Ramadan kerap memicu kenaikan harga pangan dan inflasi.
"Kepada seluruh masyarakat untuk berbelanja dengan bijak, tidak berlebihan, serta mengutamakan produk lokal kepada para pedagang," ujarnya di Mataram, Rabu.
Faozal menuturkan secara umum ketersediaan pangan dalam kondisi aman. Meski demikian, pemerintah tetap mencermati setiap gejolak komoditas pangan, seperti cabai rawit.
Harga cabai rawit merah di pasar induk Mandalika Bertais telah mencapai Rp95.000 per kilogram. Sedangkan, harga cabai rawit merah di pasar-pasar tradisional skala kecil sudah lebih dari Rp100.000 per kilogram.
Baca juga: Jelang Ramadhan, Cabai rawit Rp95 Ribu, NTB perketat distribusi
Harga eceran tertinggi cabai rawit merah hanya Rp57.000 per kilogram. Harga yang melambung tersebut dipengaruhi oleh kondisi cuaca, keterbatasan panen, distribusi ke luar daerah serta lonjakan permintaan menjelang bulan puasa.
"Pemerintah terus memastikan agar masyarakat dapat mengakses kebutuhan pokok dengan harga yang wajar menjelang Ramadan," kata Faozal.
Pemerintah NTB bersama pemangku kebijakan terus melakukan berbagai langkah konkret, di antaranya memasifkan informasi harga eceran tertinggi serta melaksanakan gerakan pangan murah di berbagai wilayah.
Baca juga: Harga cabai tembus Rp95 Ribu, Pemprov NTB turun tangan
Gerakan pangan murah tersebut digelar serentak di seluruh wilayah NTB mulai 13 Februari 2026.
"Ini sebagai upaya intervensi pasar agar masyarakat tetap tenang dan dapat menjalani ibadah Ramadan dengan khusyuk," pungkas Faozal.
Pada Januari 2026, data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut laju inflasi bulanan di NTB sebesar 0,27 persen. Komoditas dengan andil paling besar terhadap inflasi adalah emas perhiasan sebanyak 0,18 persen, ikan layang atau ikan benggol 0,10 persen, ikan bandeng 0,06 persen, tomat 0,05 persen, dan ikan teri 0,05 persen.
Ketua Tim Statistik Harga BPS NTB Muhammad Ahyar mengingatkan pemerintah daerah untuk mewaspadai potensi fluktuasi harga terutama saat Ramadan dan Lebaran yang selalu menyebabkan peningkatan permintaan barang.
Baca juga: Harga cabai di Mataram tembus Rp70 ribu per Kg, Naik dua kali lipat
Pewarta : Sugiharto Purnama
Editor:
Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026