Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia menemukan puluhan individu dugong dan terumbu karang purba di perairan Kepulauan Romang dan Damer, Maluku Barat Daya.
Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP Koswara di Jakarta, Kamis, mengatakan temuan itu melalui ekspedisi Romang Damer 2025, yang mana KKP didukung WWF Indonesia berhasil mendokumentasikan lebih dari 30 individu dugong.
Selain itu KKP bersama WWF Indonesia mencatat kemunculan paus orca serta mengidentifikasi melalui fotogrametri adanya struktur terumbu karang yang diperkirakan telah berumur ratusan tahun.
"Temuan ini tentunya memiliki nilai ilmiah yang sangat tinggi dan menegaskan pentingnya Romang Damer sebagai kawasan dengan fungsi ekologis yang sangat strategis," kata Koswara dalam gelar wicara Bincang Bahari bertajuk 'Permata Tersembunyi Indonesia Timur: Romang-Damer dan Masa Depan Konservasi Laut'.
Ia menuturkan Kepulauan Romang dan Damer kerap disebut sebagai the forgotten island, wilayah dengan kekayaan biodiversitas tinggi dan fungsi ekologis penting, namun selama ini masih relatif kurang mendapatkan perhatian luas.
"Padahal di kawasan tersebut memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan ekosistem laut sekaligus juga menopang kehidupan masyarakat pesisir," ujar Koswara.
Padahal kawasan tersebut memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan ekosistem laut sekaligus menopang kehidupan masyarakat pesisir yang bergantung pada sumber daya perikanan dan kesehatan lingkungan perairan setempat.
Sebagai bentuk komitmen pemerintah, kawasan perairan Romang dan Damer telah ditetapkan menjadi kawasan konservasi melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 4 dan Nomor 6 Tahun 2022
Kementerian Kelautan dan Perikanan terus mendorong pengelolaan kawasan konservasi perairan berbasis ilmu pengetahuan, melibatkan masyarakat sebagai aktor utama, sekaligus memastikan manfaat nyata bagi keberlanjutan sumber daya dan ekonomi lokal.
Upaya tersebut sejalan dengan kebijakan ekonomi biru yang menekankan keseimbangan antara perlindungan lingkungan, pemanfaatan sumber daya berkelanjutan, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir di berbagai wilayah Indonesia. Ke depan, sinergi pemerintah pusat dan daerah, mitra pembangunan, akademisi, serta masyarakat lokal menjadi kunci memastikan kawasan konservasi memberi manfaat ekologis sekaligus sosial ekonomi berkelanjutan bagi generasi mendatang.
Sementara itu, Senior Project Manager Yayasan WWF Indonesia Hafizh Adyas menjelaskan ekspedisi Romang Damer 2025 dilakukan untuk mengonfirmasi dan mengumpulkan data terbaru mengenai kekayaan hayati laut di kawasan tersebut setelah lebih dari satu dekade tidak dilakukan penelitian menyeluruh.
Ekspedisi berlangsung lebih dari satu bulan dengan melibatkan dua tim yang bekerja secara terpisah di darat dan laut. Penelitian difokuskan pada survei sosial ekonomi masyarakat serta kajian ekologis kawasan perairan.
Kajian ekologis menyoroti tiga ekosistem utama, yakni terumbu karang, lamun, dan mangrove. Ketiga ekosistem tersebut dinilai menjadi indikator penting dalam menilai kesehatan lingkungan laut di Kepulauan Romang dan Damer.
Hasil penelitian menunjukkan rata-rata tutupan karang hidup berada pada kisaran 39 hingga 51 persen, yang menandakan kondisi ekosistem tergolong baik. Tim juga mengidentifikasi sejumlah struktur karang purba yang diperkirakan berumur 100 hingga 200 tahun.
Baca juga: Menteri KP memastikan stok ikan aman hadapi Ramadhan-Lebaran 2026
"Hasil analisis kami menemukan beberapa karang yang purba gitu. Purba itu usianya udah 100-200 tahun. Jadi karang itu kan koloni yang tumbuh dia. Jadi kalau karang sebesar itu, itu bisa kita duga usianya sudah lebih dari antara 100 sampai 200 tahun," kata Hafizh.
Pada ekosistem lamun, tim menemukan kondisi yang juga sangat baik dengan tingkat kerapatan mencapai sekitar 57 persen. WWF Indonesia mencatat keberadaan sembilan jenis lamun, termasuk spesies unik yang memiliki ketahanan lebih baik terhadap perubahan suhu.
Baca juga: Tambak udang asing di Lombok disegel KKP, 10 tahun beroperasi tanpa izin
Selain itu, untuk mangrove pihaknya menemukan sedikitnya 43 spesies dengan struktur ekosistem yang masih lengkap dan regenerasi alami yang berjalan optimal. Selain ekosistem, ekspedisi juga mencatat lebih dari 200 spesies yang tergolong terancam, rentan, atau dilindungi. Tim menemukan lebih dari 30 individu dugong serta kemunculan paus orca yang menjadi indikator penting kesehatan ekosistem laut.