Mataram (ANTARA) -
Suara ukiran halus berpadu dengan aroma khas bahan campuran cat dan kayu memenuhi sebuah sudut sederhana di Cakranegara, Kota Mataram. Di sana, tangan Ni Nyoman Indira Chaitra Devi sibuk menorehkan sentuhan terakhir pada tapel yang tengah ia garap. Dari balik jemarinya, lahirlah topeng-topeng tradisional yang bukan hanya karya seni rupa, tetapi juga medium untuk merawat warisan budaya Bali.
Indira tidak lahir langsung sebagai pembuat tapel. Masa kecilnya lebih banyak diisi dengan seni tari, mengikuti kegiatan kesenian di lingkungan sekitar. Ia juga sempat kagum pada ogoh-ogoh yang selalu hadir meramaikan perayaan Nyepi. Namun, perasaan kagum itu tidak cukup untuk membuatnya menekuni dunia ogoh-ogoh. Justru rasa penasaran yang tumbuh saat melihat orang-orang membuat tapel ogoh-ogohlah yang kemudian mengubah arah langkah hidupnya.
“Awalnya hanya ingin mencoba, tapi lama-lama jatuh cinta. Setiap tapel itu unik, punya karakter, cerita, dan makna filosofisnya sendiri,” ujar Indira.
Perempuan yang terjun di bidang yang selama ini lebih banyak digeluti laki-laki itu tidak berjalan sendiri. Ia mendapat bimbingan dari seniman I Made Dwi Putrawan. Dari tangan sang guru, Indira belajar kesabaran, ketelitian, sekaligus filosofi di balik setiap guratan tapel.
Kerja kerasnya membuahkan hasil. Dua karya tapel yang ia beri judul Jro Guru Bangkol dan Dadong Dauh berhasil meraih apresiasi. Dalam lomba yang digelar STT Prajaniti Karang Sampalan, Cakranegara, tapel Jro Guru Bangkol meraih Juara 3, sementara Dadong Dauh masuk posisi Harapan 2. Bahkan, tapel Jro Guru Bangkol kembali menorehkan prestasi saat dilombakan secara virtual dalam ajang Bali Ne Rahayu dengan meraih Juara 1.
Prestasi itu kian terasa istimewa mengingat Indira baru sekitar dua tahun menekuni seni tapel. Baginya, penghargaan bukan sekadar pengakuan, melainkan energi untuk terus melangkah. “Saya ingin membuktikan bahwa perempuan juga bisa menekuni bidang ini dengan serius,” katanya penuh keyakinan.
Namun, jalan Indira tidak selalu mulus. Kehadiran seorang perempuan di ruang yang biasanya dikuasai laki-laki kerap dipandang sebelah mata. Ada yang meragukan, bahkan menyepelekan. Tetapi, Indira memilih mengubah keraguan itu menjadi motivasi. Baginya, seni tidak mengenal batas gender. “Seni itu ruang untuk mencipta, untuk melestarikan, dan untuk memberi makna pada kehidupan. Siapa saja bisa masuk, asalkan mau belajar dan tekun,” ujarnya.
Lebih dari sekadar berkarya, Indira kini juga aktif membagikan pengalamannya kepada anak-anak muda di sekitarnya. Ia ingin menularkan semangat agar warisan budaya ini tidak berhenti di generasinya. Tapel, baginya, bukan hanya wajah kayu yang dihias, melainkan wajah budaya itu sendiri—cermin nilai, spiritualitas, sekaligus identitas masyarakat Bali.
Di tengah derasnya arus modernisasi, sosok Ni Nyoman Indira Chaitra Devi menjadi pengingat bahwa tradisi selalu punya ruang untuk bertahan dan berkembang. Dari tangannya, lahirlah bukan hanya topeng, tetapi juga harapan bahwa budaya Bali akan terus hidup dalam denyut zaman yang berubah.
Editor:
Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026