Kementan dorong percepatan industrialisasi pertanian berpihak ke petani
Selasa, 11 April 2023 6:38 WIB
Direktur Pembiayaan Pertanian Ditjen PSP Indah Megawati (ANTARA/ HO-Ist)
Mataram (ANTARA) - Memasuki bulan Maret dan April para petani holtikultura akan memulai masa panen, khususnya petani cabai yang perlu mendapatkan perhatian khusus agar hasil pertanian tersebut bisa terus diserap dan harganya tidak jatuh dipasaran.
Direktur Pembiayaan Pertanian Ditjen PSP Indah Megawati saat berkunjung ke Universitas Islam Malang Jatim, mengatakan komoditas cabai adalah komoditas yang mudah rusak sehingga perlu perhatian dan penanganan yang baik agar ketika masa panen para petani akan tetap mendapatkan keuntungan secara langsung, demikian keterangan tertulis diterima Antara, Selasa (11/4).
Menurut Indah, solusi untuk masalah tersebut adalah hilirisasi industri pertanian yang mandiri dan modern. Salah satunya dengan membuat komoditas cabai menjadi produk olahan seperti tepung cabai yang saat ini banyak diminati pasar internasional dan lokal.
“Saat ini kami hadir ke Unisma, Universitas Islam Malang. Ini merupakan satu universitas yang mempunyai laboratorium mengenai pengolahan hasil-hasil pertanian salah satunya adalah komoditi cabai ini yang nantinya akan dijadikan tepung cabe, menjadi cabe kering, menjadi pasta cabai dan sebagainya,” ucapnya.
Indah mengatakan cabai merupakan komoditas yang menyumbang inflasi tertinggi, sehingga dalam penanganannya harus benar-benar fokus dan serius.
“Kita benar-benar harus fokus dan harus serius dalam penanganan ini. Disaat ini, kebutuhan cabe baik untuk nasional, maupun untuk internasional ekspor itu sangat tinggi terutama dinegara Amerika, Eropa, Saudi Arabia. Dimana mereka sangat menyenangi rasa spicy. Nah, untuk itu kita supaya bisa memenuhi pasar international atau lokal harus dibangun industri cabe disentra-sentra produksi cabe,” katanya.
Kendati demikian, Indah menerangkan bahwa nantinya pengolahan industri cabai ini harus berbasis kepada industri rumahan dan harga mesin pengolahan cabai juga harus terjangkau petani agar saat panen raya para petani bisa membuat cabai olahan sehingga harganya tidak jatuh dipasaran.
“Kami datang ke Unisma, ingin melihat alat mesin pengolahan cabai yang harganya bisa terjangkau oleh petani kita, sehingga berapa pun seperti apa, ada panen raya dan sebagainya itu harga cabai tidak jatuh,” ucapnya.
Menurut Indah, para petani masih bisa memproses hasil panen cabai dan mengklasifikasikanya jadi beberapa tingkatan. “Jadi umpama ada yang bagus itu nanti bisa dikonsumsi segar yang greatnya agak rendah bisa untuk dikeringkan, yang greatnya agak tinggi nanti bisa dibuat tepung cabai,” ujar Indah.
Baca juga: Kementan kolaborasi APH menyukseskan program Jaga Pangan
Baca juga: FAO-Kementan meluncurkan Strategi Nasional E-Agriculture
Disebutkan, sejauh ini tepung cabai sangat disenangi oleh pasar internasional dan diminati oleh sejumlah resto, seperti resto Jepang Ramen atau mereka yang memerlukan cabai kering, tepung cabai dan lain sebagainya.
“Untuk itu kami dari Direktorat Pembiayaan hadir ingin melihat seberapa besar kita dapat nantinya bersama-sama bersinergi dengan petani, untuk memenuhi alat-alat industri pertanian terutama untuk komunitas cabai yang murah yang mudah didapat dan ini alat mesinnya adalah dari lokal,” tegasnya.
Indah menegaskan saat ini pihaknya tidak lagi impor dan memilih mesin-mesin buatan anak negeri sendiri. Salah satunya seperti mesin pengolahan cabai demi menuju industrialisasi pertanian yang maju, mandiri dan modern.
Direktur Pembiayaan Pertanian Ditjen PSP Indah Megawati saat berkunjung ke Universitas Islam Malang Jatim, mengatakan komoditas cabai adalah komoditas yang mudah rusak sehingga perlu perhatian dan penanganan yang baik agar ketika masa panen para petani akan tetap mendapatkan keuntungan secara langsung, demikian keterangan tertulis diterima Antara, Selasa (11/4).
Menurut Indah, solusi untuk masalah tersebut adalah hilirisasi industri pertanian yang mandiri dan modern. Salah satunya dengan membuat komoditas cabai menjadi produk olahan seperti tepung cabai yang saat ini banyak diminati pasar internasional dan lokal.
“Saat ini kami hadir ke Unisma, Universitas Islam Malang. Ini merupakan satu universitas yang mempunyai laboratorium mengenai pengolahan hasil-hasil pertanian salah satunya adalah komoditi cabai ini yang nantinya akan dijadikan tepung cabe, menjadi cabe kering, menjadi pasta cabai dan sebagainya,” ucapnya.
Indah mengatakan cabai merupakan komoditas yang menyumbang inflasi tertinggi, sehingga dalam penanganannya harus benar-benar fokus dan serius.
“Kita benar-benar harus fokus dan harus serius dalam penanganan ini. Disaat ini, kebutuhan cabe baik untuk nasional, maupun untuk internasional ekspor itu sangat tinggi terutama dinegara Amerika, Eropa, Saudi Arabia. Dimana mereka sangat menyenangi rasa spicy. Nah, untuk itu kita supaya bisa memenuhi pasar international atau lokal harus dibangun industri cabe disentra-sentra produksi cabe,” katanya.
Kendati demikian, Indah menerangkan bahwa nantinya pengolahan industri cabai ini harus berbasis kepada industri rumahan dan harga mesin pengolahan cabai juga harus terjangkau petani agar saat panen raya para petani bisa membuat cabai olahan sehingga harganya tidak jatuh dipasaran.
“Kami datang ke Unisma, ingin melihat alat mesin pengolahan cabai yang harganya bisa terjangkau oleh petani kita, sehingga berapa pun seperti apa, ada panen raya dan sebagainya itu harga cabai tidak jatuh,” ucapnya.
Menurut Indah, para petani masih bisa memproses hasil panen cabai dan mengklasifikasikanya jadi beberapa tingkatan. “Jadi umpama ada yang bagus itu nanti bisa dikonsumsi segar yang greatnya agak rendah bisa untuk dikeringkan, yang greatnya agak tinggi nanti bisa dibuat tepung cabai,” ujar Indah.
Baca juga: Kementan kolaborasi APH menyukseskan program Jaga Pangan
Baca juga: FAO-Kementan meluncurkan Strategi Nasional E-Agriculture
Disebutkan, sejauh ini tepung cabai sangat disenangi oleh pasar internasional dan diminati oleh sejumlah resto, seperti resto Jepang Ramen atau mereka yang memerlukan cabai kering, tepung cabai dan lain sebagainya.
“Untuk itu kami dari Direktorat Pembiayaan hadir ingin melihat seberapa besar kita dapat nantinya bersama-sama bersinergi dengan petani, untuk memenuhi alat-alat industri pertanian terutama untuk komunitas cabai yang murah yang mudah didapat dan ini alat mesinnya adalah dari lokal,” tegasnya.
Indah menegaskan saat ini pihaknya tidak lagi impor dan memilih mesin-mesin buatan anak negeri sendiri. Salah satunya seperti mesin pengolahan cabai demi menuju industrialisasi pertanian yang maju, mandiri dan modern.
Pewarta : ANTARA
Editor : I Komang Suparta
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Umum
Lihat Juga
Yayasan Puri Kauhan Ubud umumkan ide karya terbaik kompetisi seni pertunjukan dengan inovasi teknologi
05 September 2025 5:34 WIB
Konferprov PWI Bali 2025 secara aklamasi memilih Dira Arsana sebagai Ketua PWI periode 2025-2029
31 May 2025 7:19 WIB, 2025
Sinergi PKT BISA dongkrak produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani Magetan
20 May 2025 18:55 WIB, 2025
Pemilik tanah Gnyadnya minta keadilan peralihan tanahnya dipecah jadi 26 sertifikat
03 February 2025 20:22 WIB, 2025
Demplot Pupuk Kaltim di Jombang, hasil padi petani capai 9,2 ton per hektare
04 September 2024 15:31 WIB, 2024
Suara legislator, Reni Astuti sarankan ada peta banjir digital di Surabaya
27 February 2024 8:04 WIB, 2024