Mataram (ANTARA) - Satria selalu menyukai senja. Bukan hanya karena warna langit yang berubah jingga dan terlihat estetik untuk difoto, tapi karena senja selalu memberinya rasa tenang.
Namun, ada satu hal lain yang akhirnya membuat senja menjadi lebih dari sekadar pemandangan sore. Seseorang yang pernah duduk di bawah langit jingga bersamanya.
Semua bermula di sebuah bukit kecil di pinggir kota. Sebuah tempat yang jarang dikunjungi orang. Bukit itu bukan tempat wisata yang viral di media sosial, hanya ada satu bangku kayu sederhana yang menghadap langsung ke matahari tenggelam. Namun, bagi Satria, tempat itu seperti halaman rahasia yang menyimpan banyak cerita.
Sore itu, untuk pertama kalinya ia melihat Lyfa.
Gadis sederhana dengan rambut hitam bergelombang yang tergerai lembut tertiup angin. Lyfa duduk sendirian di bangku kayu itu sambil menatap langit yang pelan-pelan berubah warna. Ada kesederhanaan pada dirinya yang terasa menenangkan.
Satria yang awalnya hanya ingin memotret senja, tiba-tiba malah terpaku pada sosok gadis itu. Ia bahkan lupa membuka kamera.
Dengan langkah hati-hati, ia mendekat. “Boleh duduk di sini?” tanyanya, suara pelan seperti takut mengganggu.
Lyfa menoleh. Senyumnya hangat, seperti senja yang merangkul siapa pun yang memandangnya. “Silakan…” jawabnya lembut.
Satria duduk dengan jarak yang sopan. Tapi anehnya, keheningan itu terasa nyaman.
Sejak pertemuan pertama itu, seolah semesta ikut berkonspirasi, mereka jadi sering bertemu di bukit kecil itu. Kadang tanpa janjian, kadang hanya kebetulan. Mereka menghabiskan waktu setelah pulang sekolah untuk melihat senja sambil bercerita tentang mimpi, masa depan, dan hal-hal kecil yang ternyata berarti.
Lyfa selalu terlihat ceria, ceritanya selalu penuh semangat, seakan ia memiliki dunia yang luas dalam pikirannya. Tapi Satria sering menangkap sesuatu di mata gadis itu. Ada kesedihan yang seolah disembunyikan di balik senyum manisnya.
Suatu sore, langit terlihat luar biasa cantik. Warna oranye bercampur merah muda dan ungu, seperti lukisan. Angin sore berhembus pelan. Satria merasa momen itu tepat.
Dengan gugup, ia membuka suara. “Lyf… menurut kamu, senja itu indah, kan?”
Lyfa mengangguk pelan. “Indah banget. Kayak… penutup hari yang lembut.”
Satria menarik napas dalam dan menyusun keberaniannya. “Tapi buat aku… senja tuh nggak akan seindah ini… kalau aku nggak lihat bareng kamu.”
Lyfa terdiam sesaat, kemudian menunduk sambil tersenyum malu. Pipi keduanya sama-sama memanas. Itulah pertama kalinya mereka mengakui bahwa ada perasaan spesial yang tumbuh di antara mereka.
Sejak malam itu, hubungan mereka semakin dekat. Bukan seperti pacaran resmi, tetapi seperti dua orang yang saling menjaga dengan cara yang sederhana dan tulus.
Hari-hari mereka dipenuhi tawa, obrolan panjang, dan janji-janji kecil di bawah cahaya senja. Hal-hal sepele seperti berbagi roti keju, saling tukar cerita nilai ulangan, atau sekadar duduk diam mendengarkan lagu favorit bersama, terasa begitu berarti.
Namun, kehidupan memang tidak selalu semanis senja.
Beberapa bulan kemudian, Lyfa mulai sering menahan sakit di perutnya. Awalnya ia pikir hanya sakit biasa. Tapi rasa sakit itu semakin sering muncul.
Setiap kali Satria bertanya, ia selalu menjawab, “Aku nggak apa-apa, kok,” sambil tersenyum. Padahal setelah itu, ia harus menahan sakit di kamar sendirian.
Suatu hari, Lyfa pingsan di rumah. Setelah pemeriksaan panjang, ia mendapat kabar yang meruntuhkan hatinya. Dokter mengatakan bahwa ia mengidap kanker dan sudah memasuki stadium akhir.
Dunia yang selama ini berwarna cerah baginya, tiba-tiba terasa gelap. Ia hanya menatap dinding putih kamar rumah sakit sambil memikirkan banyak hal. Termasuk Satria.
“Kalau aku jujur, Satria pasti sedih,” batinnya. “Aku nggak mau jadi beban.”
Sejak itu, Lyfa mulai menjaga jarak. Ia sering menolak ajakan Satria untuk bertemu dengan alasan sibuk belajar, ada tugas, atau harus bantu orang tua. Satria tentu merasa heran sekaligus terluka.
Suatu sore, Satria mengetik pesan panjang karena tak tahan lagi menahan rasa kecewa.
"Kenapa sih kamu selalu nolak aku akhir-akhir ini? Aku salah apa? Sesibuk itu ya sampai nggak ada waktu buat aku?”
Lyfa menatap pesan itu lama sekali. Air matanya jatuh, bukan karena marah, tapi karena ingin sekali menjelaskan semuanya. Namun ia tak sanggup. Dengan tangan bergetar, ia hanya membalas:
“Maaf, Sat…”
Satria membaca pesan singkat itu dengan hati yang makin tersayat. Ia merasa seperti tidak lagi berarti bagi Lyfa. Ia tidak tahu bahwa gadis itu sedang berjuang antara rasa sakit dan takut kehilangan dirinya di saat yang sama.
Takdir lalu memperlihatkan sesuatu yang membuat Satria salah paham.
Malam itu, ketika ia hendak membeli makanan di luar, Satria melihat Lyfa dibonceng oleh seorang laki-laki. Mata Satria langsung panas. Dadanya terasa sesak.
“Jadi… selama ini kamu selingkuh di belakang aku…” gumamnya lirih, dengan nada kecewa dan marah.
Ia mengikuti mereka dari jauh. Namun, semua rasa marah itu pelan-pelan hilang ketika motor yang membawa Lyfa berbelok ke arah rumah sakit. Satria berhenti jauh di belakang, menatap gerbang rumah sakit yang terang dengan wajah bingung.
“Kok ke sini…?”
Keesokan harinya di sekolah, Satria menoleh ke arah bangku Lyfa. Kosong. Tidak ada senyuman yang biasanya menyapa. Tidak ada suara lembutnya yang memanggil namanya. Hanya keheningan.
Saat istirahat, ia bertemu adik kelas yang kemarin membonceng Lyfa. Dengan ragu, Satria bertanya, “Kamu kemarin sama Lyfa, kan? Dia kenapa?”
Adik kelas itu menatap Satria dengan mata berkaca-kaca. “Kak… Kak Lyfa lagi dirawat di rumah sakit. Dia sakit kanker…”
Dunia Satria seperti berhenti berputar. Kata “kanker” saja sudah cukup membuat lututnya lemas. Ia tak bisa berpikir panjang. Tanpa menunggu lebih lama, ia langsung berlari ke rumah sakit.
Di ruang perawatan, Satria melihat Lyfa terbaring lemah. Wajahnya pucat, tubuhnya kurus, namun tetap terlihat damai. Satria mendekat, menahan air mata yang sudah menggenang.
“Lyf…” panggilnya lirih, sambil menggenggam tangan Lyfa yang terasa dingin.
Lyfa membuka mata perlahan. Senyum kecil muncul di wajahnya. “Sat… kamu datang… maaf aku… bikin kamu salah paham…"
Satria menunduk, air matanya jatuh. “Aku yang minta maaf… Aku salah sangka. Aku harusnya percaya sama kamu.”
Lyfa menatap langit-langit sebentar lalu ke arah Satria. “Terima kasih ya… udah selalu ada. Meski aku nggak bisa terusin…”
Kata-kata itu seperti angin dingin yang menusuk hati. Detik setelah Lyfa mengucapkannya, senyum itu perlahan hilang. Matanya terpejam dan nafasnya berhenti begitu lembut, seperti senja yang perlahan tenggelam tanpa suara.
Satria terdiam. Dunia serasa runtuh. Tapi di balik rasa sakit itu, ia melihat wajah Lyfa yang begitu tenang.
Beberapa hari setelah pemakaman, Satria kembali ke bukit senja. Ia duduk di bangku kayu tempat mereka biasanya duduk. Matahari pelan-pelan turun, membiaskan warna jingga ke seluruh langit. Persis seperti dulu. Namun kali ini, senja terasa berbeda. Sunyi. Tidak ada Lyfa yang duduk di sampingnya.
Satria menatap langit, memejamkan mata, dan berbisik dalam hati.
“Terima kasih, Lyfa… kamu udah ngajarin arti ketulusan, kesetiaan, dan bahwa kebersamaan itu cahaya paling indah dalam hidup. Kamu memang senja terindah yang pernah singgah.”
Senja hari itu menjadi senja terakhir yang ia lihat bersama kenangan Lyfa. Namun, bukan akhir dari segalanya. Dari Lyfa, ia belajar bahwa cinta bukan soal memiliki, tapi tentang menghargai setiap momen, bersyukur atas kebersamaan, dan selalu percaya pada hati seseorang yang kita sayangi.
Dan sejak hari itu, Satria selalu percaya bahwa setiap senja bukanlah tanda berakhirnya sesuatu, melainkan pengingat bahwa semua yang indah pernah ada dan akan selalu tinggal dalam doa.
*) Penulis adalah siswi kelas IX MTs di salah satu pondok pesantren di Jombang, Jawa Timur
Catatan redaksi :
Senja Terakhir adalah kisah cinta remaja yang lembut dan penuh emosi, menyoroti keindahan kebersamaan sekaligus pahitnya kehilangan. Cerita ini mengajak pembaca merenungkan ketulusan, kesetiaan, dan arti menghargai setiap momen dalam hidup.
Editor:
Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026