Mataram (ANTARA) - Permintaan kain tenun lombok di Nusa Tenggara Barat (NTB) saat ini melonjak, setelah sebelumnya sempat terdampak pandemi COVID-19.

Seorang perajin sekaligus pemilik industri kecil menengah (IKM) tenun dan perak di Desa Ungga, Kecamatan Praya Barat Daya, Kabupaten Lombok Tengah Farid Riski mengaku saat ini permintaan kain tenun Lombok meningkat drastis setelah sempat terdampak pandemi COVID-19.

"Kalau untuk tenun sekarang kami lagi ramai," ujar Farid Riski saat dihubungi melalui telepon dari Mataram, Kamis.

Ia mengatakan akibat tingginya permintaan, dalam sebulan dirinya bisa mengantongi omzet hingga Rp40 juta-Rp50 juta. Sedangkan harga per satu kain tenun dijual sebesar Rp700 ribu.

"Nilai Rp700 ribu itu harga yang kami jual di tingkat perajin, kalau di arshop harganya bisa sampai Rp1,5 juta hingga Rp3 juta untuk yang tertinggi," ujarnya lagi.

Farid mengaku kebanyakan pembeli yang datang adalah wisatawan dari sejumlah daerah di Indonesia dan juga masyarakat setempat. Bahkan, pembelinya para pemilik arshop di Pulau Lombok yang selama ini menjadi pelanggan setianya.

"Biasanya kalau wisatawan itu langsung datang beli ke tempat usaha," kata Farid.

Menurut dia, tingginya penjualan kain tenun ini tidak hanya di IKM miliknya. Tetapi seluruh perajin yang ada di Desa Ungga juga kebanjiran order.

"Sekarang saja kami lagi terima pesanan 100 lembar kain tenun dari asosiasi pengusaha mode Indonesia. Cuma untuk desain modelnya ini dari mereka langsung, kami yang buatkan tenunnya," ujarnya pula.

Farid menyatakan tingginya permintaan kain tenun Lombok tidak terlepas dari menggeliatnya dunia pariwisata di NTB. Selain itu, banyaknya kegiatan-kegiatan pameran fesyen yang dilaksanakan pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten dan kota juga ikut mendorong penjualan kain tenun Lombok.

"Jadi banyak kegiatan feshen tenun yang digelar baik nasional dan daerah ini, juga turut mendongkrak penjualan kain tenun NTB," katanya lagi.


 

Pewarta : Nur Imansyah
Editor : Riza Fahriza
Copyright © ANTARA 2024