Manfaat riset manuskrip bagi pengetahuan modern
Jumat, 27 September 2024 16:04 WIB
Ilustrasi - Petugas dari Arsip nasional sedang membersihkan manuskrip Aceh, di Banda Aceh (ANTARA FOTO/Ampelsa)
Jakarta (ANTARA) - Kepala Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Sastri Sunarti mengungkapkan manfaat riset manuskrip, literatur, dan tradisi lisan bagi ilmu pengetahuan modern.
Dalam sebuah gelar wicara yang diikuti secara daring di Jakarta, Jumat, Sastri memaparkan riset manuskrip, literatur, dan tradisi lisan, bermaksud untuk menghubungkan antara pengetahuan dan kearifan lokal masyarakat Indonesia dengan ilmu pengetahuan modern, guna mencari kecocokan pengetahuan dan dapat dibuktikan secara saintifik, sebagai upaya pelestarian kearifan lokal tersebut.
"Contohnya seperti pengetahuan etnoastronomi yang ada di Amfoang, Kupang (NTT). Tentunya kita ingin membuktikan apakah pengetahuan tersebut sesuai dengan ilmu pengetahuan modern seperti sekarang," katanya.
Baca juga: Kolektor Australia hibahkan manuskrip Al Quran abad 17 ke Museum Negeri NTB
Ilmu etnoastronomi masyarakat setempat dibuktikan dengan adanya sejumlah istilah astronomi, seperti Noel Neno dalam astronomi Amfoang yang artinya sungai di langit. Sedangkan dalam astronomi modern disebut Bimasakti atau Milky Way.
Kemudian ada juga istilah Maklafu Kotog atau rasi Pleiadesy yang digunakan masyarakat Amfoang untuk penentuan akhir musim kering dan awal musim hujan.
"Beberapa di antara ilmu tersebut ada yang cocok dan sesuai, mungkin hanya penyebutan dan pemanfaatannya yang berbeda, seperti mereka memanfaatkan ilmu etnoastronomi untuk memanen madu hutan," ujarnya.
Sastri memaparkan masyarakat lokal Amfoang selama turun-temurun telah mengetahui kapan waktu yang tepat untuk memanen madu hutan melalui ilmu etnoastronomi yang dipahami.
Baca juga: Filolog pamer rempah dalam manuskrip Aceh
Mereka, sambungnya, memanfaatkan momentum di mana bintang kejora mulai redup atau menjelang subuh untuk memanen madu, karena pada saat itu masyarakat setempat meyakini keadaan lebah madu menjadi lebih tenang.
"Pada saat bintang kejora mulai redup atau menjelang subuh, nah itu ternyata mereka menemukan bahwa lebah menjadi lebih tenang, maka saat itulah waktunya memanen madu, karena di situ banyak tersedia. Itu adalah salah satu contoh bagaimana riset ini bisa memberi perspektif baru pada pengetahuan modern," ujarnya.
Oleh karena itu Sastri mengatakan kini pihaknya tidak hanya diseminasi berbagai hasil temuan tersebut kepada sesama periset, melainkan juga kepada komunitas dan masyarakat, agar budaya tersebut bisa dilestarikan, dan bisa memberikan manfaat finansial bagi masyarakat setempat.
Dalam sebuah gelar wicara yang diikuti secara daring di Jakarta, Jumat, Sastri memaparkan riset manuskrip, literatur, dan tradisi lisan, bermaksud untuk menghubungkan antara pengetahuan dan kearifan lokal masyarakat Indonesia dengan ilmu pengetahuan modern, guna mencari kecocokan pengetahuan dan dapat dibuktikan secara saintifik, sebagai upaya pelestarian kearifan lokal tersebut.
"Contohnya seperti pengetahuan etnoastronomi yang ada di Amfoang, Kupang (NTT). Tentunya kita ingin membuktikan apakah pengetahuan tersebut sesuai dengan ilmu pengetahuan modern seperti sekarang," katanya.
Baca juga: Kolektor Australia hibahkan manuskrip Al Quran abad 17 ke Museum Negeri NTB
Ilmu etnoastronomi masyarakat setempat dibuktikan dengan adanya sejumlah istilah astronomi, seperti Noel Neno dalam astronomi Amfoang yang artinya sungai di langit. Sedangkan dalam astronomi modern disebut Bimasakti atau Milky Way.
Kemudian ada juga istilah Maklafu Kotog atau rasi Pleiadesy yang digunakan masyarakat Amfoang untuk penentuan akhir musim kering dan awal musim hujan.
"Beberapa di antara ilmu tersebut ada yang cocok dan sesuai, mungkin hanya penyebutan dan pemanfaatannya yang berbeda, seperti mereka memanfaatkan ilmu etnoastronomi untuk memanen madu hutan," ujarnya.
Sastri memaparkan masyarakat lokal Amfoang selama turun-temurun telah mengetahui kapan waktu yang tepat untuk memanen madu hutan melalui ilmu etnoastronomi yang dipahami.
Baca juga: Filolog pamer rempah dalam manuskrip Aceh
Mereka, sambungnya, memanfaatkan momentum di mana bintang kejora mulai redup atau menjelang subuh untuk memanen madu, karena pada saat itu masyarakat setempat meyakini keadaan lebah madu menjadi lebih tenang.
"Pada saat bintang kejora mulai redup atau menjelang subuh, nah itu ternyata mereka menemukan bahwa lebah menjadi lebih tenang, maka saat itulah waktunya memanen madu, karena di situ banyak tersedia. Itu adalah salah satu contoh bagaimana riset ini bisa memberi perspektif baru pada pengetahuan modern," ujarnya.
Oleh karena itu Sastri mengatakan kini pihaknya tidak hanya diseminasi berbagai hasil temuan tersebut kepada sesama periset, melainkan juga kepada komunitas dan masyarakat, agar budaya tersebut bisa dilestarikan, dan bisa memberikan manfaat finansial bagi masyarakat setempat.
Pewarta : Sean Filo Muhamad
Editor : Abdul Hakim
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Menag Nasaruddin menilai Harmoni Imlek lekat dengan spiritual dan budaya Nusantara
01 March 2026 7:39 WIB
Cetak akademisi unggul, S2 STKIP Tamsis Bima bangun budaya riset sejak awal
28 February 2026 20:21 WIB
Tradisi vs modernisasi: Lombok Utara fokus musrenbang untuk pelestarian budaya
27 February 2026 13:43 WIB
Merawat demokrasi dari hal-hal yang sederhana: Refleksi budaya kerja Bawaslu Dompu
26 February 2026 14:13 WIB
Museum NTB diundang ke Australia, Wastra Lombok tembus panggung Internasional
25 February 2026 19:40 WIB
Konjen Inodonesia Noumea: Peringatan 130 tahun jaga identitas, budaya Jawa
17 February 2026 20:16 WIB
Terpopuler - Pendidikan
Lihat Juga
PLN NTB Dorong Literasi Kesehatan Anak Lewat Kolaborasi Mahasiswa Internasional
30 November 2025 23:16 WIB
Seni bercerita penting bagi komunikasi anak dan orang tua, kata Raffi Ahmad
16 November 2025 14:51 WIB
Ketua PBNU ajak santri & warga NU jangan kecil hati soal penghinaan pesantren
14 October 2025 15:34 WIB