Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI ingin mempelajari tata kelola taman nasional dan pariwisata berkelanjutan di Afrika Selatan.

"Kita tahu Afrika luar biasa dengan taman nasionalnya. Meskipun baru kebanjiran, tenggelam habis kata (Menteri Pariwisata Afrika Selatan), tapi yang kita salut adalah bagaimana mereka bisa mengedukasi masyarakat, pelaku usaha, dan wisatawan," kata Deputi Sumber Daya dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata RI Martini M. Paham saat ditemui ANTARA di Jakarta pada Kamis.

Martini mengemukakan tingginya kepedulian pengelola taman nasional di Afrika Selatan, seperti Taman Nasional Kruger, terhadap keberlanjutan dan pelestarian alam. Menurut dia, kepedulian itu antara lain tampak dari pemberian penjelasan terperinci kepada para pengunjung mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama berada di taman nasional.

"Jadi mereka yakin bahwa ini ujungnya adalah masalah orang, kalau tidak siap, ini harus diedukasi," kata Martini.

"Sebenarnya kita dibuat tidak ada pilihan, jadi kalau kamu mau, kamu bayar (untuk masuk taman nasional), itu cara mereka menyaring high quality tourist," ia menambahkan.

Ia mengemukakan bahwa regulasi tentang pengelolaan taman nasional di Afrika Selatan tidak hanya terpaku pada pengunjung, tetapi juga pada alam sekitarnya. Martini menuturkan bahwa dalam pertemuan bilateral pada Kamis, Menteri Pariwisata Afrika Selatan Patricia De Lille terkejut ketika mengetahui warga diperbolehkan menyedot air tanah di Indonesia.

Baca juga: Raja Charles III komitmen bantu perbaiki 57 taman nasional Indonesia

"Mereka prinsipnya adalah bagaimana dapat bertahan hidup tanpa bantuan orang. Jadi masyarakatnya diajarkan sendiri bagaimana mereka bisa bertahan, dan hal-hal kecil itu saya lihat pemerintahnya itu betul-betul mengambil peran dan betul-betul dijalankan oleh masyarakatnya," kata dia.

Selain mempelajari tata kelola taman nasional secara berkelanjutan, ia mengatakan, Kemenpar RI ingin mempelajari strategi digitalisasi dalam usaha pariwisata di Afrika Selatan.

Baca juga: Pemerintah merelokasi warga bermukim di TN Tesso Nilo

"Tapi pastinya digitalisasi, Indonesia pun harus belajar dari mereka, karena mereka cepat sekali mengadopsi digitalisasi begitu," katanya.

"Kita memang sudah mengadopsi digitalisasi tidak hanya dari sisi All Indonesia dan MaiA, tapi juga di pintu untuk business of travel itu di gerbang bandara," ia menambahkan.

Martini menyampaikan bahwa pemerintah Afrika Selatan juga ingin belajar dari pemerintah Indonesia, antara lain dalam pengelolaan pelayanan pariwisata, pembangunan pariwisata dan wisata halal, serta layanan pertemuan, insentif, konferensi, dan pameran (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition/MICE).

 

 

 



Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026