Menag: MTQ lestarikan cara dakwah Walisongo
Minggu, 31 Juli 2016 12:20 WIB
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat menghadiri MTQ Nasional 2016 di Mataram, Sabtu (30/7/2016). (ANTARA/Anom Prihantoro) (1)
Mataram (ANTARA News) - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan Musabaqah Tilawatil Quran Nasional XXVI Mataram, Nusa Tenggara Barat melestarikan jenis dakwah budaya sebagaimana telah dicontohkan oleh Walisongo.
"MTQ ini mirip cara wali dalam berdakwah lewat tilawah," kata Lukman dalam acara pembukaan MTQN XXVI Mataram, Sabtu.
Menurut dia, berdakwah bisa dengan berbagai cara selama itu baik termasuk lewat seni baca Alquran.
Lukman mengatakan MTQN saat ini telah berkembang. Salah satu tolok ukurnya kategori lomba sudah semakin banyak atau tidak hanya cabang tilawah.
Dari semula kategori tilawah, kini sudah ada tujuh cabang. Keragaman cabang MTQN itu berkembang untuk kategori selain tilawah, di antaranya hafalan Alquran, tafsir Alquran, penulisan makalah ilmiah Alquran, khat ayat Alquran, syarhil Quran dan fahmil Quran.
Dari pengembangan kategori, kata Lukman, dapat semakin mendekatkan umat kepada Alquran. Dengan begitu, umat Islam akan semakin memahami Alquran yang berisi ajaran Islam dengan kasih sayangnya atau "rahmatan lilalamin".
"Rahmat memiliki makna kedamaian dan kemakmuran. Inilah seharusnya Indonesia menuju baldatun toyyibun wa rabbun ghafur yang bisa terwujud jika kita bisa melakukan revolusi mental dalam memaknai rahmat," kata dia.
Pengembangan lain dari MTQN kali ini adalah penerapan teknologi informasi e-MTQ yang meningkatkan transparansi perlombaan tilawatil quran tingkat nasional.
"Mari kita jadikan MTQ mulia yang membawa Alquran sebagai penyejuk yamg menenteramkan," kata dia.
Editor: Fitri Supratiwi
(*)
"MTQ ini mirip cara wali dalam berdakwah lewat tilawah," kata Lukman dalam acara pembukaan MTQN XXVI Mataram, Sabtu.
Menurut dia, berdakwah bisa dengan berbagai cara selama itu baik termasuk lewat seni baca Alquran.
Lukman mengatakan MTQN saat ini telah berkembang. Salah satu tolok ukurnya kategori lomba sudah semakin banyak atau tidak hanya cabang tilawah.
Dari semula kategori tilawah, kini sudah ada tujuh cabang. Keragaman cabang MTQN itu berkembang untuk kategori selain tilawah, di antaranya hafalan Alquran, tafsir Alquran, penulisan makalah ilmiah Alquran, khat ayat Alquran, syarhil Quran dan fahmil Quran.
Dari pengembangan kategori, kata Lukman, dapat semakin mendekatkan umat kepada Alquran. Dengan begitu, umat Islam akan semakin memahami Alquran yang berisi ajaran Islam dengan kasih sayangnya atau "rahmatan lilalamin".
"Rahmat memiliki makna kedamaian dan kemakmuran. Inilah seharusnya Indonesia menuju baldatun toyyibun wa rabbun ghafur yang bisa terwujud jika kita bisa melakukan revolusi mental dalam memaknai rahmat," kata dia.
Pengembangan lain dari MTQN kali ini adalah penerapan teknologi informasi e-MTQ yang meningkatkan transparansi perlombaan tilawatil quran tingkat nasional.
"Mari kita jadikan MTQ mulia yang membawa Alquran sebagai penyejuk yamg menenteramkan," kata dia.
Editor: Fitri Supratiwi
(*)
Pewarta : ANTARA News
Editor : Awaludin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Umum
Lihat Juga
Yayasan Puri Kauhan Ubud umumkan ide karya terbaik kompetisi seni pertunjukan dengan inovasi teknologi
05 September 2025 5:34 WIB
Konferprov PWI Bali 2025 secara aklamasi memilih Dira Arsana sebagai Ketua PWI periode 2025-2029
31 May 2025 7:19 WIB
Sinergi PKT BISA dongkrak produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani Magetan
20 May 2025 18:55 WIB
Pemilik tanah Gnyadnya minta keadilan peralihan tanahnya dipecah jadi 26 sertifikat
03 February 2025 20:22 WIB, 2025
Demplot Pupuk Kaltim di Jombang, hasil padi petani capai 9,2 ton per hektare
04 September 2024 15:31 WIB, 2024
Suara legislator, Reni Astuti sarankan ada peta banjir digital di Surabaya
27 February 2024 8:04 WIB, 2024