Mataram (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat cabai rawit merah dan emas perhiasan menjadi komoditas penyumbang terbesar inflasi bulanan Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Februari 2026.

"Inflasi bulan ke bulan sebesar 0,84 persen. Angka ini berada di atas inflasi bulanan nasional sebesar 0,68 persen," kata Kepala BPS NTB Wahyudin di Mataram, Senin.

Wahyudin memaparkan lima komoditas penyumbang inflasi bulanan terbesar di NTB adalah cabai rawit dengan andil 0,35 persen, emas perhiasan 0,21 persen, udang basah 0,08 persen, daging ayam ras 0,07 persen, dan angkutan udara 0,06 persen.

Harga cabai rawit merah naik cukup signifikan menjelang bulan suci Ramadhan. Harga rawit sempat menembus Rp150 ribu per kilogram, sehingga memberi tekanan besar terhadap inflasi daerah.

Baca juga: Kabar baik! harga cabai di Lombok Tengah turun tajam

Harga cabai yang melambung disebabkan oleh terbatasnya pasokan dari petani lokal akibat gagal panen yang terjadi bersamaan dengan meningkatnya permintaan masyarakat menjelang Ramadan.

"Pada momen bulan puasa, tingkat konsumsi masyarakat cenderung meningkat dan hal ini mendorong naiknya harga bahan pangan di pasaran," ujar Wahyudin.

Lebih lanjut ia menyampaikan lonjakan emas perhiasan yang memicu tingginya angka inflasi daerah dipengaruhi kondisi geopolitik dunia.

Baca juga: Cabai masih Rp100 ribu, Gubernur NTB blusukan ke pasar Lombok Utara

Harga emas emas saat ini sudah berada di atas Rp3 juta per gram dan masih berpeluang merangkak naik. Situasi itu tidak terlepas dari konfrontasi di kawasan Timur Tengah, termasuk keterlibatan Amerika Serikat yang mempengaruhi harga emas dunia.

"Ketika harga emas dunia terpengaruh, maka harga emas di NTB dan Indonesia juga ikut terpengaruh," ucap Wahyudin.

BPS mencatat ada sejumlah komoditas yang memberikan andil deflasi, sehingga laju inflasi tidak meningkat lebih tinggi di Nusa Tenggara Barat.

Komoditas yang mengalami deflasi tersebut adalah ikan teri dengan andil 0,06 persen, bawang merah 0,04 persen, tomat 0,04 persen, bensin 0,03 persen, serta ikan layang/ikan layur 0,02 persen.

"Komoditas ini menekan laju inflasi agar tidak terlalu tinggi," pungkas Wahyudin.

Baca juga: Sumbawa Barat gelar pangan murah, cabai Rp200 ribu disubsidi 60 persen
Baca juga: Cabai Rp95 Ribu jelang Ramadan, Legislator NTB dorong diversifikasi produksi
Baca juga: Stok aman! Lombok Tengah datangkan cabai rawit 1 ton saat Ramadhan
Baca juga: Cabai tembus Rp100 Ribu, Warga NTB diimbau tak panic buying



Pewarta :
Editor: Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026