Mataram (ANTARA) - Dalam sebuah upacara adat yang khidmat di hadapan Majelis Adat Sasak, Lalu Muhamad Iqbal Gubernur NTB menerima gelar "Manggala Bhumi", sebuah penganugerahan yang melampaui dimensi seremonial belaka. Gelar ini adalah legitimasi budaya tinggi dari Bangsa Sasak kepada putra daerahnya, sekaligus pengingat akan amanah besar untuk menjaga marwah Gumi Sasak dan memimpin NTB menuju kemakmuran dan keselamatan.

Manggala Bhumi menegaskan dalam pidatonya, gelar ini bukan kemewahan, melainkan pengingat amanah dan tanggung jawab sosial yang harus dipikul dengan sepenuh hati.

Soliditas Politik Bersejarah 

Pencapaian politik dalam Pilgub 2024 catatkan sejarah bagi Bangsa Sasak. Untuk pertama kalinya seluruh Kabupaten di Pulau Lombok dari utara hingga selatan, dari barat hingga timur memberikan dukungan solid kepada satu pasangan calon. Dari 1,2 juta suara yang diperoleh, termasuk kemenangan di semua kabupaten dan kota di Lombok menjadi bukti konsolidasi politik yang luar biasa.

Modal sosial besar ini adalah aset langka dalam lanskap perpolitikan Indonesia yang seringkali terfragmentasi. Namun, seperti yang disampaikan Miq Gub, soliditas ini hanya akan terjaga jika setiap individu rela mengesampingkan kepentingan pribadi demi kepentingan bersama, dan rela "move on" dengan memaafkan masa lalu. Ini bukan retorika kosong, melainkan prasyarat konkret agar energi kolektif tidak terbuang untuk konflik internal, tetapi tersalurkan penuh untuk membangun NTB.

Gelar "Manggala Bhumi" adalah simbol dari konsolidasi kultural, pengakuan bahwa kepemimpinan yang lahir dari rahim budaya Sasak kini memikul mandat untuk menyatukan seluruh elemen masyarakat NTB, lintas suku, agama dan golongan.

Tindih, Maliq, Merang

Mengapa Bangsa Sasak dipercaya lahir dan besar di Pulau Lombok yang gemah ripah? Menurut Miq Gub karena dibutuhkan karakter yang kompleks dan kuat untuk menjaga dan memelihara tanah ini. Karakter itu terangkum dalam tiga nilai filosofis Tindih, Maliq, dan Merang.

Tindih bermakna jujur, tulus, dan berintegritas tentang hati yang bersih dan kehati-hatian dalam bertindak. Dalam konteks kepemimpinan, ini berarti transparansi dan akuntabilitas dalam mengelola sumber daya daerah.

Maliq ialah kemampuan mengalir dalam tatanan aturan, norma, dan khususnya nilai agama. Orang Sasak sejati, menurut filosofi ini akan mengorbankan kepentingan pribadi demi kepentingan kolektif. "Orang Sasak tidak akan mengorbankan kepentingan kolektifnya untuk sesuap nasi," demikian ditekankan. Dalam kepemimpinan, Maliq menuntut keberanian untuk mengambil keputusan yang adil, meski seringkali tidak populer.

Merang ialah sikap rendah hati namun menolak untuk direndahkan, diam dan tenang namun bukan berarti tidak tahu, pemaaf namun berhitung. Merang mengajarkan prinsip dan keteguhan bahwa dalam karakter sejatinya, Bangsa Sasak akan bersama-sama menjaga apa yang mereka yakini benar, apapun risikonya.

Ketiga nilai ini bukan sekadar warisan leluhur, namun juga blueprint kepemimpinan yang visioner dan berbasis hati nurani. Meski berakar dari kearifan lokal Sasak, kepemimpinan berkarakter seperti ini hadir untuk seluruh elemen masyarakat NTB tanpa membedakan suku, agama, atau latar belakang. Sebab mandat "Menggale Bhumi" adalah mandat untuk menjamin kemakmuran bersama.

Musuh Kita adalah Kemiskinan 

Dalam pidatonya, Manggala Bhumi menggeser narasi dengan tegas "Musuh kita bersama hari ini bukan orang-orang di sekitar kita, apalagi saudara kita. Musuh kita hari ini adalah kemiskinan."

Pernyataan ini bukan hiperbola. Data menunjukkan NTB masih masuk dalam 12 provinsi termiskin di Indonesia. Terdapat 106 desa berstatus miskin ekstrem, hampir 700 ribu penduduk hidup dalam kemiskinan, dan lebih dari 100 ribu di antaranya berada dalam kategori miskin ekstrem. Angka-angka ini adalah medan juang yang sesungguhnya.

Gelar "Manggala Bhumi" dengan demikian menjadi mandat perang bukan perang saudara, melainkan perang melawan kemiskinan struktural yang telah lama menggerogoti martabat rakyat NTB.

Namun, gelar ini bukan hanya beban yang dipikul Gubernur sendirian. Penganugerahan oleh Majelis Adat Sasak mengandung makna ganda, di satu sisi, memberikan legitimasi, disisi lain menempatkan tanggung jawab pengawalan dan pengawasan kepada seluruh Bangsa Sasak.

Majelis Adat, para pengelinsir, dan segenap masyarakat Sasak yang memberikan gelar ini turut memikul amanah untuk memastikan kepemimpinan berjalan sesuai dengan nilai-nilai Tindih, Maliq, dan Merang secara adil, bijaksana, dan berorientasi pada kepentingan rakyat. Mereka adalah penjaga agar fokus pemerintahan tidak terganggu oleh intrik politik sempit, tetapi benar-benar terarah pada pembangunan dan pengentasan kemiskinan.

Ini adalah kontrak sosial kultural, pemimpin diberikan mandat dan gelar, masyarakat adat memberikan restu sekaligus tanggung jawab pengawasan. Dengan demikian, terciptalah sistem checks and balances yang berbasis pada kearifan lokal, bukan hanya mekanisme formal-birokratis.

Dari Gelar Menuju Aksi Nyata 

"Manggala Bhumi" bukan sekadar titel kehormatan yang dipajang. Ia adalah identitas kepemimpinan sebagai pengayom, penggerak, dan penjaga kemajuan NTB. Dalam konteks NTB saat ini, gelar ini adalah seruan untuk bergerak dari retorika menuju aksi nyata, dari solidaritas politik menuju konsolidasi pembangunan, dari kebanggaan kultural menuju kesejahteraan konkret.

Rakyat NTB berhak makmur. Untuk itu, mereka juga berhak mendapatkan suasana kondusif agar kepemimpinan yang ada dapat fokus sepenuhnya membangun dan mewujudkan kemakmuran. Di sinilah makna gelar "Manggala Bhumi" bukan sekadar gelar, tetapi mandat untuk menyatukan dan membangun dengan penuh integritas, pengorbanan, dan keteguhan. Seperti yang ditekankan Miq Gub, orang yang memiliki karakter Tindih, Maliq, dan Merang sudah seharusnya berjuang melawan kemiskinan, yakni musuh kita bersama.

*) Penulis adalah aktivis sosial di NTB


Pewarta : Pagah TrasneĀ *)
Editor : Abdul Hakim
Copyright © ANTARA 2026