Mataram (ANTARA) - Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Industri Tour dan Travel Indonesia (DPP AITTA) melakukan audiensi dengan Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa, membahas sinergi membangun premium tourism Indonesia, di Jakarta.
Pertemuan tersebut dimanfaatkan AITTA untuk menyampaikan profil kelembagaan dan rencana kerja jangka panjang yang diutarakan langsung oleh Sekretaris Jenderal DPP AITTA, Budi Rianto.
Dalam paparannya, AITTA menegaskan visinya sebagai "Rumah Besar Biro Perjalanan Wisata" yang inovatif, adaptif, dan berdaya guna tinggi guna mempercepat pertumbuhan industri pariwisata nasional.
Jajaran pengurus AITTA yang hadir meliputi Wakil Sekretaris Jenderal Miranti Adriana, Bendahara Umum Erna Yulia, Ketua Dewan Pakar Djohari Somad, Anggota Dewan Pakar Hj Nining Sustini Wiati, Wakil Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan I Gusti Bagus Putra, serta Wakil Ketua Bidang Ekonomi Kreatif Nunung Heri Nurcahyono.
Dalam sambutannya, Wampenpar Ni Luh Puspa, menyampaikan arah kebijakan strategis pemerintah dalam mendorong pariwisata berbasis minat khusus (special interest tourism). Fokus utama diarahkan pada tiga sektor unggulan: gastronomi (kuliner), wisata bahari, dan wellness tourism.
"Indonesia ditargetkan menjadi destinasi wisata premium yang tidak hanya indah secara alam, tapi juga kuat secara budaya, kesehatan, dan kualitas layanan," katanya.
Menanggapi tantangan tersebut, AITTA menawarkan sejumlah inisiatif konkret. Salah satunya adalah penyusunan blueprint pembangunan Premium Tourism yang menitikberatkan pada standardisasi layanan biro perjalanan wisata berbasis premium experience.
Selain itu, AITTA mengusulkan program pelatihan berkelanjutan bagi SDM pariwisata untuk memahami ekspektasi wisatawan premium, serta penguatan promosi digital melalui storytelling dan konten imersif.
Ketua DPD AITTA Nusa Tenggara Barat, Nunung Heri Nurcahyono, menegaskan pentingnya membangun sinergi antara pemerintah dan pelaku industri untuk mewujudkan Indonesia sebagai destinasi premium berdaya saing global.
"AITTA siap menjadi mitra strategis dalam membangun ekosistem pariwisata yang adaptif, inklusif, dan berkelanjutan, khususnya di daerah seperti NTB," tegasnya.
Audiensi ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk memperkuat kerja sama antara pemerintah dan asosiasi dalam merancang kebijakan yang berpihak pada pengembangan wisata berkualitas tinggi.